Menteri Sosial Risma Menceritakan Ada Usul Tersambar Petir Termasuk Bencana Alam

Menteri Sosial Risma Menceritakan Ada Usul Tersambar Petir Termasuk Bencana Alam

Tri Rismaharini atau yang akrab disapa dengan Risma selaku Menteri Sosial mengajukan bahwa cuaca ekstrem masuk sebagai kategori bencana alam.

Hal tersebut ia sampaikan dalam rapat membahas DIM RUU penanggulangan Bencana bersama Komisi VIII DPR RI dan juga Komite II DPD RI di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan pada hari Selasa, 5 Oktober 2021 kemarin.

Menteri Sosial Risma Menceritakan Ada Usul Tersambar Petir Termasuk Bencana Alam

Uniknya, ada yang mengusulkan kepada dirinya bahwa jika ada orang yang tersambar petir atau gledek masuk dalam kategori terkena musibah bencana alam.

“Pada pasal 29 tercantum jenis bencana yang sebelumnya tidak ada cuaca ekstrem karena kami khawatir seperti puting beliung, itu belum masuk. Kemudian kemarin ada yang mengajukan ke kami kena samber geledek belum masuk. Karena itu kemudian kami mengajukan cuaca ekstrem dan bencana alam lainnya itu kami masukkan,” kata Risma.

Kemudian, kegagalan konstruksi skala besar dan kebakaran hutan dan lahan, Politikus PDIP itu mengusulkan masuk pada pasal 30 kategori bencana non alam. Kalimat wabah dalam bencana non alam ia coret karena menurutnya sudah termasuk kategori pandemi.

“Yang bencana non alam pada pasal 30 kami mencoret wabah, kalau di pengertian bahasa Indonesia bahwa wabah itu termasuk pandemi, jadi kami mencoret wabah, namun kami memasukkan kegagalan konstruksi skala besar, misalkan ada jebolnya bendungan,” tutur Risma.

Baca Juga⇓⇓⇓

Tak Ada Peringatan Dini Tsunami Saat Gempa Bumi 7,2 M Guncang Vanuatu

“Itu kami masukkan di dalam bencana, kemudian berikutnya kebakaran hutan dan lahan itu kami masukkan ke non alam kebakaran hutan dan lahan jadi satu,” lanjutnya.

Mengapa Petir Sering Terjadi Pada Musim Penghujan?

Mengapa Petir Sering Terjadi Pada Musim Penghujan?

Tak terasa sudah masuk musim penghujan akhir-akhir ini. Namun, kondisi cuaca yang terjadi seringkali dipengaruhi oleh berbagai faktor alam yang tidak sedikit sehingga menyebabkan fenomenaseperti hujan ekstrem yang disertai dengan badai, petir, dan juga angin kencang.

Salah satu bentuk gangguan cuaca yang terkadang bisa terjadi akibat dari dampak cuaca yang sangat ekstrem adalah badai petir.

Badai ini biasanya berlangsung singkat dan hampir selalu dikaitkan dengan petir, guntur, awan tebal, hujan yang lebat hingga hujan es, dan angin kencang. Lantas, mengapa badai petir sering terjadi pada musim penghujan?

Ketika ada lapisan udara hangat yang lembab dan naik dalam arus besar yang deras ke daerah atmosfer yang lebih dingin, maka badai petir ini akan terjadi. Presitipasi terjadi ketika ada kandungan yang mengembun dan membentuk awan kumulonimbus yang menjulang tinggi. Selanjutnya, udara dingin akan jatuh ke bumi dan menghantam tanah dengan aliran angin horizontal yang kuat. Kemudian pada saat yang sama muatan listrik terakumulasi dengan partikel awan yaitu tetesan air dan es. Tahukah Anda bahwa petir memanaskan udara yang melaluinya dengan sangat kuat dan cepat hingga memunculkan gelombang kejut yang terdengar seperti tepukan tangan dan gulungan guntur.

bahwa pelepasan petir sebenarnya terjadi ketika ada akumulasi muatan listrik yang besar. Ketika ada badai petir, maka biasanya akan ada tornado, hal tersebut akan terjadi jika badai tersebut terjadi cukup ekstrem dan disertai dengan adanya pusaran udara yang berputar-putar dengan konsentrasi yang kuat. Badai petir diketahui terjadi di hampir setiap wilayah di dunia, meskipun jarang terjadi di wilayah kutub dan jarang terjadi pada garis lintang yang lebih tinggi dari 50° LU dan 50° LS. Oleh karena itu, daerah beriklim sedang dan tropis di dunia adalah yang paling sering muncul badai petir.

Formasi dan struktur badai petir yaitu berupa gerakan atmosfer vertikal, gangguan yang paling sebentar tapi sangat hebat yang melibatkan area udara yang naik dan turun. Badai petir memang tidak stabil dengan gerakan vertikal. Setiap kali mulai hangat, maka hal tersebut akan muncul dikarenakan udara ringan ditimpa oleh udara yang lebih dingin dan berat. Hingga udara yang lebih dingin cenderung tenggelam dan memindahkan udara yang hangat keatas.