4 Langkah yang Harus Dihadapi Saat Bencana Gunung Meletus

4 Langkah yang Harus Dihadapi Saat Bencana Gunung Meletus

Gunung meletus merupakan bencana alam yang tidak bisa kita duga kapan waktunya terjadi untuk meletus. Maka dari itu, kita harus mempunyai persiapan dalam menghadapinya.

Terus, bagaimana cara kita mempersiapkan diri agar terhindar dan selamat dari bahayanya gunung meletus? Apalagi untuk warga sekitar gunung berapi.

4 Langkah yang Harus Dihadapi Saat Bencana Gunung Meletus

Gunung meletus merupakan bencana alam yang tidak bisa kita duga kapan waktunya terjadi untuk meletus. Maka dari itu, kita harus mempunyai persiapan dalam menghadapinya.

Terus, bagaimana cara kita mempersiapkan diri agar terhindar dan selamat dari bahayanya gunung meletus? Apalagi untuk warga sekitar gunung berapi.

Dikutip dari sumber terpercaya, berikut trik yang dapat dilakukan saat terjadi bencana gunung meletus, simak penjelasannya:

1. Wajib Memantau Perkembangan Informasi Terbaru
Biasanya di sekitaran gunung berapi atau yang masih aktif, terdapat alat sirine yang berfungsi sebagai tanda bahaya jika sewaktu-waktu gunung tersebut mengeluarkan erupsi. Jika gunung tersebut mengeluarkan erupsi, secara otomatis tanda bahaya tersebut akan bunyi dan akan meneruskan informasi lewat media seperti televisi atau radio. Sehingga kita punya waktu untuk menentukan langkah selanjutnya agar terhindar dari bencana gunung meletus tersebut.

2. Menjauh dari Gunung Berapi dan Cari Tempat yang Aman
Usahakan cari tempat yang aman untuk menghindari semburan gunung berapi, masuk ke dalam ruangan yang aman dan tutup semua jendela serta pintu kecuali jika ada instruksi untuk meninggalkan ruangan tersebut. Jika memungkinkan, amankan barang-barang elektronik, kendaraan, serta hewan peliharaan jika ada.

3. Ikuti Instruksi yang Tepat
Jangan mengabaikan instruksi darurat saat bencana gunung meletus sedang terjadi. Ikuti arahan dan aturan jika intruksi mengarahkan Anda ke tempat yang lebih aman dan jauh dari gunung berapi. Rata-rata banyaknya korban akibat letusan gunung meletus karena tidak mengikuti instruksi yang darurat yang tepat.

4. Lindungi Pernapasan
Biasanya gunung yang mau meletus mengeluarkan erupsi seperti abu vulkanik dan gas kimia yang sangat beracun. Sebisa mungkin tutup hidung Anda dengan masker atau kain apapun sehingga tidak mengganggu jalannya pernapasan. Jangan panik, tetap ikuti intruksi darurat dan jaga diri.

Tindakan yang Harus Dilakukan Setelah Gunung Meletus

Setelah terjadi letusan gunung berapi, berikut beberapa tindakan yang harus dilakukan, diantaranya:

1. Jauhi wilayah yang terkena hujan abu, ini penting agar tidak mengganggu sistem pernapasan kita. Jika masih banyak abu vulkanik yang dihasilkan dari gunung meletus, baiknya menghindari tempat tersebut dan cari tempat yang aman yang tidak ada bekas hujan abu tersebut.

2. Bersihkan tempat dari timbunan abu, jika dirasa wilayah yang terkena hujan abu vulkanik sudah habis. Pastikan untuk membersihkan daerah-daerah yang diguyur oleh abu vulkanik tersebut. Pada saat membersihkan, usahakan tetap memakai masker untuk menghindari abu masuk ke dalam hidung kita pada saat membersihkannya.

3. Hindari berkendara didaerah terkena hujan abu, karena bisa merusak mesin motor, rem, transmisi hingga pengapian. Usahakan tidak menggunakan sepeda motor atau mobil dahulu, tunggu sampai benar-benar timbunan abu bekas letusan gunung berapi tersebut sudah benar-benar hilang.

4. Selalu ikuti informasi melalui sumber informasi yang ada (radio/tv) atau kontak instansi terkait. Agar kita selalu mendapatkan informasi terbarukan setelah terjadi nya bencana gunung meletus.

