Penyebab Banjir dan Dampaknya Bagi Lingkungan & Makhluk Hidup

Penyebab Banjir dan Dampaknya Bagi Lingkungan & Makhluk Hidup

Banjir merupakan salah satu bencana alam yang terjadi karena banyak faktor, diantaranya ialah aliran air yang tersumbat hingga volume air yang berlebihan sampai meluap keluar, curah hujan yang tinggi, dan juga faktor karena ulah manusia.

Penyebab Banjir dan Dampaknya Bagi Lingkungan & Makhluk Hidup

Berikut merupakan berbagai macam faktor penyebab terjadinya banjir yang disebabkan akibat keadaan alam dan ulah manusia. Simak penjelasannya.

1. Penebangan Hutan

Lahan tahan yang ditumbuhi oleh banyak pepohonan dan tanaman lainnya memiliki sejuta fungsi salah satunya untuk penyerapan air yang baik. Namun sayangnya, masih banyak orang yang belum mengerti bahkan suka menganggapnya sebagi hal yang sepele dengan menebang pohon sembarangan dan sesuka hati. Tidak menanam pohon kembali jika sudah menebangnya.

Padahal penebangan pohon atau hutan secara sembarangan dan liar dapat menyebabkan berbagai bencana alam seperti longsor dan banjir bandang. Jadi ada baiknya, kita sebagai manusia secara bersama-sama menjaga kelestarian hutan dan pepohonan di sekitar tempat tinggal kita berada.

2. Pemanfaatan Lahan yang Berlebihan

Ada banyak alasan mengapa banyak orang dengan sesuka hati memanfaatkan lahan kosong sebagai tempat untuk pembangunan. Misalnya untuk membangun sebuah pabrik, mendirikan beberapa bangunan tanpa adanya resapan air, dan lain sebaginya.

Parahnya, dengan pemanfaatan lahan kosong dengan keegoisan semata dan secara sepihak sehingga seolah-olah tidak terlalu perduli dan merasa seakan tidak terjadi apa-apa. Bahkan yang sangat disayangkan, banyak orang yang melakukan kegiatan terlarang dengan melakukan pembakaran hutan agar setelahnya lahan tersebut bisa dipergunakan semena-mena.

Pembakaran hutan akan membuat tanah menjadi tidak subur dan tidak mampu lagi untuk mempertahankan pertumbuhan vegetatif. Nah, kalau sudah begini artinya banyak air yang mudah meluap dari tanah karena tanah sudah tidak bisa tumbuh pepohonan lagi.

3. Efek Rumah Kaca

Lagi-lagi keegoisan manusia yang membawa dampak buruk bagi lingkungan hidup, seperti kebiasaan membakar sampah sembarangan, polusi udara yang diakibatkan oleh asap kendaraan, asap pembuangan pabrik, asap rokok dan masih banyak lagi lainnya yang bisa membuat lapisan ozon semakin menipis sehingga perubahan cuaca dan iklim terus berubah tiap harinya.

Akibat yang dirasakan ialah:
– Suhu bumi yang seharusnya berada pada sekitar 18 derajat Celsius, kini meningkat sangat drastis hingga 34 derajat Celsius.
– Kenaikan karbondioksida yang juga meningkat.
– Terjadinya pemanasan global di seluruh dunia.
– Perubahan iklim dan cuaca yang ekstrem dan tak menentu.
– Suhu dan ketinggian permukaan laut menjadi naik.

4. Membuang Sampah Sembarangan

Mengapa membuang sampah sembarangan bisa menyebabkan terjadinya bencana banjir? Karena tindakan manusia yang tak perduli dan masa bodo ini membuat aliran air sungai atau selokan menjadi tersumbat. Sehingga ketika curah hujan yang tinggi datang, kemungkinan besar akan berpotensi meluapkan air sungai sehingga dapat menyebabkan banjir ke daratan.

Kalau sudah seperti ini, siapa yang mau disalahkan?

