Akankah Ibukota Akan Tenggelam di Tahun 2030?

Penurunan Muka Tanah di Pesisir Jakarta

Permukaan tanah Jakarta turun 6 cm setiap tahunnya. Menurut salah seorang warga yang bernama Sarwana (48), ia merupakan seorang penjual warung nasi. Setiap hari di jam 5 pagi ia selalu bergegas untuk menyiapkan dan membuka warung nasinya itu. Sambil measak juga, ia menyiapkan segala jenis gelas-gelas untuk air teh. Biasanya pelanggan setia warungnya itu ialah sebagian pekerja proyek tanggul di Kawasan Gedung Pompa, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara.

“Selain pekerja proyek, ada juga nelayan yang ingin pergi melaut mampir dahulu ke tempat warung nasinya untuk makan disana,” ujar Sarwana ketika bercerita ke media massa terpercaya.Akankah Ibukota Akan Tenggelam di Tahun 2030

Sarwana merupakan salah satu dari sekian banyak warga yang sudah sejak kecil tinggal di daerah Muara Baru. Ia betul-betul sangat merasakan bagaimana kondisi di kawasan pesisir ibu kota tersebut jika dibandingkan 30 tahun yang lalu dan hari ini. Katanya, waktu ia masih kecil, air laut di daerah tempat tinggalnya tidak setinggi seperti sekarang. Bahkan dasar laut masih terlihat dengan mata kepala sendiri.

“Jika bidabndingkan dulu dan sekarang, sudah banyak terjadi perubahan. Kalau sekarang, terasa sekali airnya tinggi, dalam, tanah ini makin lama makin turun. Untuk ada tanggul yang bisa jadi penghalang,” ceritanya.

Tanggul-tanggul yang dipasang di Muara Baru baru saja di pasang sekitar lima tahun yang lalu. Tujuan dipasangnya tanggul-tanggul tersebut ialah untuk mencegah air laut yang semakin tinggi masuk ke daerah pemukiman warga. “Kalau dulu, kalau air naik langsung banjir semuanya, apalagi kalau tanggulnya jebol. Tapi sekarang sudah ada tanggul, paling cuma rembesan saja airnya,” lanjut Sarwana.

Sebenarnya tanggul-tanggul di daerah Muara Baru memiliki ketiggian sekitar 4 meter. Tanggul itu pernah jebol di tahun 2019. Untuk kegiatan setiap harinya, banyak warga setempat yang beraktivitas di daerah sekitaran tanggul. Biasa dipakai untuk memancing, menjaring ikan, mencuci baju, menjual makanan, hingga menjadi tempat bermain bagi anak-anak.

Baca artikel lainnya: Apa Benar Tsunami Aceh 2004 Akibat Ulah Nuklir?

Penurunan Muka Tanah di Pesisir Jakarta

Penurunan Muka Tanah di Pesisir Jakarta

Bahaya dan ancaman Jakarta yang akan tenggelam di tahun 2030 terus menjadi perbincangan banyak kalangan, terutama setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan bahwa potensi Jakarta akan tenggelam beberapa waktu lalu.

Sebenarnya, prediksi Jakarta akan tenggelam sudah berpuluh-puluh tahun diperbincangkan. Sejumlah penelitian juga menyebut bahwa permukaan tanah di Jakarta terus mengalami penurunan setiap tahunnya, terutama di daerah pesisir Jakarta. Bahkan Dinas Sumber Air DKI Jakarta telah mencatat bahwa sejak tahun 2007 sampai dengan 2016, penurunan tanah di Jakarta terjadi hingga satu meter.

Yusmada Faizal, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta juga mengatakan, kawasan Muara Baru tersebut telah berada di bawah permukaan laut dan terus mengalami penurunan muka tanah. Pada tahun 2050, Muara Baru bisa berada 4,6 meter di bawah permukaan laut apabila tidak dilakukan pencegahan sejak dini.

Selain Muara Baru, adapun tujuh wilayah pesisir Jakarta lainnya yang juga terancam tenggelam karena di bawah permukaan air. Wilayah itu antara lain Pluit diperkirakan mencapai 4,35 meter di bawah permukaan air laut, Kamal Muara 3 meter, Gunung Sahari 2,90 meter, Tanjungan 2,10 meter, Ancol 1,70 meter, Marunda 1,3 meter, dan terakhir di Cilincing yaitu 1 meter.

Menurut Yasmada, Pemda DKI Jakarta mengawali pengendalian banjir rob di bagian utara Jakarta dengan penataan tanah timbul yang ada di sepanjang pesisir pantai. Selain itu juga, melakukan penataan mangrove pantai publik dan juga pembangunan deselerasi air sebagai substitusi penyedotan tanah.

Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengingatkan dan mengimbau masyarakat serta Pemerintah Daerah (Pemda) Pacitan untuk siap dengan skenario terburuk akibat terjadinya gempa dan tsunami.

Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Baca artikel terkait: [TRENDING] Gempa Bumi Pada 15 September, Getarkan Tanah Air Hingga 6 Kali

Hal tersebut perlu dilakukan dan dipersiapkan untuk menghindari dan juga mengurangi resiko yang diakibatkan oleh bencana alam gempa bumi dan tsunami yang berpotensi akan mengintai daerah pesisir selatan di pUlau Jawa karen adanya pergerakan dua buah lempeng raksasa yakni lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia.

