Hati-hati, Beberapa Daerah Empat Lawang, Sumatera Selatan Rawan Tanah Longsor

Kabupaten Empat Lawang

Kabupaten Empat Lawang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di provinsi Sumatera Selatan dan ibukotanya terletak di Tebing Tinggi. Kabupaten ini diresmikan pada tanggal 20 April 2007 yang sebelumnya disetujui oleh DPR melalui Rancangan Undang Undang (RUU) pada tanggal 8 Desember 2006.

Kabupaten Empat Lawang

Suku yang mendiami kabupaten tersebut mayoritas Suku Lintang atau sering disebut Jemo Lintang – 55% bermukim di Lintang Kanan, Muara Pinang, Pendopo, Pendopo Barat, Sikap Dalam dan Ulu Musi).

Suku dan Suku Pasemah
– 19 % bermukim di Pasemah Air Keruh
Suku SALING
– 12% bermukim di Saling
Suku KIKIM Tebing
– 5 % bermukim di Tebing Tinggi

Dan sisanya didiami oleh suku minoritas 9% seperti Suku Jawa, Suku Sunda dan lain-lain.

7 Kecamatan di Empat Lawang Berpotensi Tanah Longsor

7 Kecamatan di Empat Lawang Berpotensi Longsor

Kabupaten Empat Lawang merupakan dataran tinggi dan memiliki banyak kawasan perbukitan menyebabkan daerah ini rawan terhadap potensi bencana longsor. Bahkan beberapa minggu ini, beberapa daerah khususnya di Kabupaten Empat Lawang sedang dilanda hujan.

Sahrial Podril, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan membenarkan perihal itu. Bahkan menurutnya, wilayah Kabupaten Empat Lawang memiliki dataran yang tinggi sehingga sangat rawan akan bahaya tanah longsor.

Menurut data BPBD Kabupaten Empat Lawang, banjir bandang terjadi di Desa Babatan, Kecamatan Lintang Kanan. Satu jembatan putus dihantam arus derasnya Sungai Air Lintang.

Di Desa Cangguh, Kecamatan Talang Padang terjadi tanah longsor dan pohon tumbang yang sempat menutupi jalan lintas penghubung desa. Sehingga menyebabkan kemacetan di beberapa titik ruas jalan dan pengguna jalan harus berputar balik mencari jalan alternatif. Petugas sudah memasang rambu bahaya bencana serta membersihkan sisa longsoran tanah dan mengevakuasi serpihan kayu tumbang.

Baca juga : Nusa Tenggara Timur (NTT) Merasakan Gempa Bumi Sebanyak Lebih Kurang 160 Kali di Bulan Agustus

Beberapa daerah di Kabupaten Empat Lawang yang sangat rentan akan bencana longsor diantaranya Kecamatan Tebing Tinggi, Kecamatan Ulu Musi, Kecamatan Paiker, Kecamatan Sikap Dalam, Kecamatan Pendopo, Kecamatan Pendopo Barat, dan Kecamatan Talang Padang.

“Hampir setiap hari dalam sepekan, baik hujan deras maupun hujan ringan, dengan begitu, artinya tingkat kewaspadaan terhadap banjir, tanah longsor dan erosi tanah juga harus di tingkatkan,” pungkasnya.

Sebab sebagian besar wilayah di Kabupaten Empat Lawang merupakan perbukitan dan dataran tinggi, kalau longsor tentunya akses jalan kami tutup, tapi sejauh ini kondisi masih aman. “Tapi tetap harus waspada, kami sudah berikan peringatan dari BMKG ke Kecamatan untuk dibantu teruskan ke warga,” ungkapnya.

Nusa Tenggara Timur (NTT) Merasakan Gempa Bumi Sebanyak Lebih Kurang 160 Kali di Bulan Agustus

Ilustrasi gempa bumi, gempa tektonik, namun tidak berpotensi tsunami.

Nusa Tenggara Timur (NTT) Merasakan Gempa Bumi Sebanyak Lebih Kurang 160 Kali di Bulan Agustus. Menurut Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Margiono, NTT telah diguncang lebih kurang 160 kali gempa bumi. Namun hanya sekitar 7 kali yang dapat dirasakan oleh penduduk setempat.

Margiono membandingkan, jumlah kejadian gempa bumi selama Bulan Agustus mengalami peningkatan jika dibandingkan bulan lalu. Rata-rata gempa berketuatan kecil dengan maginitudo 4,0 ke bawah dari 143 kejadian, selain itu yang berkedalaman dangkal lebih kecil 60 kilometer sebanyak 111 kejadian.

Ilustrasi gempa bumi, gempa tektonik, namun tidak berpotensi tsunami.

Kabupaten Sumba Barat Daya, Pulau Sumba yang mendominasi gempa terbanyak hingga mencapai 18 persen. Menurut catatan BMKG, sejak Januari 2021, gempa bumi tertinggi terjadi pada dua hari, Masing-masing 12 kejadian, yakni pada tanggal 11 dan 28 Maret 2021.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat, agar tidak mudah percaya dengan berita-berita palsu atau hoaks yang sering beredar serta memantau informasi gempa bumi dan tsunami dari situs resmi milik BMKG.

Perbedaan Antara Gempa Bumi Tektonik dan Gempa Bumi Vulkanik

Gempa bumi terkini dunia dinotasikan dengan titik-titik hitam terkonsentrasi pada jalur-jalur tektonik

Dikutip dari Badan Metorologi Klimatologi dan Geofisika atau yang sering disebut dengan BMKG, gempa bumi adalah getaran atau getar-getar yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Gempa Bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak Bumi (lempeng Bumi).

Berdasarkan pemicu pergerakannya, terbagi menjadi dua macam yaitu gempa bumi tektonik dan gempa bumi vulkanik.

Gempa bumi tektonik adalah gempa bumi yang disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa bumi ini menimbulkan kerusakan atau bencana alam di Bumi karena getarannya mampu menjalar hampir ke seluruh bagian Bumi.

Jika terjadi tabrakan atau patahan lempeng akibat pergerakan tersebut, maka akan menimbulkan getaran yang biasa kita sebut dengan gempa bumi. Ketika dua lempeng bergerak saling mendekat dan lempeng tidak mampu menahan kekuatan akibat pergerakan tersebut, kondisi ini juga dapat menimbulkan gempa.

