4 Bencana Alam Tsunami Hebat yang Pernah Melanda Daratan Tanah Air

4 Bencana Alam Tsunami Hebat yang Pernah Melanda Daratan Tanah Air

4 Bencana Alam Tsunami Hebat yang Pernah Melanda Daratan Tanah Air

Menurut riset yang ditelusuri oleh para tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Sri Widiyantoro mengemukakan bahwa adanya potensi tsunami dan gempa bumi di bagian Selatan Pulau Jawa. Berdasarkan riset tersebut mengatakan bahwa data gempa dari katalog BMKG dan International Seismological Center (ISC) yang terhitung sejak periode April 2009 hingga November 2018 dan melihat data GPS dari 37 stasiun yang di pasang di Jawa Timur dan Jawa Tengah selama 6 tahun.

Berdasarkan temuan tersebut, dari sejak dahulu kala Indonesia sudah seringkali dilanda oleh berbagai macam bencana alam salah satunya tsunami, yang terjadi di beberapa wilayah di Tanah Air.

Baca Lain ↓↓↓

Minahasa Tenggara Dilanda Banjir Bandang, Puluhan Rumah Terendam

Maka dari itu, Deathenergy telah merangkum dari bebrapa situs terpercaya gelombang tsunami yang dahsyat yang pernah terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Simak ulasan berikut ini!

4 Tsunami Dahsyat Melanda Indonesia

4 Tsunami Dahsyat Melanda Indonesia

1. Tsunami Aceh Tahun 2004

Gelombang laut yang sangat besar yang melanda daerah Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu tentu masih membekas dalam ingatan kita semua. Gelombang air laut yang setinggi sekitar 35 meter itu bukan hanya menghancurkan Aceh melainkan juga menjalar hingga ke pesisir bagian Barat pulau Sumatera.

Berdasarkan data yang tercatat, peristiwa tersebut menelan kurang lebih 170 ribu korban jiwa. Banyak sekali warga yang harus kehilangan keluarga dan harta bendanya dalam peristiwa besar itu. Bahkan, kerugian yang diakibatkan dari bencana alam tersebut ditaksir mencapai Rp. 50 triliun.

2. Tsunami Pangandaran Tahun 2006

Bencana alam tsunami ini terjadi tepat pada tanggal 16 Juli 2006 silam. Deretan gempa yang terjadi di bagian Selatan Pulau Jawa yang disusul oleh tingginya gelombang tsunami. Berdasarkan catatan data Pusat Gempa Nasional Badan Meteorologi dan Geofisika (PGN BMG), gempa bumi tersebut terjadi di kawasan pantai Pangandaran pada pukul 15.19 WIB dengan magnitudo 6,8.

Untuk pusat gempanya berada di sebelah Selatan Pantai Pameungpeuk yang berjarak sekitar 160 Km dan kedalaman sekitar 35 Km. Diketahui, lokasi tersebut merupakan zona pertemuan dua lempeng benua Indo-Australia dan Eurasia dengan kedalaman kuramng dari 40 Km. Bencana alam tersebut menewarkan sekitar 768 orang dan 75 orang diketahui hilang tidak diketahui.

3. Tsunami Palu Tahun 2018

Gempa yang bermagnitudo 7,4 yang terjadi pada tanggal 28 September 2018 sekitar pukul 18.02 WITA yang kemudian disusul oleh gelombang tsunami setinggi 5 meter menerjang pulau Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Menurut catatan, pusat gempa dilaporkan berada pada 26 Km di bagian Utara pulau Donggala dan 80 Km di bagian Barat Laut Kota Palu.

Menurut data Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), bahwa korban yang meninggal akibat peristiwa tersebut mencapai 2.055 orang. Paling banyak terdapat di Kota Palu sebanyak 1.732 korban jiwa dan kemudian disusul oleh Sigi dan Parigi.

Selain itu, korban yang mengungsi akibat peristiwa itu sebanyak 83.745 orang dan 8.765 orang pengungsi di antaranya berada di luar pulau Sulawesi. Sebanyak 66.446 bangunan tempat tinggal rusak parah.

Bencana alam ini merupakan salah satu yang terparah baru-baru ini. Sebab, gempa bumi tersebut menyebabkan tsunami dengan ketinggian gelombang air mencapai 5 meter dan likuefaksi atau pencairan tanah yang membuat tanah berjalan hingga menhancurkan apapun yang berdiri di atas tanah tersebut serta menelan ribuan korban jiwa.

4. Tsunami Selat Sunda Tahun 2018

Pada hari Sabtu, 22 Desember 2018 malam terjadi gelombang tsunami yang menerjang pesisir wilayah banten dan juga Lampung. Menyebabkan sekitar 537 orang tewas akibat peristiwa tersebut, ribuan orang terluka parah dan ringan, serta puluhan orang hilang tanpa kabar.

Tercatat sebanyak 2.852 rumah rusak parah, dan juga puluhan ribu orang diharuskan mengungsi ke tempat yang lebih aman, dan juga diketahui gelombang tsunami air laut itu mencapai 5 hingga 6 meter.

