Banjir Bandang Kampar Sebabkan Akses Jalan Terputus, Ratusan Warga Terisolasi

Gerak Cepat PT Perkebunan Nusantara V

Banjir bandang yang terjadi pada 30 Agustus 2021 di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau menyebabkan akses jalan antar desa terputus. Ratusan warga di sejumlah desa tersebut terisolasi setelah terjadinya banjir bandang.

Karena letak terisolasi inilah yang membuat kabar bencana alam tersebut baru sampai terdengar ke Pemerintah Daerah (Pemda) pada tanggal 1 September 2021. Peristiwa alam ini menyebabkan sekitar 450 jiwa di Desa Ludai terdampak, air yang bercampur dengan lumpur membuatnya menjadi keruh merusak sejumlah bangunan seperti tempat tinggal, tempat ibadah, sekolah, fasilitas kesehatan, dan fasilitas umum lainnya.

Karena desa ini sulit diakses, sehingga satu-satunya jalur yangmenghubungkan daerah ke dunia luar adalah melalui sungai. Butuh waktu sekitar empat jam perjalanan menggunakan perahu dengan mesin ke desa dari pusat pemerintahan.

Banjir Bandang Kampar Sebabkan Akses Jalan Terputus, Ratusan Warga Terisolasi

Kepala Badan Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Adi Chandra mengatakan setidaknya ada 31 unit rumah arga yang rusak parah. Begitu juga dengan sekolah, tempat ibadah, dan lebih dari lima belas fasilitas umum juga rusak.

Namun Adi bersyukur tak ada korban jiwa dalam peristiwa alam tersebut. Dia menyebut bahwa cuaca dalam beberapa minggu terakhir ini cenderung tidak bersahabat sehingga kemungkinan akan berpotensi memunculkan bencana serupa.

Meski demikian, banyak dari masyarakat enggan untuk meninggalkan desa tempat tinggal mereka menuju ke tempat pengungsian yang lebih aman dan dapur umur yang telah didirikan oleh para petugas.

“Warga tetap bertahan di desa tersebut dengan segala keterbatasannya, bantuan yang saat ini paling dibutuhkan oleh masyarakat desa ialah sembako,” ujar Adi pada Jumat (3/9/2021).

Menurutnya, bantuan sembako tersebut akan meringankan beban warga desa yang terdampak banjir bandang itu. Pihaknya dengan sigap telah berada di lokasi untuk mengirimkan berbagai bantuan.

Mereka sangat berharap agar bantuan segera di distribusikan ke tempat mereka akibat banyaknya warga yang terisolasi. Peristiwa tersebut mengundang rasa empati para relawan di Pekanbaru. Para relawan tersebut lalu menembus medan yang sangat berat menggunakan mobil off road agar bisa mengirimkan sejumlah bantuan kepada warga yang terdampak.

Gerak Cepat PT Perkebunan Nusantara V

Gerak Cepat PT Perkebunan Nusantara V

Selain para relawan dari Pekanbaru, PT. Perkebunan Nusantara V (PTPN V) melalui Tim Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) juga menyerahkan ratusan sembako yang disalurkan melalui BPBD Kampar untuk didistribusikan kepada masyarakat yang terdampak banjir bandang tersebut.

Jatmiko Santoso selaku Chief Executive Officer PTPN V menyebutkan bahwa ada kitar 150 paket sembako yang dikirimkan ke masyarakat. Dengan komposisi masing-masing berupa beras, gula, minyak makan, dan bahan pokok lainnya.

“Bantuan yang diberikan diharapkan bisa meringankan sedikit untuk masyarakat yang terdampak untuk terus berjuang dalam memulihkan keadaan pasca banjir bandang di Desa Ludai,” pungkas Jatmiko.

Baca juga artikel lainnya: Waspadai 5 Tanda Akan Terjadinya Gempa Bumi yang Harus Anda Ketahui

Catat! Presiden Sudah Alokasikan Dana Rp 2,4 Triliun Untuk Atasi Bencana Alam Tahun 2022

Catat! Presiden Sudah Alokasikan Dana Rp 2,4 Triliun Untuk Atasi Bencana Alam Tahun 2022

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan bermacam-macam puulau dan sangat luas. Selain itu juga, berpotensi terjadinya bencana alam dari Sabang hingga Merauke ditambah permasalahan perubahan iklim yang sangat drastis.