Gempa bumi vulkanik adalah gempa bumi yang terjadi akibat adanya aktivitas magma dari gunung berapi sebelum meletus dan biasanya gempa ini hanya dirasakan disekitar gunung api yang masih aktif.

Berdasarkan dari kedua tipe gempa bumi tersebut diatas, gempa tidak serta merta terjadi di sembarang tempat di belahan bumi. Biasanya gempa tektonik terjadi di sekitar batas lempeng bumi sedangkan gempa vulkanik biasanya terjadi hanya di sekitaran gunung berapi yang masih aktif.

Baca juga : Lima Desa Warga Tanggamus Terdampak Banjir, Dua Rumah Rusak Berat

347 Tahun yang Lalu, Gempa Bumi dan Mega Tsunami Meluluhlantahkan Bumi Maluku

347 Tahun yang Lalu, Gempa Bumi dan Mega Tsunami Meluluhlantahkan Bumi Maluku

 

Sejarah mencatat Gempa dan Mega Tsunami yang pernah melanda wilayah Maluku pada tahun 1674 silam meluluhlantahkan bumi Maluku waktu itu. Pusat kejadian tersebut yang kita kenal sekarang ialah Ambon, merupakan salah satu bencana alam terbesar sepanjang sejarah umat manusia di Indonesia yang menyelimuti perjalanan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda di Nusantara.

Sekadar informasi, VOC singkatan dari Vereenigde Oostindische Compagnie yang berdiri sejak tanggal 20 Maret 1602. VOC merupakan kongsi dagang terbesar milik Belanda dan berpusat di Nusantara untuk menyatukan perdagangan rempah-rempah dari wilayah timur dalam memperkokoh sebuah kedudukan Belanda di Indonesia pada masa itu.

347 Tahun yang Lalu, Gempa Bumi dan Mega Tsunami Meluluhlantahkan Bumi Maluku

Ignatius Ryan Pranantyo & Phil R. Cummins menulis dalam jurnalnya yang dimuat pada SpringerLink berjudul “The 1674 Ambon Tsunami: Extreme Run-Up Caused by an Earthquake-Triggered Landslide” pada tahun 2019 tentang bencana besar yang terjadi di Ambon, Indonesia.

“Beberapa menit sebelum terjadiperistiwa yang sangat besar itu, lonceng-lonceng besar yang berada di Kastil Victoria berdentang dan mengeluarkan bunyi dengan sendirinya.” tulis Pranantyo dan Cummins. Tak seorang pun yang bisa menduga akan terjadi sesuatu yang sangat dahsyat itu akan terjadi. Saat kejadian itu, banyak di antara orang-orang berjatuhan ketika tanah bergerak mengombak naik turun seperti ombak di lautan lepas.

“Kali pertama gempa yang dirasakan dengan guncangan dahsyat dari dalam tanah di wilayah Ambon. Banyak sebagian bangunan dan rumah warga hancur berantakan dan menjadi rata dengan tanah” tulis Georg Everhard Rumphius dalam laporannya yang tersusun rapi di dalam Perpustakaan Rumphius yang terletak di Katedral St. Fransiskus Xaverius, Ambon.

Baca Juga: Apa itu Tanah Longsor dan Bagaimana Proses Terjadinya?

Gempa dan Tsunami di Ambon Tercatat Rapi di Laporan UNESCO

Gempa dan Tsunami di Ambon Tercatat Rapi di Laporan UNESCO

Laporan Rumphius tersebut terangkum juga di dalam website resmi IOC UNESCO yang berjudul Summary notes of Georg Everhard RUMPHIUS, yang ditranslasikan dari laporan aslinya yang berbahasa Belanda oleh E.M. Beekman and F.Foss pada tahun 1997.

“Seluruh wwilayah di Provinsi tersebut yaitu Seram, Hitu, Nusatelo, Leytimor, Buro, Amblau, Oma, Bonoa, Kelang, Manipa, Honimoa, Nusalaut, dan wilayah lain yang berada di sekitarnya, merasakan getaran dan guncangan yang amat begitu kencang dan mengerikan. Sehingga banyak orang-orang yang meyakinkan bahwa hari itu ialah Hari Kiamat yang sudah tiba bagi mereka” tulisnya.

Sebagian tempat di wilayah yang terdampak bencana alam tersebut menjadi sangat rusak parah. “Di wilayah Leitimor dan Semenanjung Hitu, banyak tempat yang terjadi tanah retak dan juga banyak terjadi bekas longsoran akibat peristiwa naas yang sangat kuat di Pegunungan Manuzau dan Wawani” tulis UNESCO dalam laporan dengan judul Air Turun Naik di Tiga Negeri Mengingat Tsunami Ambon 1950, yang diterbitkan pada tahun 2016.

Pasca guncangan yang dahsyat itu, mulailah muncul gelombang pasang yang kecil di daerah perairan Teluk Ambon. Gelombang tersebut datang dan menarik mundur kembali yang dijumpainya di daratan sebanyak lebih dari tiga kali. Air yang naik dengan ketinggian 5 sampai dengan 6 kaki, dan beberapa sumur air milik warga yang sangat dalam bisa terisi begitu dengan cepat. Sehingga orang-orang bisa menjangkau dan mengambil air dengan tangan tanpa perlu alat bantuan. Semnetara, pada berikutnya sumur itu kosong lagi tidak terisi oleh air.

“Pantai timur di Sungai Waytomme mulai terbelah dan air menyembur ke segala arah dengan ketinggian sekitar 18 hingga 20 kaki. Melemparkan pasir berlumpur biru yang diyakini oleh kebanyakan orang hanya bisa ditemukan pada kedalaman laut 2 hingga 3 depa” lanjutnya.

“Gempa yang begitu dahsyat tersebut diikuti oleh mega tsunami yang super besar dengan ketinggian mencapai 100 meter yang hanya bisa diamati di pantai utara di Pulau Ambon” tulis Cummins dan Panantyo.