5. Membangun Pemukiman Di Sepanjang Kali

Ini juga merupakan ulah dari manusia yang dapat menyebabkan terjadinya banjir. Dengan banyaknya pemukiman yang berdiri di sekitar bantaran sungai atau kali, bukan hanya membuat aliran air menjadi sempit melainkan juga berpotensi terjadinya tanah longsor. Di karenakan tanah di sekitar bantaran sungai atau kali tersebut tak kuat menahan beban bangunan yang didirikan oleh manusia.

6. Curah Hujan yang Tinggi

Curah hujan yang tinggi ini karena faktor alam yang tidak dapat kita hindari. Curah hujan yang sangat tinggi dan berlangsung sangat lama dapat menyebabkan sungai penuh dan meluap. Daya kapasitas tampung air yang biasanya cukup untuk untuk menampung air sudah melebihi kapasitasnya, dan inilah yang bisa menyebabkan terjadinya bencana banjir.

7. Kurangnya Wilayah Drainase

Insfrastruktur di kota-kota besar yang paling penting ialah kawasan drainase yang berguna untuk mencegah terjadinya banjir. Namun pada kenyataannya, banyak kawasan drainase yang berubah fungsi tanpa memperhatikan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).

Seharusnya daerah hutan atau rawa-rawa yang berfungsi untuk menyimpan luapan air dalam jumlah yang sangat besar, sekrang telah berubah fungsi menjadi bangunan-bangunan megah yang menjulang tinggi dan daerah pemukiman penduduk. Dalam hal ini, pemerintah dan pihak yang terkait seharusnya perlu menyeimbangkan kawasan kota dan drainase untuk mencegah terjadinya hal-hal buruk terjadi.

Dampak Terjadinya Banjir

Dampak Terjadinya Banjir

Baca juga: Apa itu Tanah Longsor dan Bagaimana Proses Terjadinya?

Dampak Primer

Bencana banjir banyak membawa kerugian untuk manusia seperti kehilangan harta benda sampai yang paling parah ialah kehilangan korban jiwa akibat bencana ini. Bukan hanya manusia saja yang terdampak, melainkan juga lingkungan sekitar juga pasti akan terkena dampaknya seperti kerusakan pepohonan, bangunan-bangunan tinggi, robohnya jembatan, rusaknya jalan raya, bangunan perumahan, sitem selokan dan juga kanal dan lain sebagainya.

Dampak Sekunder

Jika sudah terjadinya bencana banjir di suatu wilayah, akan menimbulkan dampak lain seperti masalah kesehatan yang disebabkan akibat dari air kotor, wabah penyakit mulai melanda manusia mulai dari yang usia lansia hingga anak-anak.

Sementara itu, untuk lahan pertanian juga pasti akan terdampak dan membawa kerugian tersendiri seperti gagal panen karena lahan yang seharusnya dipakai untuk panen rusak dan terendam akibat banjir.

Dampak Tersier

Dampak yang kemudian akan terjadi ialah kesulitan ekonomi yang dikarenakan menurunnya pengunjung lokasi wisata serta pengeluaran yang besar karena adanya biaya pembangunan dan juga perbaikan yang rusak. Selain itu, kelangkaan barang-barang juga menyebabkan terjadinya kenaikan suatu harga dari barang tersebut.

Apa Benar Tsunami Aceh 2004 Akibat Ulah Nuklir?

Apa Benar Tsunami Aceh 2004 Akibat Ulah Nuklir?

Peristiwa tsunami Aceh yang sangat dahsyat pada tahun 2004 silam telah meluluhlantahkan hampir seluruh wilayah di Aceh. Banyak dari sebagian pihak yang mengaitkan peristiwa itu akibat dari adanya rekayasa senjata thermonuklir yang berasal dari negara adikuasa dengan tujuan tertentu.

Apa Benar Tsunami Aceh 2004 Akibat Ulah Nuklir?