Baca juga: Waspada Tsunami! Jawa Barat Diguncang Gempa Bumi Puluhan Kali

Itulah beberapa informasi yang bisa dilakukan saat terjadi dan setelah terjadinya bencana gunung meletus. Tetaplah waspada, jaga keselamatan diri dan keluarga tercinta. Sampai jumpa di artikel selanjutnya.

Catat! Presiden Sudah Alokasikan Dana Rp 2,4 Triliun Untuk Atasi Bencana Alam Tahun 2022

Catat! Presiden Sudah Alokasikan Dana Rp 2,4 Triliun Untuk Atasi Bencana Alam Tahun 2022

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan bermacam-macam puulau dan sangat luas. Selain itu juga, berpotensi terjadinya bencana alam dari Sabang hingga Merauke ditambah permasalahan perubahan iklim yang sangat drastis.

Sehingga dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) untuk tahun anggaran 2022, pemerintah telah mempersiapkan dana sebesar Rp. 2,4 triliun untuk mengatasi segala hal buruk yang terjadi akibat bencana alam, membangun lingkungan hidup, perubahan iklim yang kian hari kian drastis, dan juga menanggulangi dan meningkatkan ketahanan bencana alam.

Catat! Presiden Sudah Alokasikan Dana Rp 2,4 Triliun Untuk Atasi Bencana Alam Tahun 2022

Dalam lampiran Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 85 Tahun 2021 menjelaskan bahwa, bencana hidrometeorologi menjadi bencana alam dengan frekuensi yang paling sering terjadi di wilayah Indonesia.

Dengan risiko ini yang akan terus-menerus meningkat seiring dengan tingginya arus urbanisasi dan juga perubahan iklim. Tantangan dan hambatan untuk ke depannya akan semakin berat jika dalam peningkatan risiko bencana ini masih di atas dengan proses bisnis yang seperti sekarang ini (business as usual).

Maka dari itu, ketahanan bencana alam, pembangunan lingkungan hidup, dan juga perubahan iklim ini dalam RKP tahun 2022 memfokuskan pada peningkatan taraf kualitas hidup masyarakat Indonesia yang lebih tangguh dan adaftif dalam mendukung upaya transformasi dan pemulihan akibat dampat dari Covid-19 dalam menuju pembangunan dan peradaban manusia Indonesia yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Transformasi pascapandemi ini dalam pembangunan lingkungan hidup, ketahan bencana, dan juga perubahan iklim akan dititikberatkan dan difokuskan pada upaya perbaikan kualitas hidup masyakarat dan lingkungan hidup melalui penanganan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Selain itu juga, peningkatan pemantauan kualitas lingkungan yang secara otomatis, perbaikan sistem ketahana bencana yang tanggap terhadap berncana yang bersifat seketika terjadi (sudden onset) ataupun perlahan (slow onset). Juga dalam pelaksanaan pembangunan yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang rendah emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Adapun untuk penggunaan dana Rp. 2,4 triliun pada tahun 2022 akan diperuntukkan untuk pembangunan fasilitas pengolahan limbah B3 dengan anggaran sebesar Rp. 241 miliar dan penguatan sistem peringatan dini terhadap bencana sebesar Rp. 2,1 triliun.

Baca Artikel Terkait: Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Jokowi Sebut RI Berpotensi Paling Banyak Dilanda Bencana

Jokowi Sebut RI Berpotensi Paling Banyak Dilanda Bencana

Indonesia berpotensi besar untuk mengalami bencana alam hidrometeorologi yang sangat tinggi. Peristiwa tersebut bahkan dirasakan setiap tahunnya dengan jumlah yang mengalami peningkatan baik secara frekuensi maupun intensitasnya.

Hal tersebut disebutkan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo saat memberikan pengarahan dalam Rakorbangnas Badan Meteorologi, Klimatogi, dan Geofisika (BMKG) yang dilaksanakan secara daring pada haris, 29 Juli 2021.

“Frekuensi dan intensitasnya juga mengalami peningkatan setiap tahunnya, bahkan melompat secara drastis. Negara kita ini mengalami multibencana dalam kurun waktu yang bersamaan,” jelas Jokowi.

Jokowi mengambil ocntoh bahwasanya pada periode tahun 2008 hingga 2016, rata-rata Indonesia sendiri mengalami kebencanaalaman mencapai 5 ribu hingga 6 ribu kali dalam satu tahun. Angka tersebut terus menerus meningkat seiring dengan perkembangan waktu.