Waspada! Maluku Tengah Berpotensi Tsunami Non Tektonik

BMKG Sebut Potensi Tsunami Non Tektonik di Malteng Tinggi

Dwikorita Karnawati, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa di daerah Pulau Seram, Maluku Utara berpotensi terjadinya tsunami non tektonik. Artinya tsunami yang bukan disebabkan oleh gempa-red yang lumayan besar.

BMKG melakukan penelurusan dan verifikasi di zona-zona bahaya di wilayah Pulau Seram. Hasilnya mengejutkan, ternyata di sepanjang garis pantai pulau itu adalah laut yang memiliki bebatuan yang sangat besar dan tebing yang begitu curam. Sehingga daerah yang sangat rawan untuk terjadinya kelongsoran.

BMKG Sebut Potensi Tsunami Non Tektonik di Malteng Tinggi

“Gempa yang bisa menjadi trigger bisa menyebabkan terjadinya kelongsoran kemudian akan mengakibatkan gelombang tsunami. Dalam alur modelnya, dapat dijelaskan apakah gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak menimbulkan. Bisa iya dan bisa juga tidak, ada banyak kemungkinan yang akan terjadi. Pastinya gempa itu membuat longsor di dalam bawah laut yang kemudian mengakibatkan gelombang tsunami,” jelas Dwikorita saat di Pulau Seram, Minggu (5/9/2021).

Pada sat kedatangannya ke lokasi, Dwikorita menjelajahi Negeri Samasuru, Kota Masohi, Negeri Amahai, dan Negeri Tehoru. Di beberapa tempat itu, ia melakukan verifikasi terhadap peta bahaya dan menelusuri jalur evakuasi darurat. Bersama dengan para tim dan juga pihak terkait, Kepala Pusat Studi Bencana Alam Universitas Pattimura, dan Peneliti dari LIPI serta Badan Geologi langsung mendengarkan kesaksian dari salah satu warga tentang terjadinya gempa dan tsunami yang pernah terjadi beberapa waktu silam.

“Saya melihat langsung bekas tanah yang longsor di Negeri Tehoru. Di Samsuru, ada seorang warga sekitar yang sudah melakukan perhitungan kedalaman laut dari batas garis pantai. Dari garis pantai berjarak sekitar 3 meter dan kedalaman lautnya mencapai hingga 24 meter,” jelasnya.

Dwikorita menyampaikan, sampai saat ini belum ada negara di belahan dunia manapun yang bisa mendeteksi tsunami non tektonik lebih cepat, akurat dan tepat. Sistem peringatan bahaya dan peringatan dini yang dirancang oleh negara-negara di dunia adalah sistem peringatan dini terhadap tsunami yang diakibatkan oleh getaran yang berasal dari gempa itu sendiri.

Memantau muka air laut atau tide gauge adalah salah satu cara yang bisa dilakukan. Tapi terkadang cara itu kurang efektif karena sifat alat tersebut yang baru bisa menginformasikan setelah tsunami terjadi. Bisa disimpulkan alat tersebut sudah telat saat memberikan peringatan dini, namun tsunami sudah datang.

“Hanya dalam hitungan kurang dari 2 atau 3 menit, karena estimasi kedatangan tsunami sangat cepatyang dipicu oleh longsor yang berada tepat di bawah laut. Seperti halnya yang pernah terjadi di Palu, Sulawesi Tengah,” terangnya.

Imbauan BMKG Kepada Masyarakat Maluku Tengah

Imbauan BMKG Kepada Masyarakat Maluku Tengah

Maka dari itu, ia meminta kepada warga sekitar apalagi yang tempat tinggalnya tidak jauh dari pantai yang berada di Pulau Seram untuk secepatnya melakukan evakuasi mandiri, jadi apabila getaran kecil yang terasa di tanah sudah berasa, lebih baik menjauh dan menghindarinya. Tanpa harus menunggu peringatan atau informasi dari BMKG.

“Belajar dari sejarah, diimbau kepada seluruh masyarakat khususnya yang dekat dengan garis pantai tidak perlu menunggu peringatan bahaya dari BMKG bahwa akan adanya tsunami. Segara menjauh dengan berlari jika getaran di atas tanah sudah dirasakan sekecil apapun.” pinta Dwikorita

“Jauhi sepanjang garis pantai dan laut dan langsung segera lari ke tempat yang aman seperti perbukitan atau tempat-tempat yang lebih tinggi.” lanjutnya.

Kemudian ia melanjutkan imbauannya kepada masyarakat bahwa Kepulauan Maluku mempunyai sejarah yang cukup panjang dalam gempa bumi dan tsunami. Ia juga berharap kepada Pemerintah Daerah (Pemda) dan dinas terkait untuk melakukan segala bentuk mitigasi bencana alam.

Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dan juga mengurangi akibat dan resiko kerugian usai terjadinya gempa bumi dan tsunami.

“Siapapun harus terus dilatih agar paham apa yang harus dilakukan saat bencana itu datang, selain persiapan tempat evakuasi yang secepat mungkin agar bisa langsung dicapai. Ikuti jalur dan rambu evakuasi tempat yang aman dengan jelas,” jelasnya.

Baca Artikel Lainnya ⇓⇓⇓

Menteri Sosial Risma Menceritakan Ada Usul Tersambar Petir Termasuk Bencana Alam

Akankah Ibukota Akan Tenggelam di Tahun 2030?