Sehingga dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) untuk tahun anggaran 2022, pemerintah telah mempersiapkan dana sebesar Rp. 2,4 triliun untuk mengatasi segala hal buruk yang terjadi akibat bencana alam, membangun lingkungan hidup, perubahan iklim yang kian hari kian drastis, dan juga menanggulangi dan meningkatkan ketahanan bencana alam.

Catat! Presiden Sudah Alokasikan Dana Rp 2,4 Triliun Untuk Atasi Bencana Alam Tahun 2022

Dalam lampiran Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 85 Tahun 2021 menjelaskan bahwa, bencana hidrometeorologi menjadi bencana alam dengan frekuensi yang paling sering terjadi di wilayah Indonesia.

Dengan risiko ini yang akan terus-menerus meningkat seiring dengan tingginya arus urbanisasi dan juga perubahan iklim. Tantangan dan hambatan untuk ke depannya akan semakin berat jika dalam peningkatan risiko bencana ini masih di atas dengan proses bisnis yang seperti sekarang ini (business as usual).

Maka dari itu, ketahanan bencana alam, pembangunan lingkungan hidup, dan juga perubahan iklim ini dalam RKP tahun 2022 memfokuskan pada peningkatan taraf kualitas hidup masyarakat Indonesia yang lebih tangguh dan adaftif dalam mendukung upaya transformasi dan pemulihan akibat dampat dari Covid-19 dalam menuju pembangunan dan peradaban manusia Indonesia yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Transformasi pascapandemi ini dalam pembangunan lingkungan hidup, ketahan bencana, dan juga perubahan iklim akan dititikberatkan dan difokuskan pada upaya perbaikan kualitas hidup masyakarat dan lingkungan hidup melalui penanganan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Selain itu juga, peningkatan pemantauan kualitas lingkungan yang secara otomatis, perbaikan sistem ketahana bencana yang tanggap terhadap berncana yang bersifat seketika terjadi (sudden onset) ataupun perlahan (slow onset). Juga dalam pelaksanaan pembangunan yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang rendah emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Adapun untuk penggunaan dana Rp. 2,4 triliun pada tahun 2022 akan diperuntukkan untuk pembangunan fasilitas pengolahan limbah B3 dengan anggaran sebesar Rp. 241 miliar dan penguatan sistem peringatan dini terhadap bencana sebesar Rp. 2,1 triliun.

Baca Artikel Terkait: Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Jokowi Sebut RI Berpotensi Paling Banyak Dilanda Bencana

Jokowi Sebut RI Berpotensi Paling Banyak Dilanda Bencana

Indonesia berpotensi besar untuk mengalami bencana alam hidrometeorologi yang sangat tinggi. Peristiwa tersebut bahkan dirasakan setiap tahunnya dengan jumlah yang mengalami peningkatan baik secara frekuensi maupun intensitasnya.

Hal tersebut disebutkan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo saat memberikan pengarahan dalam Rakorbangnas Badan Meteorologi, Klimatogi, dan Geofisika (BMKG) yang dilaksanakan secara daring pada haris, 29 Juli 2021.

“Frekuensi dan intensitasnya juga mengalami peningkatan setiap tahunnya, bahkan melompat secara drastis. Negara kita ini mengalami multibencana dalam kurun waktu yang bersamaan,” jelas Jokowi.

Jokowi mengambil ocntoh bahwasanya pada periode tahun 2008 hingga 2016, rata-rata Indonesia sendiri mengalami kebencanaalaman mencapai 5 ribu hingga 6 ribu kali dalam satu tahun. Angka tersebut terus menerus meningkat seiring dengan perkembangan waktu.

“Selain itu, pada tahun 2017 meningkat menjadi sekitar 7.170 kali dan pada tahun 2019 mengalami kenaikan yang sangat signifikan hingga mencapai 11.500 kali,” tuturnya.

Selain itu, Jokowi juga menjelaskan bahwa fenomena alam ini termasuk cuaca yang ekstrem dan siklon tropis juga mengalami peningkatan dalam frekuensi maupun intensitasnya, demikian juga halnya seperti fenomena El Nino atau La Nina.

“Periode ulang pada El Nino atau La Nina yang terjadi pada periode tahun 1981 hingga 2020 cenderung mengalami peningkatan hingga 2 sampai 3 tahunan jika dibandingkan periode sebelumnya yakni pada tahun 1950 hingga 1980 yang berkisar 5 sampai 7 tahunan,” lanjutnya.