“Wilayah di Pantai Pacitan berpotensi terjadinya tsunami dengan ketinggian 28 meter dengan estimasi waktu tiba kurang lebih 30 menit. Adapun potensi jarak genangan mencapai 5 hingga 7 kilometer bila diukur dari bibir pantai dan tinggi genangan air yang mencapai daratan bisa mencapai sekitar 15 sampai 20 meter,” jelas Dwikorita melaui keterangan resmi BMKG pada Senin, 13 September 2021.

Dalam acara simulasi tersebut, Dwikorita berbincang bersama Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini dan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji untuk melakukan verifikasi zona bahaya dan menelusuri jalu-jalur evakuasi bencana alam yang mudah dijangkau oleh para masyarakat di daerah kelahiran Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ITU.

Dengan skenario tersebut, diharapakan bagi masyarakat yang berada di daerah dengan zona bahaya perlu terus dilatih secara rutin untuk melakukan langkah-langkah evakuasi mandiri bila mendapat Peringatan Dini Bahaya Tsunami dengan batas waktu maksimum 5 menit setelah terjadinya gempa bumi.

Untuk masyarakat khusus yang tinggal di pesisir pantai, harus segera mematuhi perintah dan aturan tentang bahaya bencana alam dan segera pergi untuk mengungsi k etempat atau dataran yang lebih tinggi jika sudah merasakan guncangan atau getaran yang akan menyebabkan gempa bumi.

“Teruntuk masyarakat yang khususnya tinggal di daerah pesisir pantai, tidak perlu menunggu aba-aba, sirine atau perintah dari BMKG. Jika sudah merasakan getarannya baik kecil ataupun besar, segeralah menyelamatkan diri dengan berlari ke dataran yang lebih tinggi yang dirasa cukup jauh dari pesisir pantai dan harus aman. Karena batas waktu yang dimiliki hanya sekitar 30 menit setelah gempa terjadi,” katanya.

Kepala BMKG tersebut menjelaskan, skenario yang dimaksudkan adalah masih bersifat potensi artinya kemugkinan bisa kapan saja terjadi atau malah tidak terjadi sama sekali. Namun, seklai lagi ia tegaskan untuk pemerintah dan masyarakat sekitar harus sudah siap dengan skenario terburuk itu sehingga meminimalisir korban berjatuhan.

“Jadi kami mengimbau seperti ini bukan bermaksud untuk menakut-nakuti. Tidak sama sekali. Skenario ini dibuat bertujuan agar masyarakat dan pemerintah daerah akan terlatih jika sewaktu-waktu bencana alam itu datang. Sehingga tidak ada istilah gugup atau gagap saat bencana alam itu datang. Dengan begitu mayarakat dan pemerintah sudah sigap siaga bencana dan tahu langkah apa saja yang harus dilaksanakan dengan waktu yang sangat terbatas itu,” ujar Dwikorita.

Ia juga menegaskan bahwa, hingga pada saat ini belum ada teknologi atau satu pun negara di belahan dunia lainnya yang dapat memprediksikan dengan tepat kapan terjadinya gempa dan tsunami dengan akurat dan tepat. Maksudnya lengkap dengan perkiraan tanggal, jam, lokasi, dan magnitudo gempa. Semuanya masih berupa bentuk kajian yang diolah berdasarkan sejarah pada wilayah itu sendiri di masa lampau.

BMKG juga meminta dan merekomendasikan kepada pemerintah daerah untuk siap menghadapi segala bentuk bencana alam dan memperbanyak jalur-jalur untuk evakuasi dengan lengkap sesuai dengan rambu-rambu dari menuju zona merah sampai dengan zona hijau.

Beberapa Wilayah yang Terancam Terjadinya Tsunami Besar

Beberapa Wilayah yang Terancam Terjadinya Tsunami Besar

Wilayah yang berpotensi terjadinya tsunami besar setinggi 20 meter yang bisa terjadi di pesisir selatan Pulau Jawa hingga Selat Sunda, itu semua berpeluang juga dampaknya hingga ke pesisir utara seperti daerah DKI Jakarta, Banten dan sekitarnya.

Menurut Heri Andreas yang merupakan Kepala Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan data dari Global Navigation Satellite System (GNSS) yang melaporkan terdapat akumulasi energi di bagian wilayah Selat Sunda sampai ke Pelabuhan Ratu. Daerah lain yang disebutkan juga ada seperti Parangtritis dan Pantai Jawa Timur di bagian Selatan.

gempa yang akan terjadi diperkirakan berkekuatan magnitudo 8,7 hingga 9,0 dengan potensi terjadinya tsunami setinggi 20 meter. Sementara di DKI Jakarta Sendiri, gelombang tsunami air laut diprediksi mencapai 1 hingga 2 meter. Hal ini lebih kecil jika dibandingkan dengan perkiraan tsunami yang berada di Pantai Jawa Timur bagian Selatan.

Maka dari itu, Dwikorita meminta kepada masyarakat yang tinggal di daerah yang rawan akan bencana alam seperti di pesisir pantai untuk segera berlatih melakukan evakuasi mandiri appabila merasakan getaran yang disebabkan oleh gempa bumi tanpa harus menunggu instruksi atau peringatan dini lagi dari BMKG.

“Kita semua harus belajar dari pengalaman, tak perlu menunggu peringatan dini tsunami dari BMKG. Begitu merasakan goncangan baik kecil ataupun besar yang dirasakan oleh tanah atau gempa, segeralah berlari. Jauhi pantai dan berpindah ke tempat yang lebih tinggi atau bukit-bukit,” imbuh Dwikorita.