“Semua orang berlarian ke tempat yang lebih tinggi agar bisa menyelamatkan diri, di mana mereka bertemu dengan sang Gubernur, kompi besar dan jajarannya. Mereka disana mulai memimpin majelis dan ibadah dengan berdoa di bawah langit yang cerah, berharap ada mukjizat untuk menyelamatkan mereka semua”. tambah Rumphius.

Suara dentuman seperti tembakan meriam yang jauh terus di dengar oleh orang-orang. Sebagian besar terdengar dari arah Utara dan Barat Laut, yang menunjukkan bahwa beberapa gunung mungkin akan meletus atau setidaknya runtuh satu per satu.

“Akibat dari bencana alam tersebut, banyak orang yang meninggal dunia. Kerusakan yang dialami terus diberitakan dari tempat ke tempat, diperkirakan ada sekitar 2.243 jiwa masyarakat asli Indonesia dan diantaranya mencakup sekitar 31 orang Eropa. Dengan total keseluruhan mencapai 2.322 jiwa korban” ujar Rumphius dalam menutup laporannya.

Gunung Berapi Merupakan Peristiwa Alam yang Tidak Dapat Kita Hindari

Gunung Berapi Merupakan Peristiwa Alam yang Tidak Dapat Kita Hindari

Survei Geologi Amerika Serikat atau United States Geological Survey (USGS) merupakan sebuah badan atau agensi ilmiah yang dimiliki oleh pemerintahan Amerika Serikat (AS). Para ilmuwan yang bernaung di dalam badan ini mempelajari lansekap Amerika Serikat, sumber daya alamnya dan juga segala jenis bencana alam yang dapat mengancamnya. Agensi ini mempunyai 4 disiplin ilmu ilmiah yang utama, diantaranya biologi, geografi, air, dan geologi. Organisasi ini adalah suatu badan riset pencari fakta yang tidak memiliki kekuasaan dalam mengaturnya.

Gunung Berapi Merupakan Peristiwa Alam yang Tidak Dapat Kita Hindari

Menurut catatan USGS, mencatat bahwa struktur Bumi yang berada pada wilayah inti bagian luar hingga mantel Bumi yang terdiri dari banyak batuan yang mencair akibat suhu yang sangat panas.

Batuan-batuan cair tersebut akan menjadi magma, terus bergerak naik yang pada akhirnya mengisi ruang magma di bawah kerak Bumi. Jika magma sudah penuh dan tidak dapat terbendung lagi, maka secara otomatis akan keluar sebagai lava melalui gunung berapi.

Nah, untuk energi yang diakibatkan oleh letusan gunung berapi beraneka macam tergantung banyaknya magma yang dikandung. Semakin kencang daya letusannya, berarti magma yang dikandung semakin banyak. Biasanya, energi yang diakibatkan dari letusan bisa sangat masif dan bahkan mempengaruhi kehidupan yang ada di sekitarnya.

Baca juga: Minahasa Tenggara Dilanda Banjir Bandang, Puluhan Rumah Terendam

5 Letusan Gunung Berapi Terhebat, Indonesia Paling Banyak!

5 Letusan Gunung Berapi Terhebat, Indonesia Paling Banyak!

Inilah beberapa letusan yang diakibatkan dari gunung berapi yang paling dahsyat di dunia dan di antaranya Indonesia masuk kategori yang paling banyak. Bahkan daya kekuatannya melebihi bom atom yang pernah terjadi di dunia. Simak penjelasannya berikut ini!

1. Letusan Gunung Pinatubo di Filipina

Gunung Pinatubo merupakan gunung berapi yang aktif dan sangat terkanal di Filipina. USGS mencatat bahwa gunung berapi tersebut pernah meletus dengan sangat dahsyat pada tanggal 15 Juni 1991 lalu di sebuah desa di Filipina.

Setahun sebelum terjadinya letusan hebat tersebut, Filipina dilanda gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 SR yang terjadi di 100 Kilometer Timur Laut Gunung Pinatubo. Penduduk setempat mengkhawatirkan yang akan terjadi di tahun tersebut, karena sudah hampir 500 tahun Gunung Pinatubo tidak meletus.

Tepat pada bulan April 1991, terdapat ribuan gempa yang pernah terjadi persis di bawah kawasan Pinatubo, di mana gempa ini yang mempengaruhi naiknya magma ke atas permukaan dengan ketinggian 32 Kilometer. Puncaknya terjadi di bulan Juni, di mana Gunung Pinatubo meletus dan mengeluarkan ratusan ribu ton gas sulfur dioksida.

Pada bulan yang sama, jutaan meter kubik magma meledak dalam sebuah letusan yang sangat dahsyatsejak letusan Pinatubo 500 tahun yang lalu. Awan abu yang dilontarkan mencapai 35 Kilometer hingga ke udara, angin yang meniup abu tersebut sampai ke perairan Samudera Hindia.

Sebanyak 20 juta ton gas sulfur juga terlontar ke udara bebas, membuat desa di sekitarnya hancur dan tak dapat ditinggali dengan jangka waktu yang cukup lama. Untungnya, bencana alam ini sudah diprediksikan oleh para ahli geologi dari negara Amerika Serikat pada sebelumnya, sehingga bisa meminimalisir banyaknya korban jiwa berjatuhan.

2. Letusan Gunung Vesuvius di Italia

Letusan Gunung Vesuvius ini menghancurkan hampir seluruh bagian kota Pompeii yang berada di Italia dan merupakan salah satu letusan gunung berapi yang paling hebat yang pernah terjadi di sepanjang sejarah manusia. Gunung Vesuvius tercatat sudah meletus lebih dari 50 kali dan letusan yang paling dahsyat terjadi pada tahun 79 Masehi.

Seluruh kota bersejarah Pompeii telah tertutup oleh lahar panas dari gunung tersebut. Bahkan kegelapan menyelimuti kota itu dalam jangka waktu yang lama. Dengan semburan abu panas yang sangat beracun itu yang bergerak dengan kecepatan 140 km per jam, akan membuat siapa saja pasti terkubur hidup-hidup tanpa bisa selamat.

Akibat dari letusan yang sangat dahsyat itu, seluruh Kota Pompeii terkubur oleh abu vulkanik dan kurang lebih 17 ribu orang tewas dalam peristiwa mengenaskan itu. Setelah ratusan tahun lamanya, Kota Pompeii dan kota-kota kecil lainnya yang berada di sekitarnya telah menjadi kota yang tinggal kenangan.