Menurut Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), mengungkapkan bahwa dirinya membantah jika tsunami Aceh ada kaitannya dengan senjata thermonuklir. Dia juga menegaskan bahwa tsunami raksasa tersebut menelan banyak korban jiwa itu dipicu oleh gempa tektonik.

Baca juga: Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa fakta tentang fenomena tsunami di Aceh.

6  Fakta-fakta Mengenai Tsunami Aceh tahun 2004

6  Fakta-fakta Mengenai Tsunami Aceh tahun 2004

1. Adanya Fase Gelombang Badan

Daryono menyebutkan bahwa data rekaman getaran tanah seismogram yang menunjukkan adanya rekaman gelombang badan (body) berupa gelombang P (Pressure) yang tercatat di data tiba lebih awal jika dibandingkan dengan gelombang S (Shear) yang datang pada berikutnya, yang selanjutnya diikuti oleh gelombang permukaan (surface).

“Munculnya fase-fase gelombang badan ini menjadi bukti yang kuat bahwa gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh diakibatkan oleh adanya aktivitas tektonik, bukan karena ledakan nuklir,” ujar Daryono.

2. Patahan Batuan

Daryono juga mengatakan deformasi yang terjadi di Smaudera Hindia yang terletak di sebelah barat Aceh sebelum terjadinya tsunami. Hal itu tampak dari munculnya gelombang S (Shear) yang kuat pada seismogram. Hal itu menunjukkan adanya proses pergeseran (shearing) yangterjadi secara tiba-tiba pada kerak bumi akibat terjadinya patahan batuan di dalam proses gempa tektonik, bukan karena akibat dari ledakan nuklir.

3. Gempa Tektonik

Deformasi dasar laut di Samudera Hindia sebelah barat Aceh yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 adalah gempa tektonik. Hal itu dibuktikan dengan adanya vriasi bentuk awal gelombang P berupa gerakan kompresi (naik) dan dilatasi (turun) pada seismogram yang tercatat di stasiun-stasiun seismik BMKG.

Jika memang sumbernya berasal dari ledakan nuklir, maka semua catatan seismogram di berbagai stasiun seismik harusnya diawali dengan gerakan naik (kompresi) pada gelombang P (Pressure) tersebut.

4. Berproses Sejak Tahun 2002

Gempa tektonik yang memicu terjadinya tsunami Aceh tidak terjadi secara tiba-tiba., melainkan melalui proses terjadinya gempa pembuka (foreshocks) yang sudah muncul sejak Gempa Simeulue berkekuatan magnitudo 7,0 yang terjadi tepat pada tanggal 2 November 2002.

Sejak itu, terjadilah serangkaian gempa-gempa kecil yang terus-menerus terjadi. Ini merupakan gempa pendahuluan hingga pada puncaknya terjadi gempa berkekuatan magnitudo 9,2 pada tanggal 26 Desember 2004 tepatnya pada pukul 08.58.53 WIB.

Peristiwa gempa pendahuluan yang sudah terjadi sejak 2 tahun sebelumnya merupakan bukti kuat bahwa gempa di Aceh yang terjadi pada tahun 2004 bukan terjadi karena ledakan nuklir. Akan tetapi gempa tektonik dengan tipe gempa pendahuluan (foreshocks), kemudian terjadi gempa utama (mainshock), dan akhirnya terjadinya gempa susulan (aftershock).

5. Membentuk Jalur Rekahan

Daryono juga menyebutkan bahwa gempa Aceh di tahun 2004, membentuk jalur rekahan (rupture) di sepanjang zona subduksi (line source), yang terbentang dari sebelah barat Aceh di selatan hingga Kepulauan Andaman-Nicobar di utaradengan panjang sekitar 1.500 Km.

Kondisi itulah yang menjadikan bukti bahwa rekahan gempa tektonik terjadi di segmen megatrust Aceh-Andaman. Rekahan panjang tersebut yang terbentuk di sepanjang jalur subduksi lempeng itu merupakan bukti dari deformasi dasar laut yang terjadi dan bukan disebabkan oleh ledakan nuklir.