Minahasa Tenggara Dilanda Banjir Bandang, Puluhan Rumah Terendam

Minahasa Tenggara Dilanda Banjir Bandang, Puluhan Rumah Terendam

Banjir bandang yang melanda daerah Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengakibatkan satu orang warga hilang.

“Jalan penghubung antara Ratahan dengan Pangu putus hingga tidak dapat dilewati oleh kendaraan akibat banjir dan beberapa bahan material kayu yang berasal dari Gunung Manimporok dan wilayah Kalatin. Dalam insiden tersebut, dikabarkan bahwasatu orang hilang yang bernama Welly Ngange,” kata James Sumendap Bupati Minahasa Tenggara saat memberikan penjelasan pada hari Selasa, 21 September 2021.

James juga mengatakan bahwa peristiwa banjir bandang tersebut yang melanda wilayahnya itu sudah dilaporkan ke Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara. Menurut penjelasannya, hingga saat ini akibat insiden tersebut, ada sekitar puluhan rumah warga terdampak banjir bandang hingga tenggelam dan 4 rumah lainnya hanyut terbawa arus air yang sangat deras.

Minahasa Tenggara Dilanda Banjir Bandang, Puluhan Rumah Terendam

“Ada sekitar 50 rumah yang terendam dan yang hanyut ada 4 rumah. Saat ini pihaknya sedang melakukan penelusuran terhadap satu orang warga yang diduga hilang berasal dari desa Pangu,” jelasnya.

James menjelaskan akan terus berusaha dan berupaya semaksimal mungkin untuk mencari korban yang hilang tersebut. Dirinya juga mengaku sudah berkoordinasi dengan Pemprov.

“Prioritas kami membuka akses dan mencari korban yang hilang. Kita akan kerahkan sekuat tenaga di seluruh Mitra untuk mencari korban. Koordinasi dengan Pemprov Sulawesi Utara sudah kami lakukan dan laporkan,” pungkas James.

James juga mengimbau kepad aseluruh masyarakat di wilayah yang rawan banjir untuk tetap waspada dan hati-hati bila terjadi banjir bandang susulan.

“Imbauan, rawan bencana, di bukit-bukit, di pinggir, dan di gunung-gunung karena curah hujan yang tinggi tentu tanah menjadi lebih berisiko. Lebih waspada dan antisipasi terlebih dahulu dan menghindar bila terjadi bencana susulan,” ujar James.

Banjir Bandang Minahasa: 33 Rumah Terendam, Tiga Hanyut

Banjir Bandang Minahasa: 33 Rumah Terendam, Tiga Hanyut

Menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minahasa Tenggara tercatat bahwa sebanyak 33 rumah terdampak banjir bandang yang menerjang Minahasa pada hari Senin, 20 September 2021 dan dilaporkan juga sebanyak 3 rumah warga ikut hanyut terbawa arus.

Baca juga: Akankah Ibukota Akan Tenggelam di Tahun 2030?

Pada hari Senin, 20 September 2021, sekitar pukul 14.30 waktu setempat, diketahui peristiwa banjir bandang dengan ketinggian muka air berkisar antara 200 hingga 300 sentimeter.

BPBD Kabupaten Mitra mengatakan, banjir bandang itu menyapu bersih material-material lumpur dan kayu yang berasal dari pegunungan Manimporok. Untuk rincian rumah warga yang hanyut pasca diterjang banjir bandang tersebut ialah, 1 unit kios, 1 unit rumah warga, dan 1 unit bengkel.

“Sedangkan banjir bandang berdampak pada rumah warga 17 unit dan balai 1 terjadi di wilayah Ratahan Timur,” ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari pada hari Selasa, 21 September 2021.

Abdul juga menjelaskan bahwa pasca kerjadian tersebut petugas BPBD telah melakukan upaya penanganan darurat dengan selalu menyiagakan tim reaksi cepat tanggap, salah satunya yakni mengevakuasi warga dan mengkaji gerak cepat di lapangan. BPBD juga sudah berkoordinasi dengan para instansi terkait dalam memastikan keselamatan warga khususnya yang terdampak di dua kecamatan tersebut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis peringatan dinitentang waspada potensi hujan lebat yang disertai dengan petir dan kilat serta angin kencang di beberapa wilayah di Pulau Sulawesi.