3. Letusan Gunung Tambora di Indonesia

Letusan Gunung Tambora tercatat dalam sejarah dunia yang menjadi salah satu letusan gunung berapi terbesar dan paling dahsyat di dunia. Tepatnya pada bulan April 1815 letusan gunung tersebut melontarkan abu, batuan, lava dan gas-gas paling beracun sebanyak 150 km kubik. Selain itu juga ada belerang dengan jumlah 70 megaton yang terhempaskan bebas ke angkasa.

Peristiwa dahyat ini memberi dampak global bagi dunia, yakni subu di seluruh permukaan Bumi sebesar 3 derajat Celcius. Korban jiwa yang diakibatkan dari letusan gunung berapi ini mencapai hingga 100 ribu jiwa.

10 ribu orang meninggal langsung akibat letusan ini, dan sekitar 90 ribu orang meninggal akibat kelaparan karen atidak adanya bahan pangan utama yang diakibatkan oleh letusan gunung itu. Pepohonan dan tanaman tidak dapat tumbuh lamanya dengan baik pasca terjadinya letusan. Hal ini juga berdampak dan mempengaruhi jumlah pangan di seluruh dunia.

Buruknya lagi, setahun setelah terjadinya letusan gunung Tambora tersebut, hampir sepanjang satu tahun lamanya sinar Matahari tidak bisa menjangkau permukaan Bumi. Akibatnya, setahun itu merupakan tahun yang dilalui tanpa adanya musim panas. Cuaca dingin terjadi dimana-mana yang membuat para petani dan peternak gagal panen sehingga menimbulkan bencana kelaparan di seluruh wilayah tersebut.

4. Letusan Gunung Krakatau di Indonesia

Masih di Indonesia, Letusan Gunung Krakatau ini terjadi tepat pada bulan Agustus 1883. Dalam sejarah peradaban manusia, letusan Gunung Krakatau ini dianggap sebagai letusan yang paling hebat dan terdahsyat yang pernah terjadi di muka bumi.

Diperkirakan ada sekitar 50 ribu korban jiwa yang meninggal akibat bencana gunung meletus itu. Letusan yang diakibatkan gunung Krakatau itu juga menurunkan suhu global, sehingga rata-rata suhu di belahan dunia manapun menjadi lebih dingin walaupun sedang terjadi musim panas.

Bahkan, letusan gunung Kratau ini juga terdengar jelas sampai ke Benua Australiadan dengan radius sejauh 4.500 Km. Bencana alam ini melontarkan banyak material vulkanik ke udara bebaskurang lebih sejauh 40 Km dengan kecepatan rata-rata 100 Km per jam nya.

Letusan yang sangat dahsyat ini mendapatkan peringkat ke-6 dalam Volcano Explosion Index, yang artinya setara dengan ledakan 200 megaton TNT. Juga ledakan semacam ini memiliki kekuatan puluhan ribu kali lebih dahsyat dan hebat jika dibandingkan dengan bom atom yang pernah terjadi di Kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang.

5. Letusan Gunung Toba di Indonesia

Ternyata, letusan gunung Krakatau dan gunung lainnya bukanlah letusan yang paling hebat. Nyatanya, ada lagi letusan yang paling hebat dan kuat yakni Letusan Gunung Toba. Untungnya, letusan gunung Toba ini yang sangat super dahsyat terjadi di masa purba, yakni pada 73 ribu hingga 75 ribu tahun yang lalu.

Saking hebatnya, letusan gunung tersebut dapat membentuk sebuah perairan yang sangat besar yang dikelilingi oleh daratan. Kini, wilayah tersebut kita kenal sebagai Danau Toba yakni sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.

Bahkan, banyak ilmuwan juga mengatakan bahwa akibat dari letusan gunung Toba tersebut, peristiwa kepunahan manusia purba yang berada di benua Afrika hampir terjadi.

Dalam catatan National Geographic, ada seorang ahli geologi yang berasal dari University of Nevada pernah mengatakan bahwa letusan gunung Toba merupakan letusan yang paling dahsyat yang pernah terjadi dalam 2 juta tahun terakhir. Letusan Gunung Toba memiliki kekuatan ribuan kali lebih kuat dibandingkan dengan letusan Gunung Krakatau.

Jika dianalogikan dengan bom atom yang pernah dijatuhkan di Kota Hiroshima, Jepang, maka dibutuhkan paling sedikit 6 juta bom atom Hiroshima untuk bisa menyamakan kekuatan ledakan yang dihasilkan oleh Gunung Toba. Banyak sekali spesies yang punah pada saat itu. Dengan kurun waktu yang lama, sinar Matahari tidak bisa menembus Bumi akibat dari tebalnya abu vulkanik yang menutupi hampir seluruh bagian permukaan Bumi yang terdampak oleh letusan Gunung Toba tersebut.

Hal tersebut membuat Bumi diselimuti dengan kegelapan dengan waktu yang cukup lama, meskipun pada siang hari. Banyak sekali spesies tanaman mati saat itu dan bahkan kemampuan manusia purba juga sudah mencapai batas maksimalnya. Makanya, para ahli sepakat bahwa jumlah dari populasi manusia purba telah punah sampai dengan 90 persen dari total keseluruhannya.

Itulah beberapa informasi penting mengenai letusan gunung berapi yang pernah tercatat oleh sejarah peradaban manusia hingga saat ini. Ternyata, kekuatan yang dihasilkan oleh letusan-letusan gunung berapi tersebut sangat masif dan bahkan bisa membuat kehidupan makhluk hidup punah seketika pada saat itu juga.

Penyebab Banjir dan Dampaknya Bagi Lingkungan & Makhluk Hidup

Penyebab Banjir dan Dampaknya Bagi Lingkungan & Makhluk Hidup

Banjir merupakan salah satu bencana alam yang terjadi karena banyak faktor, diantaranya ialah aliran air yang tersumbat hingga volume air yang berlebihan sampai meluap keluar, curah hujan yang tinggi, dan juga faktor karena ulah manusia.

Penyebab Banjir dan Dampaknya Bagi Lingkungan & Makhluk Hidup

Berikut merupakan berbagai macam faktor penyebab terjadinya banjir yang disebabkan akibat keadaan alam dan ulah manusia. Simak penjelasannya.

