Catat! Presiden Sudah Alokasikan Dana Rp 2,4 Triliun Untuk Atasi Bencana Alam Tahun 2022

Catat! Presiden Sudah Alokasikan Dana Rp 2,4 Triliun Untuk Atasi Bencana Alam Tahun 2022

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan bermacam-macam puulau dan sangat luas. Selain itu juga, berpotensi terjadinya bencana alam dari Sabang hingga Merauke ditambah permasalahan perubahan iklim yang sangat drastis.

Sehingga dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) untuk tahun anggaran 2022, pemerintah telah mempersiapkan dana sebesar Rp. 2,4 triliun untuk mengatasi segala hal buruk yang terjadi akibat bencana alam, membangun lingkungan hidup, perubahan iklim yang kian hari kian drastis, dan juga menanggulangi dan meningkatkan ketahanan bencana alam.

Catat! Presiden Sudah Alokasikan Dana Rp 2,4 Triliun Untuk Atasi Bencana Alam Tahun 2022

Dalam lampiran Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 85 Tahun 2021 menjelaskan bahwa, bencana hidrometeorologi menjadi bencana alam dengan frekuensi yang paling sering terjadi di wilayah Indonesia.

Dengan risiko ini yang akan terus-menerus meningkat seiring dengan tingginya arus urbanisasi dan juga perubahan iklim. Tantangan dan hambatan untuk ke depannya akan semakin berat jika dalam peningkatan risiko bencana ini masih di atas dengan proses bisnis yang seperti sekarang ini (business as usual).

Maka dari itu, ketahanan bencana alam, pembangunan lingkungan hidup, dan juga perubahan iklim ini dalam RKP tahun 2022 memfokuskan pada peningkatan taraf kualitas hidup masyarakat Indonesia yang lebih tangguh dan adaftif dalam mendukung upaya transformasi dan pemulihan akibat dampat dari Covid-19 dalam menuju pembangunan dan peradaban manusia Indonesia yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Transformasi pascapandemi ini dalam pembangunan lingkungan hidup, ketahan bencana, dan juga perubahan iklim akan dititikberatkan dan difokuskan pada upaya perbaikan kualitas hidup masyakarat dan lingkungan hidup melalui penanganan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Selain itu juga, peningkatan pemantauan kualitas lingkungan yang secara otomatis, perbaikan sistem ketahana bencana yang tanggap terhadap berncana yang bersifat seketika terjadi (sudden onset) ataupun perlahan (slow onset). Juga dalam pelaksanaan pembangunan yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang rendah emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Adapun untuk penggunaan dana Rp. 2,4 triliun pada tahun 2022 akan diperuntukkan untuk pembangunan fasilitas pengolahan limbah B3 dengan anggaran sebesar Rp. 241 miliar dan penguatan sistem peringatan dini terhadap bencana sebesar Rp. 2,1 triliun.

Baca Artikel Terkait: Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Jokowi Sebut RI Berpotensi Paling Banyak Dilanda Bencana

Jokowi Sebut RI Berpotensi Paling Banyak Dilanda Bencana

Indonesia berpotensi besar untuk mengalami bencana alam hidrometeorologi yang sangat tinggi. Peristiwa tersebut bahkan dirasakan setiap tahunnya dengan jumlah yang mengalami peningkatan baik secara frekuensi maupun intensitasnya.

Hal tersebut disebutkan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo saat memberikan pengarahan dalam Rakorbangnas Badan Meteorologi, Klimatogi, dan Geofisika (BMKG) yang dilaksanakan secara daring pada haris, 29 Juli 2021.

“Frekuensi dan intensitasnya juga mengalami peningkatan setiap tahunnya, bahkan melompat secara drastis. Negara kita ini mengalami multibencana dalam kurun waktu yang bersamaan,” jelas Jokowi.

Jokowi mengambil ocntoh bahwasanya pada periode tahun 2008 hingga 2016, rata-rata Indonesia sendiri mengalami kebencanaalaman mencapai 5 ribu hingga 6 ribu kali dalam satu tahun. Angka tersebut terus menerus meningkat seiring dengan perkembangan waktu.

“Selain itu, pada tahun 2017 meningkat menjadi sekitar 7.170 kali dan pada tahun 2019 mengalami kenaikan yang sangat signifikan hingga mencapai 11.500 kali,” tuturnya.

Selain itu, Jokowi juga menjelaskan bahwa fenomena alam ini termasuk cuaca yang ekstrem dan siklon tropis juga mengalami peningkatan dalam frekuensi maupun intensitasnya, demikian juga halnya seperti fenomena El Nino atau La Nina.

“Periode ulang pada El Nino atau La Nina yang terjadi pada periode tahun 1981 hingga 2020 cenderung mengalami peningkatan hingga 2 sampai 3 tahunan jika dibandingkan periode sebelumnya yakni pada tahun 1950 hingga 1980 yang berkisar 5 sampai 7 tahunan,” lanjutnya.