Penurunan Muka Tanah di Pesisir Jakarta

Permukaan tanah Jakarta turun 6 cm setiap tahunnya. Menurut salah seorang warga yang bernama Sarwana (48), ia merupakan seorang penjual warung nasi. Setiap hari di jam 5 pagi ia selalu bergegas untuk menyiapkan dan membuka warung nasinya itu. Sambil measak juga, ia menyiapkan segala jenis gelas-gelas untuk air teh. Biasanya pelanggan setia warungnya itu ialah sebagian pekerja proyek tanggul di Kawasan Gedung Pompa, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara.

“Selain pekerja proyek, ada juga nelayan yang ingin pergi melaut mampir dahulu ke tempat warung nasinya untuk makan disana,” ujar Sarwana ketika bercerita ke media massa terpercaya.Akankah Ibukota Akan Tenggelam di Tahun 2030

Sarwana merupakan salah satu dari sekian banyak warga yang sudah sejak kecil tinggal di daerah Muara Baru. Ia betul-betul sangat merasakan bagaimana kondisi di kawasan pesisir ibu kota tersebut jika dibandingkan 30 tahun yang lalu dan hari ini. Katanya, waktu ia masih kecil, air laut di daerah tempat tinggalnya tidak setinggi seperti sekarang. Bahkan dasar laut masih terlihat dengan mata kepala sendiri.

“Jika bidabndingkan dulu dan sekarang, sudah banyak terjadi perubahan. Kalau sekarang, terasa sekali airnya tinggi, dalam, tanah ini makin lama makin turun. Untuk ada tanggul yang bisa jadi penghalang,” ceritanya.

Tanggul-tanggul yang dipasang di Muara Baru baru saja di pasang sekitar lima tahun yang lalu. Tujuan dipasangnya tanggul-tanggul tersebut ialah untuk mencegah air laut yang semakin tinggi masuk ke daerah pemukiman warga. “Kalau dulu, kalau air naik langsung banjir semuanya, apalagi kalau tanggulnya jebol. Tapi sekarang sudah ada tanggul, paling cuma rembesan saja airnya,” lanjut Sarwana.

Sebenarnya tanggul-tanggul di daerah Muara Baru memiliki ketiggian sekitar 4 meter. Tanggul itu pernah jebol di tahun 2019. Untuk kegiatan setiap harinya, banyak warga setempat yang beraktivitas di daerah sekitaran tanggul. Biasa dipakai untuk memancing, menjaring ikan, mencuci baju, menjual makanan, hingga menjadi tempat bermain bagi anak-anak.

Baca Juga↓↓↓

Inilah Alasan Kenapa Indonesia Rawan Terjadinya Gempa Bumi

Penurunan Muka Tanah di Pesisir Jakarta

Penurunan Muka Tanah di Pesisir Jakarta

Bahaya dan ancaman Jakarta yang akan tenggelam di tahun 2030 terus menjadi perbincangan banyak kalangan, terutama setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan bahwa potensi Jakarta akan tenggelam beberapa waktu lalu.

Sebenarnya, prediksi Jakarta akan tenggelam sudah berpuluh-puluh tahun diperbincangkan. Sejumlah penelitian juga menyebut bahwa permukaan tanah di Jakarta terus mengalami penurunan setiap tahunnya, terutama di daerah pesisir Jakarta. Bahkan Dinas Sumber Air DKI Jakarta telah mencatat bahwa sejak tahun 2007 sampai dengan 2016, penurunan tanah di Jakarta terjadi hingga satu meter.

Yusmada Faizal, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta juga mengatakan, kawasan Muara Baru tersebut telah berada di bawah permukaan laut dan terus mengalami penurunan muka tanah. Pada tahun 2050, Muara Baru bisa berada 4,6 meter di bawah permukaan laut apabila tidak dilakukan pencegahan sejak dini.

Selain Muara Baru, adapun tujuh wilayah pesisir Jakarta lainnya yang juga terancam tenggelam karena di bawah permukaan air. Wilayah itu antara lain Pluit diperkirakan mencapai 4,35 meter di bawah permukaan air laut, Kamal Muara 3 meter, Gunung Sahari 2,90 meter, Tanjungan 2,10 meter, Ancol 1,70 meter, Marunda 1,3 meter, dan terakhir di Cilincing yaitu 1 meter.

Menurut Yasmada, Pemda DKI Jakarta mengawali pengendalian banjir rob di bagian utara Jakarta dengan penataan tanah timbul yang ada di sepanjang pesisir pantai. Selain itu juga, melakukan penataan mangrove pantai publik dan juga pembangunan deselerasi air sebagai substitusi penyedotan tanah.

Waspada Tsunami! Jawa Barat Diguncang Gempa Bumi Puluhan Kali

Waspada Tsunami! Jawa Barat Diguncang Gempa Bumi Puluhan Kali

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandung mengungkapkan bahwa pusat lokasi kejadian gempa bumi lebih banyak terjadi di laut, sehingga berpotensi terjadinya tsunami yang diakibatkan oleh peristiwa gempa bumi tersebut.