1. Penebangan Hutan

Lahan tahan yang ditumbuhi oleh banyak pepohonan dan tanaman lainnya memiliki sejuta fungsi salah satunya untuk penyerapan air yang baik. Namun sayangnya, masih banyak orang yang belum mengerti bahkan suka menganggapnya sebagi hal yang sepele dengan menebang pohon sembarangan dan sesuka hati. Tidak menanam pohon kembali jika sudah menebangnya.

Padahal penebangan pohon atau hutan secara sembarangan dan liar dapat menyebabkan berbagai bencana alam seperti longsor dan banjir bandang. Jadi ada baiknya, kita sebagai manusia secara bersama-sama menjaga kelestarian hutan dan pepohonan di sekitar tempat tinggal kita berada.

2. Pemanfaatan Lahan yang Berlebihan

Ada banyak alasan mengapa banyak orang dengan sesuka hati memanfaatkan lahan kosong sebagai tempat untuk pembangunan. Misalnya untuk membangun sebuah pabrik, mendirikan beberapa bangunan tanpa adanya resapan air, dan lain sebaginya.

Parahnya, dengan pemanfaatan lahan kosong dengan keegoisan semata dan secara sepihak sehingga seolah-olah tidak terlalu perduli dan merasa seakan tidak terjadi apa-apa. Bahkan yang sangat disayangkan, banyak orang yang melakukan kegiatan terlarang dengan melakukan pembakaran hutan agar setelahnya lahan tersebut bisa dipergunakan semena-mena.

Pembakaran hutan akan membuat tanah menjadi tidak subur dan tidak mampu lagi untuk mempertahankan pertumbuhan vegetatif. Nah, kalau sudah begini artinya banyak air yang mudah meluap dari tanah karena tanah sudah tidak bisa tumbuh pepohonan lagi.

3. Efek Rumah Kaca

Lagi-lagi keegoisan manusia yang membawa dampak buruk bagi lingkungan hidup, seperti kebiasaan membakar sampah sembarangan, polusi udara yang diakibatkan oleh asap kendaraan, asap pembuangan pabrik, asap rokok dan masih banyak lagi lainnya yang bisa membuat lapisan ozon semakin menipis sehingga perubahan cuaca dan iklim terus berubah tiap harinya.

Akibat yang dirasakan ialah:
– Suhu bumi yang seharusnya berada pada sekitar 18 derajat Celsius, kini meningkat sangat drastis hingga 34 derajat Celsius.
– Kenaikan karbondioksida yang juga meningkat.
– Terjadinya pemanasan global di seluruh dunia.
– Perubahan iklim dan cuaca yang ekstrem dan tak menentu.
– Suhu dan ketinggian permukaan laut menjadi naik.

4. Membuang Sampah Sembarangan

Mengapa membuang sampah sembarangan bisa menyebabkan terjadinya bencana banjir? Karena tindakan manusia yang tak perduli dan masa bodo ini membuat aliran air sungai atau selokan menjadi tersumbat. Sehingga ketika curah hujan yang tinggi datang, kemungkinan besar akan berpotensi meluapkan air sungai sehingga dapat menyebabkan banjir ke daratan.

Kalau sudah seperti ini, siapa yang mau disalahkan?

5. Membangun Pemukiman Di Sepanjang Kali

Ini juga merupakan ulah dari manusia yang dapat menyebabkan terjadinya banjir. Dengan banyaknya pemukiman yang berdiri di sekitar bantaran sungai atau kali, bukan hanya membuat aliran air menjadi sempit melainkan juga berpotensi terjadinya tanah longsor. Di karenakan tanah di sekitar bantaran sungai atau kali tersebut tak kuat menahan beban bangunan yang didirikan oleh manusia.

6. Curah Hujan yang Tinggi

Curah hujan yang tinggi ini karena faktor alam yang tidak dapat kita hindari. Curah hujan yang sangat tinggi dan berlangsung sangat lama dapat menyebabkan sungai penuh dan meluap. Daya kapasitas tampung air yang biasanya cukup untuk untuk menampung air sudah melebihi kapasitasnya, dan inilah yang bisa menyebabkan terjadinya bencana banjir.

7. Kurangnya Wilayah Drainase

Insfrastruktur di kota-kota besar yang paling penting ialah kawasan drainase yang berguna untuk mencegah terjadinya banjir. Namun pada kenyataannya, banyak kawasan drainase yang berubah fungsi tanpa memperhatikan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).

Seharusnya daerah hutan atau rawa-rawa yang berfungsi untuk menyimpan luapan air dalam jumlah yang sangat besar, sekrang telah berubah fungsi menjadi bangunan-bangunan megah yang menjulang tinggi dan daerah pemukiman penduduk. Dalam hal ini, pemerintah dan pihak yang terkait seharusnya perlu menyeimbangkan kawasan kota dan drainase untuk mencegah terjadinya hal-hal buruk terjadi.

Dampak Terjadinya Banjir

Dampak Terjadinya Banjir

Baca juga: Apa itu Tanah Longsor dan Bagaimana Proses Terjadinya?

Dampak Primer

Bencana banjir banyak membawa kerugian untuk manusia seperti kehilangan harta benda sampai yang paling parah ialah kehilangan korban jiwa akibat bencana ini. Bukan hanya manusia saja yang terdampak, melainkan juga lingkungan sekitar juga pasti akan terkena dampaknya seperti kerusakan pepohonan, bangunan-bangunan tinggi, robohnya jembatan, rusaknya jalan raya, bangunan perumahan, sitem selokan dan juga kanal dan lain sebagainya.

Dampak Sekunder

Jika sudah terjadinya bencana banjir di suatu wilayah, akan menimbulkan dampak lain seperti masalah kesehatan yang disebabkan akibat dari air kotor, wabah penyakit mulai melanda manusia mulai dari yang usia lansia hingga anak-anak.

Sementara itu, untuk lahan pertanian juga pasti akan terdampak dan membawa kerugian tersendiri seperti gagal panen karena lahan yang seharusnya dipakai untuk panen rusak dan terendam akibat banjir.