“Selain itu, pada tahun 2017 meningkat menjadi sekitar 7.170 kali dan pada tahun 2019 mengalami kenaikan yang sangat signifikan hingga mencapai 11.500 kali,” tuturnya.

Selain itu, Jokowi juga menjelaskan bahwa fenomena alam ini termasuk cuaca yang ekstrem dan siklon tropis juga mengalami peningkatan dalam frekuensi maupun intensitasnya, demikian juga halnya seperti fenomena El Nino atau La Nina.

“Periode ulang pada El Nino atau La Nina yang terjadi pada periode tahun 1981 hingga 2020 cenderung mengalami peningkatan hingga 2 sampai 3 tahunan jika dibandingkan periode sebelumnya yakni pada tahun 1950 hingga 1980 yang berkisar 5 sampai 7 tahunan,” lanjutnya.

Nusa Tenggara Timur (NTT) Merasakan Gempa Bumi Sebanyak Lebih Kurang 160 Kali di Bulan Agustus

Ilustrasi gempa bumi, gempa tektonik, namun tidak berpotensi tsunami.

Nusa Tenggara Timur (NTT) Merasakan Gempa Bumi Sebanyak Lebih Kurang 160 Kali di Bulan Agustus. Menurut Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Margiono, NTT telah diguncang lebih kurang 160 kali gempa bumi. Namun hanya sekitar 7 kali yang dapat dirasakan oleh penduduk setempat.

Margiono membandingkan, jumlah kejadian gempa bumi selama Bulan Agustus mengalami peningkatan jika dibandingkan bulan lalu. Rata-rata gempa berketuatan kecil dengan maginitudo 4,0 ke bawah dari 143 kejadian, selain itu yang berkedalaman dangkal lebih kecil 60 kilometer sebanyak 111 kejadian.

Ilustrasi gempa bumi, gempa tektonik, namun tidak berpotensi tsunami.

Kabupaten Sumba Barat Daya, Pulau Sumba yang mendominasi gempa terbanyak hingga mencapai 18 persen. Menurut catatan BMKG, sejak Januari 2021, gempa bumi tertinggi terjadi pada dua hari, Masing-masing 12 kejadian, yakni pada tanggal 11 dan 28 Maret 2021.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat, agar tidak mudah percaya dengan berita-berita palsu atau hoaks yang sering beredar serta memantau informasi gempa bumi dan tsunami dari situs resmi milik BMKG.

Perbedaan Antara Gempa Bumi Tektonik dan Gempa Bumi Vulkanik

Gempa bumi terkini dunia dinotasikan dengan titik-titik hitam terkonsentrasi pada jalur-jalur tektonik

Dikutip dari Badan Metorologi Klimatologi dan Geofisika atau yang sering disebut dengan BMKG, gempa bumi adalah getaran atau getar-getar yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Gempa Bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak Bumi (lempeng Bumi).

Berdasarkan pemicu pergerakannya, terbagi menjadi dua macam yaitu gempa bumi tektonik dan gempa bumi vulkanik.

Gempa bumi tektonik adalah gempa bumi yang disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa bumi ini menimbulkan kerusakan atau bencana alam di Bumi karena getarannya mampu menjalar hampir ke seluruh bagian Bumi.

Jika terjadi tabrakan atau patahan lempeng akibat pergerakan tersebut, maka akan menimbulkan getaran yang biasa kita sebut dengan gempa bumi. Ketika dua lempeng bergerak saling mendekat dan lempeng tidak mampu menahan kekuatan akibat pergerakan tersebut, kondisi ini juga dapat menimbulkan gempa.

Gempa bumi vulkanik adalah gempa bumi yang terjadi akibat adanya aktivitas magma dari gunung berapi sebelum meletus dan biasanya gempa ini hanya dirasakan disekitar gunung api yang masih aktif.

Berdasarkan dari kedua tipe gempa bumi tersebut diatas, gempa tidak serta merta terjadi di sembarang tempat di belahan bumi. Biasanya gempa tektonik terjadi di sekitar batas lempeng bumi sedangkan gempa vulkanik biasanya terjadi hanya di sekitaran gunung berapi yang masih aktif.

Baca juga : Lima Desa Warga Tanggamus Terdampak Banjir, Dua Rumah Rusak Berat