Dirinya juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik, sebab pemodelan tersebut dibuat bertujuan untuk mempersiapkan strategi dalam menghadapi bencana yang tepat demi mengurangi kerusakan dan korban jiwa akibat yang ditimbulkan.

Waspada Tsunami! Jawa Barat Diguncang Gempa Bumi Puluhan Kali

“Pada periode bulan Agustus lalu dan dilihat dari titik distribusi penyebaran gempa bumi, tercatat ada 36 kejadian gempa bumi yang terjadi dilaut dan tersebar di Pulau Jawa bagian selatan. Karena akibat dari lempeng-lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia,” jelasnya.

Kendati demikian, wilayah Jawa Barat yang sangat eksotik karena banyaknya dataran tinggi dan gunungnya. Akan tetapi dibalik itu semua, daerah tersebut sangat mempunyai potensi untuk bencana alam seperti gempa bumi yang bisa terjadi kapan saja.

Baca juga: Pengertian Angin Topan, Penyebab dan Dampak Angin Topan Serta Cara Menanggulanginya

Berberapa Wilayah di Jawa Barat Berpotensi Gempa Bumi

Jawa Barat Bisa Timbulkan Gempa Bumi Kapan Saja

Sebanyak kurang lebih 12 kali kejadian gempa bumi yang terjadi di darat sebagai aktivitas sesar lokal. Sementara, 8 kejadian lainnya disebabkan oleh sesar dan 1 diantaranya dirasakan akibat aktivitas sesar Cimandiri.

Ini peringatan kepada seluruh masyarakat Jawa Barat bahwa sesar tersebut masih aktif dan sangat perlu diwaspadai.

Sebanyak 6 kejadian gempa bumi terjadi pada tanggal 4 Agustus 2021 dan merupakan jumlah kejadian yang sangat tinggi. Untuk kedalaman gemppa bumi sangat bervariasi mulai rentang 1 sampai 129 km.

Sedangkan untuk magnitudo terbesar menurut catatan BMKG Stasiun Bandung tercatat 4,9 dan terkecil tercatat 1,6.

Selama bulan Agustus lalu, satu rangkaian gempa Doublet Earthquarke yang sering dirasakan. Gempa Doublet adalah serangkaian gempa yang daya kekuatannya hampir sama dalam lokasi dan waktu yang berdekatan.

7 Agustus 2021, terjadi rangkaian gempa Doublet. Tercatat, gempa pertama terjadi pukul 20.17 WIB dengan M 4,1 pusatnya di koordinat 7,86 Lintang Selatan (LS) dan 107,27 Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 26 Km.

Kemudian, gempa kedua terjadi pukul 20.11 WIB dengan M 4,0 pusatnya di koordinat 7,85 Lintang Selatan dan 107,29 Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 25 Km. Gempa ini sebesar III MMI untuk daerah Tasikmalaya, Cikelet, Sayangheulang, Pangalengan, dan Singajaya serta sebesar II MMI untuk daerah Bungbulan.

Adapun 5 kejadian gempa lainnya yang dirasakan selama bulan Agustus 2021, diantaranya:

1. 4 Agustus 2021 pukul 05.41 WIB dengan M 2,4 pusatnya di koordinat 6,92 LS dan 107,02 BT dengan kedalaman 4 Km. Terjadi di Cireunghas, Kebonpedes sebesar II MMI.

2. 8 Agustus 2021 pukul 17.30 WIB dengan M 4,1 pusatnya di koordinat 7,77 LS dan 107,34 BT dengan kedalaman 33 Km. Terjadi di beberapa titik di Cibalong, Singajaya, Pamengpeuk, Cisompet, Sodonghilir, Pangandaran dan Ciamis sebesar II MMI.

3. 9 Agustus 2021 pukul 21.36 WIB dengan M 4,9 pusatnya di koordinat 8,49 LS dan 108,98 BT dengan kedalaman 53 Km. Terjadi di beberapa titik di berbagai wilayah di Pangandaran, Karangnunggal, Banjar, Cilacap, Ciamis, dan Banyumas sebesar III MMI.

4. 17 Agustus 2021 pukul 11.49 WIB dengan M 4,5 pusatnya di koordinat 8,15 LS dan 107,64 BT dengan kedalaman 12 Km. Terjadi di beberapa titik di Cipatujah, Pameungpeuk, Cisompet, Karangnunggal, dan Bangbajang sebesar III MMI.

5. 23 Agustus 2021 pukul 04.13 WIB dengan M 4,9 pusatnya di koordinat 8,32 LS dan 107,58 BT dengan kedalaman 1 Km. Terjadi di beberapa titik di Cisopet, Cikalong, Ciparanti, Cijagra, Ciamis, dan Bungbulang sebesar III MMI.

“Kami selalu mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan jangan panik serta tidak terpengaruh isu-isu atau berita hoaks. Kami sarankan untuk selalu memantau melalui perkembangan update melalui website resmi BMKG serta hindari bangunan yang sudah retak dan tua” paparnya.