Dampak Tersier

Dampak yang kemudian akan terjadi ialah kesulitan ekonomi yang dikarenakan menurunnya pengunjung lokasi wisata serta pengeluaran yang besar karena adanya biaya pembangunan dan juga perbaikan yang rusak. Selain itu, kelangkaan barang-barang juga menyebabkan terjadinya kenaikan suatu harga dari barang tersebut.

Minahasa Tenggara Dilanda Banjir Bandang, Puluhan Rumah Terendam

Minahasa Tenggara Dilanda Banjir Bandang, Puluhan Rumah Terendam

Banjir bandang yang melanda daerah Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengakibatkan satu orang warga hilang.

“Jalan penghubung antara Ratahan dengan Pangu putus hingga tidak dapat dilewati oleh kendaraan akibat banjir dan beberapa bahan material kayu yang berasal dari Gunung Manimporok dan wilayah Kalatin. Dalam insiden tersebut, dikabarkan bahwasatu orang hilang yang bernama Welly Ngange,” kata James Sumendap Bupati Minahasa Tenggara saat memberikan penjelasan pada hari Selasa, 21 September 2021.

James juga mengatakan bahwa peristiwa banjir bandang tersebut yang melanda wilayahnya itu sudah dilaporkan ke Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara. Menurut penjelasannya, hingga saat ini akibat insiden tersebut, ada sekitar puluhan rumah warga terdampak banjir bandang hingga tenggelam dan 4 rumah lainnya hanyut terbawa arus air yang sangat deras.

Minahasa Tenggara Dilanda Banjir Bandang, Puluhan Rumah Terendam

“Ada sekitar 50 rumah yang terendam dan yang hanyut ada 4 rumah. Saat ini pihaknya sedang melakukan penelusuran terhadap satu orang warga yang diduga hilang berasal dari desa Pangu,” jelasnya.

James menjelaskan akan terus berusaha dan berupaya semaksimal mungkin untuk mencari korban yang hilang tersebut. Dirinya juga mengaku sudah berkoordinasi dengan Pemprov.

“Prioritas kami membuka akses dan mencari korban yang hilang. Kita akan kerahkan sekuat tenaga di seluruh Mitra untuk mencari korban. Koordinasi dengan Pemprov Sulawesi Utara sudah kami lakukan dan laporkan,” pungkas James.

James juga mengimbau kepad aseluruh masyarakat di wilayah yang rawan banjir untuk tetap waspada dan hati-hati bila terjadi banjir bandang susulan.

“Imbauan, rawan bencana, di bukit-bukit, di pinggir, dan di gunung-gunung karena curah hujan yang tinggi tentu tanah menjadi lebih berisiko. Lebih waspada dan antisipasi terlebih dahulu dan menghindar bila terjadi bencana susulan,” ujar James.

Banjir Bandang Minahasa: 33 Rumah Terendam, Tiga Hanyut

Banjir Bandang Minahasa: 33 Rumah Terendam, Tiga Hanyut

Menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minahasa Tenggara tercatat bahwa sebanyak 33 rumah terdampak banjir bandang yang menerjang Minahasa pada hari Senin, 20 September 2021 dan dilaporkan juga sebanyak 3 rumah warga ikut hanyut terbawa arus.

Baca juga: Akankah Ibukota Akan Tenggelam di Tahun 2030?

Pada hari Senin, 20 September 2021, sekitar pukul 14.30 waktu setempat, diketahui peristiwa banjir bandang dengan ketinggian muka air berkisar antara 200 hingga 300 sentimeter.

BPBD Kabupaten Mitra mengatakan, banjir bandang itu menyapu bersih material-material lumpur dan kayu yang berasal dari pegunungan Manimporok. Untuk rincian rumah warga yang hanyut pasca diterjang banjir bandang tersebut ialah, 1 unit kios, 1 unit rumah warga, dan 1 unit bengkel.

“Sedangkan banjir bandang berdampak pada rumah warga 17 unit dan balai 1 terjadi di wilayah Ratahan Timur,” ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari pada hari Selasa, 21 September 2021.

Abdul juga menjelaskan bahwa pasca kerjadian tersebut petugas BPBD telah melakukan upaya penanganan darurat dengan selalu menyiagakan tim reaksi cepat tanggap, salah satunya yakni mengevakuasi warga dan mengkaji gerak cepat di lapangan. BPBD juga sudah berkoordinasi dengan para instansi terkait dalam memastikan keselamatan warga khususnya yang terdampak di dua kecamatan tersebut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis peringatan dinitentang waspada potensi hujan lebat yang disertai dengan petir dan kilat serta angin kencang di beberapa wilayah di Pulau Sulawesi.

Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengingatkan dan mengimbau masyarakat serta Pemerintah Daerah (Pemda) Pacitan untuk siap dengan skenario terburuk akibat terjadinya gempa dan tsunami.

Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Baca artikel terkait: [TRENDING] Gempa Bumi Pada 15 September, Getarkan Tanah Air Hingga 6 Kali

Hal tersebut perlu dilakukan dan dipersiapkan untuk menghindari dan juga mengurangi resiko yang diakibatkan oleh bencana alam gempa bumi dan tsunami yang berpotensi akan mengintai daerah pesisir selatan di pUlau Jawa karen adanya pergerakan dua buah lempeng raksasa yakni lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia.

“Wilayah di Pantai Pacitan berpotensi terjadinya tsunami dengan ketinggian 28 meter dengan estimasi waktu tiba kurang lebih 30 menit. Adapun potensi jarak genangan mencapai 5 hingga 7 kilometer bila diukur dari bibir pantai dan tinggi genangan air yang mencapai daratan bisa mencapai sekitar 15 sampai 20 meter,” jelas Dwikorita melaui keterangan resmi BMKG pada Senin, 13 September 2021.

Dalam acara simulasi tersebut, Dwikorita berbincang bersama Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini dan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji untuk melakukan verifikasi zona bahaya dan menelusuri jalu-jalur evakuasi bencana alam yang mudah dijangkau oleh para masyarakat di daerah kelahiran Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ITU.

Dengan skenario tersebut, diharapakan bagi masyarakat yang berada di daerah dengan zona bahaya perlu terus dilatih secara rutin untuk melakukan langkah-langkah evakuasi mandiri bila mendapat Peringatan Dini Bahaya Tsunami dengan batas waktu maksimum 5 menit setelah terjadinya gempa bumi.