“Jika memang terjadi karena ledakan nuklir maka deformasi yang akan terbentuk secara terpusat di satu titik (point source) dan bukan bukan berupa jalur (line source),” jelasnya.

6. Gempa Susulan Terjadi Sangat Banyak

Daryono kembali menegaskan bukti bahwa guncangan dahsyat yang dihasilkan di Aceh tahun 2004 dipicu karena gempa tektonik merupakan munculnya serangkaian gempa susulanyang sangat banyak di sepanjang jalur Megathrust Andaman-Nicobar pasca gempa utama terjadi.

Filipina dilanda Bencana Topan Conson, Sejumlah Bangunan Rusak Parah

Filipina dilanda Bencana Topan Conson, Sejumlah Bangunan Rusak Parah

Tepatnya pada hari Selasa tanggal 7 September 2021, badai yang sangat kuat menghantam sejumlah wilayah di Filipina Timur. Aangin yang berkekuatan sangat besar tersebut menghantam beberapa bangunan hingga usak parah dan menyebabkan pemadaman listrik di sebagian provinsi tersebut.

Filipina dilanda Bencana Topan Conson, Sejumlah Bangunan Rusak Parah

Angin topan itu bernama Topan Conson yang membawa angin berkecapatan hingga 120 kilometer per jam dengan hembusan anginnya mencapai 150 kilometer per jam. Diketahui angin topan tersebut mendarat pertama kali di daerah kota pesisir Hernani yang mmerupakan provinsi Samar Timur. Sebelumnya menghantam provinsi Samar dekat wilayahnya pada Selasa pagi menurut dinas layanan cuaca negara itu. Hingga Rabu pagi, arah mata angin topan itu berada di sekitar kota Dimasalang, provinsi Masbate.

Baca artikel lainnya: Apa itu Tanah Longsor dan Bagaimana Proses Terjadinya?

Filipina Merupakan Salah Satu Negara di Dunia yang Rawan Terjadi Bencana Alam

Filipina Merupakan Salah Satu Negara di Dunia yang Rawan Terjadinya Bencana Alam

“Terima kasih Tuhan Sang Maha Baik, kami di sini hanya mengalami kerusakan kecil,” kata Ben Evardone Gubernur Samar Timur. Ia juga menambahkan bahwa seluruh kantor-kantor pemerintahan ditutup untuk sementara waktu, mengingat bencana alam angin topan Conson masih dapat terjadi di sejumlah wilayah di Filipina.

Pengelola listrik negara Filipina, National Grid Corporation of the Phipippines (NGCP) menyebutkan bahwa sebagian jalur transmisi listrik terdampak angin topan tersebut. Dilaporkan untuk pemadaman listrik terjadi di beberapa wilayah seperti Samar, Samar Timur dan Leyte. Beberapa pejabat setempat juga melaporkan telah terjadinya banjir di sejumlah titik di Kota Tacloban.

Dinas Layanan Cuaca Filipina memeperingatkan bahwa kemungkinan datangnya angin topan tersebut yang merusak dan hujan lebat dalam waktu kurang dari 18 jam di beberapa wilayah di 7 provinsi, termasuk Quezon, Masbate, Albay dan Samar, yang berada di bawah peringatan topan tingkat tiga dari skala sistem lima tingkat. Di wilayah pusat ibu kota Filipina, yakni Manila berada di bawah peringatan topan tingkat satu. Artinya angin topan yang berkekuatan kencang tersebut diperkirakan akan terjadi dalam 36 jam ke depan. Angin Topan Conson diperkirakan akan melemah menjadi badai siklus tropis pada hari Rabu dan Kamis pagi waktu setempat.

Selain 20 topan dan badai melanda Filipina untuk setiap tahunnya, hujan lebat musiman pun sering terjadi di negara ini. Dikarenakan negara Filipina merupakan wilayah yang terletak pada “Cincin Api Pasifik“, gempa bumi, tsunami dan gunung meletus menjadikannya salah satu negara di dunia yang paling rawan terdampak bencana alam.