Catat! Presiden Sudah Alokasikan Dana Rp 2,4 Triliun Untuk Atasi Bencana Alam Tahun 2022

Catat! Presiden Sudah Alokasikan Dana Rp 2,4 Triliun Untuk Atasi Bencana Alam Tahun 2022

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan bermacam-macam puulau dan sangat luas. Selain itu juga, berpotensi terjadinya bencana alam dari Sabang hingga Merauke ditambah permasalahan perubahan iklim yang sangat drastis.

Sehingga dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) untuk tahun anggaran 2022, pemerintah telah mempersiapkan dana sebesar Rp. 2,4 triliun untuk mengatasi segala hal buruk yang terjadi akibat bencana alam, membangun lingkungan hidup, perubahan iklim yang kian hari kian drastis, dan juga menanggulangi dan meningkatkan ketahanan bencana alam.

Catat! Presiden Sudah Alokasikan Dana Rp 2,4 Triliun Untuk Atasi Bencana Alam Tahun 2022

Dalam lampiran Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 85 Tahun 2021 menjelaskan bahwa, bencana hidrometeorologi menjadi bencana alam dengan frekuensi yang paling sering terjadi di wilayah Indonesia.

Dengan risiko ini yang akan terus-menerus meningkat seiring dengan tingginya arus urbanisasi dan juga perubahan iklim. Tantangan dan hambatan untuk ke depannya akan semakin berat jika dalam peningkatan risiko bencana ini masih di atas dengan proses bisnis yang seperti sekarang ini (business as usual).

Maka dari itu, ketahanan bencana alam, pembangunan lingkungan hidup, dan juga perubahan iklim ini dalam RKP tahun 2022 memfokuskan pada peningkatan taraf kualitas hidup masyarakat Indonesia yang lebih tangguh dan adaftif dalam mendukung upaya transformasi dan pemulihan akibat dampat dari Covid-19 dalam menuju pembangunan dan peradaban manusia Indonesia yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Transformasi pascapandemi ini dalam pembangunan lingkungan hidup, ketahan bencana, dan juga perubahan iklim akan dititikberatkan dan difokuskan pada upaya perbaikan kualitas hidup masyakarat dan lingkungan hidup melalui penanganan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Selain itu juga, peningkatan pemantauan kualitas lingkungan yang secara otomatis, perbaikan sistem ketahana bencana yang tanggap terhadap berncana yang bersifat seketika terjadi (sudden onset) ataupun perlahan (slow onset). Juga dalam pelaksanaan pembangunan yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang rendah emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Adapun untuk penggunaan dana Rp. 2,4 triliun pada tahun 2022 akan diperuntukkan untuk pembangunan fasilitas pengolahan limbah B3 dengan anggaran sebesar Rp. 241 miliar dan penguatan sistem peringatan dini terhadap bencana sebesar Rp. 2,1 triliun.

Baca Artikel Terkait: Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Jokowi Sebut RI Berpotensi Paling Banyak Dilanda Bencana

Jokowi Sebut RI Berpotensi Paling Banyak Dilanda Bencana

Indonesia berpotensi besar untuk mengalami bencana alam hidrometeorologi yang sangat tinggi. Peristiwa tersebut bahkan dirasakan setiap tahunnya dengan jumlah yang mengalami peningkatan baik secara frekuensi maupun intensitasnya.

Hal tersebut disebutkan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo saat memberikan pengarahan dalam Rakorbangnas Badan Meteorologi, Klimatogi, dan Geofisika (BMKG) yang dilaksanakan secara daring pada haris, 29 Juli 2021.

“Frekuensi dan intensitasnya juga mengalami peningkatan setiap tahunnya, bahkan melompat secara drastis. Negara kita ini mengalami multibencana dalam kurun waktu yang bersamaan,” jelas Jokowi.

Jokowi mengambil ocntoh bahwasanya pada periode tahun 2008 hingga 2016, rata-rata Indonesia sendiri mengalami kebencanaalaman mencapai 5 ribu hingga 6 ribu kali dalam satu tahun. Angka tersebut terus menerus meningkat seiring dengan perkembangan waktu.

“Selain itu, pada tahun 2017 meningkat menjadi sekitar 7.170 kali dan pada tahun 2019 mengalami kenaikan yang sangat signifikan hingga mencapai 11.500 kali,” tuturnya.

Selain itu, Jokowi juga menjelaskan bahwa fenomena alam ini termasuk cuaca yang ekstrem dan siklon tropis juga mengalami peningkatan dalam frekuensi maupun intensitasnya, demikian juga halnya seperti fenomena El Nino atau La Nina.

“Periode ulang pada El Nino atau La Nina yang terjadi pada periode tahun 1981 hingga 2020 cenderung mengalami peningkatan hingga 2 sampai 3 tahunan jika dibandingkan periode sebelumnya yakni pada tahun 1950 hingga 1980 yang berkisar 5 sampai 7 tahunan,” lanjutnya.

Nusa Tenggara Timur (NTT) Merasakan Gempa Bumi Sebanyak Lebih Kurang 160 Kali di Bulan Agustus

Ilustrasi gempa bumi, gempa tektonik, namun tidak berpotensi tsunami.

Nusa Tenggara Timur (NTT) Merasakan Gempa Bumi Sebanyak Lebih Kurang 160 Kali di Bulan Agustus. Menurut Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Margiono, NTT telah diguncang lebih kurang 160 kali gempa bumi. Namun hanya sekitar 7 kali yang dapat dirasakan oleh penduduk setempat.