Untuk masyarakat khusus yang tinggal di pesisir pantai, harus segera mematuhi perintah dan aturan tentang bahaya bencana alam dan segera pergi untuk mengungsi k etempat atau dataran yang lebih tinggi jika sudah merasakan guncangan atau getaran yang akan menyebabkan gempa bumi.

“Teruntuk masyarakat yang khususnya tinggal di daerah pesisir pantai, tidak perlu menunggu aba-aba, sirine atau perintah dari BMKG. Jika sudah merasakan getarannya baik kecil ataupun besar, segeralah menyelamatkan diri dengan berlari ke dataran yang lebih tinggi yang dirasa cukup jauh dari pesisir pantai dan harus aman. Karena batas waktu yang dimiliki hanya sekitar 30 menit setelah gempa terjadi,” katanya.

Kepala BMKG tersebut menjelaskan, skenario yang dimaksudkan adalah masih bersifat potensi artinya kemugkinan bisa kapan saja terjadi atau malah tidak terjadi sama sekali. Namun, seklai lagi ia tegaskan untuk pemerintah dan masyarakat sekitar harus sudah siap dengan skenario terburuk itu sehingga meminimalisir korban berjatuhan.

“Jadi kami mengimbau seperti ini bukan bermaksud untuk menakut-nakuti. Tidak sama sekali. Skenario ini dibuat bertujuan agar masyarakat dan pemerintah daerah akan terlatih jika sewaktu-waktu bencana alam itu datang. Sehingga tidak ada istilah gugup atau gagap saat bencana alam itu datang. Dengan begitu mayarakat dan pemerintah sudah sigap siaga bencana dan tahu langkah apa saja yang harus dilaksanakan dengan waktu yang sangat terbatas itu,” ujar Dwikorita.

Ia juga menegaskan bahwa, hingga pada saat ini belum ada teknologi atau satu pun negara di belahan dunia lainnya yang dapat memprediksikan dengan tepat kapan terjadinya gempa dan tsunami dengan akurat dan tepat. Maksudnya lengkap dengan perkiraan tanggal, jam, lokasi, dan magnitudo gempa. Semuanya masih berupa bentuk kajian yang diolah berdasarkan sejarah pada wilayah itu sendiri di masa lampau.

BMKG juga meminta dan merekomendasikan kepada pemerintah daerah untuk siap menghadapi segala bentuk bencana alam dan memperbanyak jalur-jalur untuk evakuasi dengan lengkap sesuai dengan rambu-rambu dari menuju zona merah sampai dengan zona hijau.

Beberapa Wilayah yang Terancam Terjadinya Tsunami Besar

Beberapa Wilayah yang Terancam Terjadinya Tsunami Besar

Wilayah yang berpotensi terjadinya tsunami besar setinggi 20 meter yang bisa terjadi di pesisir selatan Pulau Jawa hingga Selat Sunda, itu semua berpeluang juga dampaknya hingga ke pesisir utara seperti daerah DKI Jakarta, Banten dan sekitarnya.

Menurut Heri Andreas yang merupakan Kepala Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan data dari Global Navigation Satellite System (GNSS) yang melaporkan terdapat akumulasi energi di bagian wilayah Selat Sunda sampai ke Pelabuhan Ratu. Daerah lain yang disebutkan juga ada seperti Parangtritis dan Pantai Jawa Timur di bagian Selatan.

gempa yang akan terjadi diperkirakan berkekuatan magnitudo 8,7 hingga 9,0 dengan potensi terjadinya tsunami setinggi 20 meter. Sementara di DKI Jakarta Sendiri, gelombang tsunami air laut diprediksi mencapai 1 hingga 2 meter. Hal ini lebih kecil jika dibandingkan dengan perkiraan tsunami yang berada di Pantai Jawa Timur bagian Selatan.

Maka dari itu, Dwikorita meminta kepada masyarakat yang tinggal di daerah yang rawan akan bencana alam seperti di pesisir pantai untuk segera berlatih melakukan evakuasi mandiri appabila merasakan getaran yang disebabkan oleh gempa bumi tanpa harus menunggu instruksi atau peringatan dini lagi dari BMKG.

“Kita semua harus belajar dari pengalaman, tak perlu menunggu peringatan dini tsunami dari BMKG. Begitu merasakan goncangan baik kecil ataupun besar yang dirasakan oleh tanah atau gempa, segeralah berlari. Jauhi pantai dan berpindah ke tempat yang lebih tinggi atau bukit-bukit,” imbuh Dwikorita.

[TRENDING] Gempa Bumi Pada 15 September, Getarkan Tanah Air Hingga 6 Kali

Gempa Bumi Pada 15 September, Getarkan Tanah Air Hingga 6 Kali

Gempa bumi yang menggetarkan Tanah Air kembali terjadi pada Rabu, 15 September 2021 dan terjadi sampai pukul 20.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). Ada 6 kali getaran yang dirasakan oelh masyarakat Indonesia. Informasi ini seperti yang dikutip pada laman resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) atau www.bmkg.go.id.

Gempa Bumi Pada 15 September, Getarkan Tanah Air Hingga 6 Kali

Getaran yang pertama kali terjadi di wilayah Sinabang, Provinsi Aceh dengan kekuatan magnitudo 5,6 terjadi pada pukul 03.13 WIB. Kemudian, wilayah lain seperti Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara juga terjadi gempa 3 kali. Gempa pertama dengan kedalaman 4 Km dan berkekuatan magnitudo 2,9 terjadi pada pukul 03.58 WIB. Kemudian disusul kembali terjadi pada pukul 05.55 WIB dan 15.56 WIB.

Berikut rincian informasi terjadinya gempa bumi di Tanah Air menurut data resmi dari BMKG.

Kecamatan Sinabang

Gempa yang terjadi di wilayah Sinabang, Provinsi Aceh ini terjadi pada pukul 03.13 WIB. Gempa tersebut berkekuatan magnitudo 5,6 dan kedalamannya mencapai 10 Km dengan pusat gempa berada pada titik 125 Km barat laut Sinabang, Aceh.

