Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengingatkan dan mengimbau masyarakat serta Pemerintah Daerah (Pemda) Pacitan untuk siap dengan skenario terburuk akibat terjadinya gempa dan tsunami.

Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Baca artikel terkait: [TRENDING] Gempa Bumi Pada 15 September, Getarkan Tanah Air Hingga 6 Kali

Hal tersebut perlu dilakukan dan dipersiapkan untuk menghindari dan juga mengurangi resiko yang diakibatkan oleh bencana alam gempa bumi dan tsunami yang berpotensi akan mengintai daerah pesisir selatan di pUlau Jawa karen adanya pergerakan dua buah lempeng raksasa yakni lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia.

“Wilayah di Pantai Pacitan berpotensi terjadinya tsunami dengan ketinggian 28 meter dengan estimasi waktu tiba kurang lebih 30 menit. Adapun potensi jarak genangan mencapai 5 hingga 7 kilometer bila diukur dari bibir pantai dan tinggi genangan air yang mencapai daratan bisa mencapai sekitar 15 sampai 20 meter,” jelas Dwikorita melaui keterangan resmi BMKG pada Senin, 13 September 2021.

Dalam acara simulasi tersebut, Dwikorita berbincang bersama Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini dan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji untuk melakukan verifikasi zona bahaya dan menelusuri jalu-jalur evakuasi bencana alam yang mudah dijangkau oleh para masyarakat di daerah kelahiran Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ITU.

Dengan skenario tersebut, diharapakan bagi masyarakat yang berada di daerah dengan zona bahaya perlu terus dilatih secara rutin untuk melakukan langkah-langkah evakuasi mandiri bila mendapat Peringatan Dini Bahaya Tsunami dengan batas waktu maksimum 5 menit setelah terjadinya gempa bumi.

Untuk masyarakat khusus yang tinggal di pesisir pantai, harus segera mematuhi perintah dan aturan tentang bahaya bencana alam dan segera pergi untuk mengungsi k etempat atau dataran yang lebih tinggi jika sudah merasakan guncangan atau getaran yang akan menyebabkan gempa bumi.

“Teruntuk masyarakat yang khususnya tinggal di daerah pesisir pantai, tidak perlu menunggu aba-aba, sirine atau perintah dari BMKG. Jika sudah merasakan getarannya baik kecil ataupun besar, segeralah menyelamatkan diri dengan berlari ke dataran yang lebih tinggi yang dirasa cukup jauh dari pesisir pantai dan harus aman. Karena batas waktu yang dimiliki hanya sekitar 30 menit setelah gempa terjadi,” katanya.

Kepala BMKG tersebut menjelaskan, skenario yang dimaksudkan adalah masih bersifat potensi artinya kemugkinan bisa kapan saja terjadi atau malah tidak terjadi sama sekali. Namun, seklai lagi ia tegaskan untuk pemerintah dan masyarakat sekitar harus sudah siap dengan skenario terburuk itu sehingga meminimalisir korban berjatuhan.

“Jadi kami mengimbau seperti ini bukan bermaksud untuk menakut-nakuti. Tidak sama sekali. Skenario ini dibuat bertujuan agar masyarakat dan pemerintah daerah akan terlatih jika sewaktu-waktu bencana alam itu datang. Sehingga tidak ada istilah gugup atau gagap saat bencana alam itu datang. Dengan begitu mayarakat dan pemerintah sudah sigap siaga bencana dan tahu langkah apa saja yang harus dilaksanakan dengan waktu yang sangat terbatas itu,” ujar Dwikorita.

Ia juga menegaskan bahwa, hingga pada saat ini belum ada teknologi atau satu pun negara di belahan dunia lainnya yang dapat memprediksikan dengan tepat kapan terjadinya gempa dan tsunami dengan akurat dan tepat. Maksudnya lengkap dengan perkiraan tanggal, jam, lokasi, dan magnitudo gempa. Semuanya masih berupa bentuk kajian yang diolah berdasarkan sejarah pada wilayah itu sendiri di masa lampau.

BMKG juga meminta dan merekomendasikan kepada pemerintah daerah untuk siap menghadapi segala bentuk bencana alam dan memperbanyak jalur-jalur untuk evakuasi dengan lengkap sesuai dengan rambu-rambu dari menuju zona merah sampai dengan zona hijau.

Beberapa Wilayah yang Terancam Terjadinya Tsunami Besar

Beberapa Wilayah yang Terancam Terjadinya Tsunami Besar

Wilayah yang berpotensi terjadinya tsunami besar setinggi 20 meter yang bisa terjadi di pesisir selatan Pulau Jawa hingga Selat Sunda, itu semua berpeluang juga dampaknya hingga ke pesisir utara seperti daerah DKI Jakarta, Banten dan sekitarnya.

Menurut Heri Andreas yang merupakan Kepala Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan data dari Global Navigation Satellite System (GNSS) yang melaporkan terdapat akumulasi energi di bagian wilayah Selat Sunda sampai ke Pelabuhan Ratu. Daerah lain yang disebutkan juga ada seperti Parangtritis dan Pantai Jawa Timur di bagian Selatan.

gempa yang akan terjadi diperkirakan berkekuatan magnitudo 8,7 hingga 9,0 dengan potensi terjadinya tsunami setinggi 20 meter. Sementara di DKI Jakarta Sendiri, gelombang tsunami air laut diprediksi mencapai 1 hingga 2 meter. Hal ini lebih kecil jika dibandingkan dengan perkiraan tsunami yang berada di Pantai Jawa Timur bagian Selatan.

Maka dari itu, Dwikorita meminta kepada masyarakat yang tinggal di daerah yang rawan akan bencana alam seperti di pesisir pantai untuk segera berlatih melakukan evakuasi mandiri appabila merasakan getaran yang disebabkan oleh gempa bumi tanpa harus menunggu instruksi atau peringatan dini lagi dari BMKG.

“Kita semua harus belajar dari pengalaman, tak perlu menunggu peringatan dini tsunami dari BMKG. Begitu merasakan goncangan baik kecil ataupun besar yang dirasakan oleh tanah atau gempa, segeralah berlari. Jauhi pantai dan berpindah ke tempat yang lebih tinggi atau bukit-bukit,” imbuh Dwikorita.