Margiono membandingkan, jumlah kejadian gempa bumi selama Bulan Agustus mengalami peningkatan jika dibandingkan bulan lalu. Rata-rata gempa berketuatan kecil dengan maginitudo 4,0 ke bawah dari 143 kejadian, selain itu yang berkedalaman dangkal lebih kecil 60 kilometer sebanyak 111 kejadian.

Ilustrasi gempa bumi, gempa tektonik, namun tidak berpotensi tsunami.

Kabupaten Sumba Barat Daya, Pulau Sumba yang mendominasi gempa terbanyak hingga mencapai 18 persen. Menurut catatan BMKG, sejak Januari 2021, gempa bumi tertinggi terjadi pada dua hari, Masing-masing 12 kejadian, yakni pada tanggal 11 dan 28 Maret 2021.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat, agar tidak mudah percaya dengan berita-berita palsu atau hoaks yang sering beredar serta memantau informasi gempa bumi dan tsunami dari situs resmi milik BMKG.

Perbedaan Antara Gempa Bumi Tektonik dan Gempa Bumi Vulkanik

Gempa bumi terkini dunia dinotasikan dengan titik-titik hitam terkonsentrasi pada jalur-jalur tektonik

Dikutip dari Badan Metorologi Klimatologi dan Geofisika atau yang sering disebut dengan BMKG, gempa bumi adalah getaran atau getar-getar yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Gempa Bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak Bumi (lempeng Bumi).

Berdasarkan pemicu pergerakannya, terbagi menjadi dua macam yaitu gempa bumi tektonik dan gempa bumi vulkanik.

Gempa bumi tektonik adalah gempa bumi yang disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa bumi ini menimbulkan kerusakan atau bencana alam di Bumi karena getarannya mampu menjalar hampir ke seluruh bagian Bumi.

Jika terjadi tabrakan atau patahan lempeng akibat pergerakan tersebut, maka akan menimbulkan getaran yang biasa kita sebut dengan gempa bumi. Ketika dua lempeng bergerak saling mendekat dan lempeng tidak mampu menahan kekuatan akibat pergerakan tersebut, kondisi ini juga dapat menimbulkan gempa.

Gempa bumi vulkanik adalah gempa bumi yang terjadi akibat adanya aktivitas magma dari gunung berapi sebelum meletus dan biasanya gempa ini hanya dirasakan disekitar gunung api yang masih aktif.

Berdasarkan dari kedua tipe gempa bumi tersebut diatas, gempa tidak serta merta terjadi di sembarang tempat di belahan bumi. Biasanya gempa tektonik terjadi di sekitar batas lempeng bumi sedangkan gempa vulkanik biasanya terjadi hanya di sekitaran gunung berapi yang masih aktif.

Baca juga : Lima Desa Warga Tanggamus Terdampak Banjir, Dua Rumah Rusak Berat

347 Tahun yang Lalu, Gempa Bumi dan Mega Tsunami Meluluhlantahkan Bumi Maluku

347 Tahun yang Lalu, Gempa Bumi dan Mega Tsunami Meluluhlantahkan Bumi Maluku

 

Sejarah mencatat Gempa dan Mega Tsunami yang pernah melanda wilayah Maluku pada tahun 1674 silam meluluhlantahkan bumi Maluku waktu itu. Pusat kejadian tersebut yang kita kenal sekarang ialah Ambon, merupakan salah satu bencana alam terbesar sepanjang sejarah umat manusia di Indonesia yang menyelimuti perjalanan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda di Nusantara.

Sekadar informasi, VOC singkatan dari Vereenigde Oostindische Compagnie yang berdiri sejak tanggal 20 Maret 1602. VOC merupakan kongsi dagang terbesar milik Belanda dan berpusat di Nusantara untuk menyatukan perdagangan rempah-rempah dari wilayah timur dalam memperkokoh sebuah kedudukan Belanda di Indonesia pada masa itu.

347 Tahun yang Lalu, Gempa Bumi dan Mega Tsunami Meluluhlantahkan Bumi Maluku

Ignatius Ryan Pranantyo & Phil R. Cummins menulis dalam jurnalnya yang dimuat pada SpringerLink berjudul “The 1674 Ambon Tsunami: Extreme Run-Up Caused by an Earthquake-Triggered Landslide” pada tahun 2019 tentang bencana besar yang terjadi di Ambon, Indonesia.

“Beberapa menit sebelum terjadiperistiwa yang sangat besar itu, lonceng-lonceng besar yang berada di Kastil Victoria berdentang dan mengeluarkan bunyi dengan sendirinya.” tulis Pranantyo dan Cummins. Tak seorang pun yang bisa menduga akan terjadi sesuatu yang sangat dahsyat itu akan terjadi. Saat kejadian itu, banyak di antara orang-orang berjatuhan ketika tanah bergerak mengombak naik turun seperti ombak di lautan lepas.