Kecamatan Maba

Kecamatan Maba terletak di Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara dilanda gempa dengan 3 kali getaran yang terjadi. Getaran yang pertama berkekuatan magnitudo 2,9 dan kedalaman mencapai 4 Km terjadi pada pukul 03.58 WIB.

Diketahui Episenter gempa berada pada titik koordinat 1.12 Lintang Utara (LU)-128.15 Bujur Timur (BT) dan pusat gempa berada di darat 51 Km Barat Laut (BL) Maba. Menurut data BMKG, getaran dirasakan MMI (Modified Mercalli Intensity) II-III di Subaim.

Kemudian gempa yang kedua terjadi lagi dengan kedalaman 4 Km dan berkekuatan mencapai magnitudo 3,2. Dengan pusat gempa berada di darat 46 Km Barat Laut (BL) Maba. Episenter gempa berada pada titik koordinat 1.08 Lintang Utara (LU)-128.2 Bujur Timur (BT). BMKG menyebutkan bahwa getaran dirasakan MMI (Modified Mercalli Intensity) II-III di Subaim.

Kemudian gempa terakhir di Kecamatan Maba terjadi pada sore hari pukul 15.56 WIB dengan kekuatan magnitudo 3,7 dan kedalaman mencapai 7 Km. Diketahui pusat gempa berada di laut 57 Km Barat Laut (Maba) dan BMKG menyatakan, getaran yang dirasakan MMI (Modified Mercalli Intensity) III di Subaim. Episenter gempa berada pada titik koordinat 1.15 Lintang Utara (LU)-128.09 Bujur Timur (BT).

Kabupaten Boalemo

Gempa bumi juga dirasakan di wilayah Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo pada pagi hari pukul 07.49 WIB. Diketahui gempa tersebut berkekuatan magnitudo 5,4 dengan pusat gempa berada di laut 85 Km Barat Laut (BL) Boalemo. Kedalaman gempa mencapai 20 Km. BMKG menyatakan, getaran yang dirasakan MMI (Modified Mercalli Intensity) II di Manado, Bone Bolango, Gorontalo, dan Toli-toli. Lalu MMI II-III di Buol serta MMI III di Boalemo.

Kabupaten Halmahera Timur

Gempa terakhir di Tanah Air juga dirasakan di Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara yang terjadi pada pukul 04.03 WIB. Diketahui pusat gempa berada di darat 41 Km Barat Daya (BD) Halmahera Timur. BMKG menyebutkan, bahwa getaran yang dirasakan MMI (Modified Mercalli Intensity) II-III di Subaim. Episenter gempa berada pada titik koordinat 1.11 Lintang Utara (LU)-128.17 Bujur Timur (BT) dengan magnitudo 3,9 dan kedalaman 5 Km.

Baca juga: Filipina dilanda Bencana Topan Conson, Sejumlah Bangunan Rusak Parah

Antisipasi Terjadinya Gempa Bumi

Antisipasi Terjadinya Gempa Bumi

Sebelum Terjadi Gempa Bumi:

– Pastikan bahwa struktur tanah dan letak rumah Anda aman dari bahaya yang disebabkan oleh bencana alam seperti longsor, gempa bumi, gunung meletus dan lain-lain. Renovasi kembali struktur bangunan tempat tinggal Anda agar bisa terhindar dan meminimalisir resiko bila terjadinya gempa bumi.

– Kenalilah lingkungan tempat Anda bekerja apakah letak pintunya untuk keluar masuknya mudah untuk diakses, lift aatau tangga darurat. Pastikan ada ruang aman untuk berlindung bila terjadi bahaya atau hal-hal yang tidak diinginkan.

– Belajar sedini mungkin untuk berlatih melakukan Pertolongan Pertama Pada kecelakaan (P3K) dan alat pemadam kebakaran.

– Catat nomor-nomor penting yang bisa dihubungi dengan pihak yang berkaitan bila terjadinya bencana alam gempa bumi.

– Atur perabotan agar menempel kuat di dinding dan tempat yang aman namun mudah di jangkau baik yang berada di rumah maupun di kantor untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti jatuh, roboh, dan bergeser pada saat terjadinya gempa.

– Jika terdapat barang-barang yang berat, usahakan di letakkan di bagian paling bawah. Cek keseimbangan benda-benda yang bergantung di ruangan yang sewaktu-waktu dapat mudah jatuh bila terjadi gempa bumi.

– Simpan bahan-bahan yang mudah terbakar di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan anak-anak, untuk menghindari agar tidak mudah pecah dan terjadinya kebakaran.

– Biasakan diri untuk selalu mematikan air, listrik, gas dan benda-benda lain yang menggunakan energi listrik bila sudah tidak digunakan.

– Kotak P3K, senter/lampu baterai, makanan dan air harus diletakkan yang seharusnya.

Setelah Terjadi Gempa Bumi:

– Jika posisi Anda setelah terjadinya gempa bumi berada di dalam bangunan yang tingi seperti gedung, keluarlah dari bangunan tersebut dengan tertib dan teratur. Jangan menggunakan lift atau eskalator, gunakanlah tangga darurat. Bila ada yang terluka, lakukanlah P3K dan telepon pihak terkait untuk meminta bantuan jika luka yang dialaminya serius.

– Selalu periksa kembali keadaan sekitar, bila terjadi kebakaran, kebocoran gas, terjadinya hubungan arus pendek listrik, aliran pipa air dan lain sebagainya.

– Jangan memasuki bangunan yang sudah roboh akibat gempa karena kemungkinan bisa terjadi reruntuhan yang terdapat di dalam bangunan tersebut dan jangan sesekali berjalan datau mendekati daerah sekitaran gempa, karena ada kemungkinan gempa susulan akan terjadi. lebih baik berhati-hatilah dan cari tempat untuk berlindung yang aman.

– Selalu perbaharui informasi mengenai gempa bumi dari sumber terpercaya dan mudah terpancing dengan berita-berita palsu.

– Mengisi formulir angket yang diberikan oleh pihak terkait untuk mengetahui seberapa berat kerusakan suatu bangunan yang dialami.

– Ini yang paling penting yakni jangan membuat panik sehingga tidak semua orang ketularan panik dan sellau berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa demi keselamatan dan keamanan kita semua.