“Kali pertama gempa yang dirasakan dengan guncangan dahsyat dari dalam tanah di wilayah Ambon. Banyak sebagian bangunan dan rumah warga hancur berantakan dan menjadi rata dengan tanah” tulis Georg Everhard Rumphius dalam laporannya yang tersusun rapi di dalam Perpustakaan Rumphius yang terletak di Katedral St. Fransiskus Xaverius, Ambon.

Baca Juga: Apa itu Tanah Longsor dan Bagaimana Proses Terjadinya?

Gempa dan Tsunami di Ambon Tercatat Rapi di Laporan UNESCO

Gempa dan Tsunami di Ambon Tercatat Rapi di Laporan UNESCO

Laporan Rumphius tersebut terangkum juga di dalam website resmi IOC UNESCO yang berjudul Summary notes of Georg Everhard RUMPHIUS, yang ditranslasikan dari laporan aslinya yang berbahasa Belanda oleh E.M. Beekman and F.Foss pada tahun 1997.

“Seluruh wwilayah di Provinsi tersebut yaitu Seram, Hitu, Nusatelo, Leytimor, Buro, Amblau, Oma, Bonoa, Kelang, Manipa, Honimoa, Nusalaut, dan wilayah lain yang berada di sekitarnya, merasakan getaran dan guncangan yang amat begitu kencang dan mengerikan. Sehingga banyak orang-orang yang meyakinkan bahwa hari itu ialah Hari Kiamat yang sudah tiba bagi mereka” tulisnya.

Sebagian tempat di wilayah yang terdampak bencana alam tersebut menjadi sangat rusak parah. “Di wilayah Leitimor dan Semenanjung Hitu, banyak tempat yang terjadi tanah retak dan juga banyak terjadi bekas longsoran akibat peristiwa naas yang sangat kuat di Pegunungan Manuzau dan Wawani” tulis UNESCO dalam laporan dengan judul Air Turun Naik di Tiga Negeri Mengingat Tsunami Ambon 1950, yang diterbitkan pada tahun 2016.

Pasca guncangan yang dahsyat itu, mulailah muncul gelombang pasang yang kecil di daerah perairan Teluk Ambon. Gelombang tersebut datang dan menarik mundur kembali yang dijumpainya di daratan sebanyak lebih dari tiga kali. Air yang naik dengan ketinggian 5 sampai dengan 6 kaki, dan beberapa sumur air milik warga yang sangat dalam bisa terisi begitu dengan cepat. Sehingga orang-orang bisa menjangkau dan mengambil air dengan tangan tanpa perlu alat bantuan. Semnetara, pada berikutnya sumur itu kosong lagi tidak terisi oleh air.

“Pantai timur di Sungai Waytomme mulai terbelah dan air menyembur ke segala arah dengan ketinggian sekitar 18 hingga 20 kaki. Melemparkan pasir berlumpur biru yang diyakini oleh kebanyakan orang hanya bisa ditemukan pada kedalaman laut 2 hingga 3 depa” lanjutnya.

“Gempa yang begitu dahsyat tersebut diikuti oleh mega tsunami yang super besar dengan ketinggian mencapai 100 meter yang hanya bisa diamati di pantai utara di Pulau Ambon” tulis Cummins dan Panantyo.

“Semua orang berlarian ke tempat yang lebih tinggi agar bisa menyelamatkan diri, di mana mereka bertemu dengan sang Gubernur, kompi besar dan jajarannya. Mereka disana mulai memimpin majelis dan ibadah dengan berdoa di bawah langit yang cerah, berharap ada mukjizat untuk menyelamatkan mereka semua”. tambah Rumphius.

Suara dentuman seperti tembakan meriam yang jauh terus di dengar oleh orang-orang. Sebagian besar terdengar dari arah Utara dan Barat Laut, yang menunjukkan bahwa beberapa gunung mungkin akan meletus atau setidaknya runtuh satu per satu.

“Akibat dari bencana alam tersebut, banyak orang yang meninggal dunia. Kerusakan yang dialami terus diberitakan dari tempat ke tempat, diperkirakan ada sekitar 2.243 jiwa masyarakat asli Indonesia dan diantaranya mencakup sekitar 31 orang Eropa. Dengan total keseluruhan mencapai 2.322 jiwa korban” ujar Rumphius dalam menutup laporannya.

Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengingatkan dan mengimbau masyarakat serta Pemerintah Daerah (Pemda) Pacitan untuk siap dengan skenario terburuk akibat terjadinya gempa dan tsunami.

Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Baca artikel terkait: [TRENDING] Gempa Bumi Pada 15 September, Getarkan Tanah Air Hingga 6 Kali

Hal tersebut perlu dilakukan dan dipersiapkan untuk menghindari dan juga mengurangi resiko yang diakibatkan oleh bencana alam gempa bumi dan tsunami yang berpotensi akan mengintai daerah pesisir selatan di pUlau Jawa karen adanya pergerakan dua buah lempeng raksasa yakni lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia.

“Wilayah di Pantai Pacitan berpotensi terjadinya tsunami dengan ketinggian 28 meter dengan estimasi waktu tiba kurang lebih 30 menit. Adapun potensi jarak genangan mencapai 5 hingga 7 kilometer bila diukur dari bibir pantai dan tinggi genangan air yang mencapai daratan bisa mencapai sekitar 15 sampai 20 meter,” jelas Dwikorita melaui keterangan resmi BMKG pada Senin, 13 September 2021.

Dalam acara simulasi tersebut, Dwikorita berbincang bersama Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini dan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji untuk melakukan verifikasi zona bahaya dan menelusuri jalu-jalur evakuasi bencana alam yang mudah dijangkau oleh para masyarakat di daerah kelahiran Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ITU.

Dengan skenario tersebut, diharapakan bagi masyarakat yang berada di daerah dengan zona bahaya perlu terus dilatih secara rutin untuk melakukan langkah-langkah evakuasi mandiri bila mendapat Peringatan Dini Bahaya Tsunami dengan batas waktu maksimum 5 menit setelah terjadinya gempa bumi.

Untuk masyarakat khusus yang tinggal di pesisir pantai, harus segera mematuhi perintah dan aturan tentang bahaya bencana alam dan segera pergi untuk mengungsi k etempat atau dataran yang lebih tinggi jika sudah merasakan guncangan atau getaran yang akan menyebabkan gempa bumi.

“Teruntuk masyarakat yang khususnya tinggal di daerah pesisir pantai, tidak perlu menunggu aba-aba, sirine atau perintah dari BMKG. Jika sudah merasakan getarannya baik kecil ataupun besar, segeralah menyelamatkan diri dengan berlari ke dataran yang lebih tinggi yang dirasa cukup jauh dari pesisir pantai dan harus aman. Karena batas waktu yang dimiliki hanya sekitar 30 menit setelah gempa terjadi,” katanya.

Kepala BMKG tersebut menjelaskan, skenario yang dimaksudkan adalah masih bersifat potensi artinya kemugkinan bisa kapan saja terjadi atau malah tidak terjadi sama sekali. Namun, seklai lagi ia tegaskan untuk pemerintah dan masyarakat sekitar harus sudah siap dengan skenario terburuk itu sehingga meminimalisir korban berjatuhan.

“Jadi kami mengimbau seperti ini bukan bermaksud untuk menakut-nakuti. Tidak sama sekali. Skenario ini dibuat bertujuan agar masyarakat dan pemerintah daerah akan terlatih jika sewaktu-waktu bencana alam itu datang. Sehingga tidak ada istilah gugup atau gagap saat bencana alam itu datang. Dengan begitu mayarakat dan pemerintah sudah sigap siaga bencana dan tahu langkah apa saja yang harus dilaksanakan dengan waktu yang sangat terbatas itu,” ujar Dwikorita.

Ia juga menegaskan bahwa, hingga pada saat ini belum ada teknologi atau satu pun negara di belahan dunia lainnya yang dapat memprediksikan dengan tepat kapan terjadinya gempa dan tsunami dengan akurat dan tepat. Maksudnya lengkap dengan perkiraan tanggal, jam, lokasi, dan magnitudo gempa. Semuanya masih berupa bentuk kajian yang diolah berdasarkan sejarah pada wilayah itu sendiri di masa lampau.

BMKG juga meminta dan merekomendasikan kepada pemerintah daerah untuk siap menghadapi segala bentuk bencana alam dan memperbanyak jalur-jalur untuk evakuasi dengan lengkap sesuai dengan rambu-rambu dari menuju zona merah sampai dengan zona hijau.

Beberapa Wilayah yang Terancam Terjadinya Tsunami Besar

Beberapa Wilayah yang Terancam Terjadinya Tsunami Besar

Wilayah yang berpotensi terjadinya tsunami besar setinggi 20 meter yang bisa terjadi di pesisir selatan Pulau Jawa hingga Selat Sunda, itu semua berpeluang juga dampaknya hingga ke pesisir utara seperti daerah DKI Jakarta, Banten dan sekitarnya.

Menurut Heri Andreas yang merupakan Kepala Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan data dari Global Navigation Satellite System (GNSS) yang melaporkan terdapat akumulasi energi di bagian wilayah Selat Sunda sampai ke Pelabuhan Ratu. Daerah lain yang disebutkan juga ada seperti Parangtritis dan Pantai Jawa Timur di bagian Selatan.

gempa yang akan terjadi diperkirakan berkekuatan magnitudo 8,7 hingga 9,0 dengan potensi terjadinya tsunami setinggi 20 meter. Sementara di DKI Jakarta Sendiri, gelombang tsunami air laut diprediksi mencapai 1 hingga 2 meter. Hal ini lebih kecil jika dibandingkan dengan perkiraan tsunami yang berada di Pantai Jawa Timur bagian Selatan.

Maka dari itu, Dwikorita meminta kepada masyarakat yang tinggal di daerah yang rawan akan bencana alam seperti di pesisir pantai untuk segera berlatih melakukan evakuasi mandiri appabila merasakan getaran yang disebabkan oleh gempa bumi tanpa harus menunggu instruksi atau peringatan dini lagi dari BMKG.

“Kita semua harus belajar dari pengalaman, tak perlu menunggu peringatan dini tsunami dari BMKG. Begitu merasakan goncangan baik kecil ataupun besar yang dirasakan oleh tanah atau gempa, segeralah berlari. Jauhi pantai dan berpindah ke tempat yang lebih tinggi atau bukit-bukit,” imbuh Dwikorita.