4 Bencana Alam Tsunami Hebat yang Pernah Melanda Daratan Tanah Air

4 Bencana Alam Tsunami Hebat yang Pernah Melanda Daratan Tanah Air

4 Bencana Alam Tsunami Hebat yang Pernah Melanda Daratan Tanah Air

Menurut riset yang ditelusuri oleh para tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Sri Widiyantoro mengemukakan bahwa adanya potensi tsunami dan gempa bumi di bagian Selatan Pulau Jawa. Berdasarkan riset tersebut mengatakan bahwa data gempa dari katalog BMKG dan International Seismological Center (ISC) yang terhitung sejak periode April 2009 hingga November 2018 dan melihat data GPS dari 37 stasiun yang di pasang di Jawa Timur dan Jawa Tengah selama 6 tahun.

Berdasarkan temuan tersebut, dari sejak dahulu kala Indonesia sudah seringkali dilanda oleh berbagai macam bencana alam salah satunya tsunami, yang terjadi di beberapa wilayah di Tanah Air.

Baca Lain ↓↓↓

Minahasa Tenggara Dilanda Banjir Bandang, Puluhan Rumah Terendam

Maka dari itu, Deathenergy telah merangkum dari bebrapa situs terpercaya gelombang tsunami yang dahsyat yang pernah terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Simak ulasan berikut ini!

4 Tsunami Dahsyat Melanda Indonesia

4 Tsunami Dahsyat Melanda Indonesia

1. Tsunami Aceh Tahun 2004

Gelombang laut yang sangat besar yang melanda daerah Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu tentu masih membekas dalam ingatan kita semua. Gelombang air laut yang setinggi sekitar 35 meter itu bukan hanya menghancurkan Aceh melainkan juga menjalar hingga ke pesisir bagian Barat pulau Sumatera.

Berdasarkan data yang tercatat, peristiwa tersebut menelan kurang lebih 170 ribu korban jiwa. Banyak sekali warga yang harus kehilangan keluarga dan harta bendanya dalam peristiwa besar itu. Bahkan, kerugian yang diakibatkan dari bencana alam tersebut ditaksir mencapai Rp. 50 triliun.

2. Tsunami Pangandaran Tahun 2006

Bencana alam tsunami ini terjadi tepat pada tanggal 16 Juli 2006 silam. Deretan gempa yang terjadi di bagian Selatan Pulau Jawa yang disusul oleh tingginya gelombang tsunami. Berdasarkan catatan data Pusat Gempa Nasional Badan Meteorologi dan Geofisika (PGN BMG), gempa bumi tersebut terjadi di kawasan pantai Pangandaran pada pukul 15.19 WIB dengan magnitudo 6,8.

Untuk pusat gempanya berada di sebelah Selatan Pantai Pameungpeuk yang berjarak sekitar 160 Km dan kedalaman sekitar 35 Km. Diketahui, lokasi tersebut merupakan zona pertemuan dua lempeng benua Indo-Australia dan Eurasia dengan kedalaman kuramng dari 40 Km. Bencana alam tersebut menewarkan sekitar 768 orang dan 75 orang diketahui hilang tidak diketahui.

3. Tsunami Palu Tahun 2018

Gempa yang bermagnitudo 7,4 yang terjadi pada tanggal 28 September 2018 sekitar pukul 18.02 WITA yang kemudian disusul oleh gelombang tsunami setinggi 5 meter menerjang pulau Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Menurut catatan, pusat gempa dilaporkan berada pada 26 Km di bagian Utara pulau Donggala dan 80 Km di bagian Barat Laut Kota Palu.

Menurut data Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), bahwa korban yang meninggal akibat peristiwa tersebut mencapai 2.055 orang. Paling banyak terdapat di Kota Palu sebanyak 1.732 korban jiwa dan kemudian disusul oleh Sigi dan Parigi.

Selain itu, korban yang mengungsi akibat peristiwa itu sebanyak 83.745 orang dan 8.765 orang pengungsi di antaranya berada di luar pulau Sulawesi. Sebanyak 66.446 bangunan tempat tinggal rusak parah.

Bencana alam ini merupakan salah satu yang terparah baru-baru ini. Sebab, gempa bumi tersebut menyebabkan tsunami dengan ketinggian gelombang air mencapai 5 meter dan likuefaksi atau pencairan tanah yang membuat tanah berjalan hingga menhancurkan apapun yang berdiri di atas tanah tersebut serta menelan ribuan korban jiwa.

4. Tsunami Selat Sunda Tahun 2018

Pada hari Sabtu, 22 Desember 2018 malam terjadi gelombang tsunami yang menerjang pesisir wilayah banten dan juga Lampung. Menyebabkan sekitar 537 orang tewas akibat peristiwa tersebut, ribuan orang terluka parah dan ringan, serta puluhan orang hilang tanpa kabar.

Tercatat sebanyak 2.852 rumah rusak parah, dan juga puluhan ribu orang diharuskan mengungsi ke tempat yang lebih aman, dan juga diketahui gelombang tsunami air laut itu mencapai 5 hingga 6 meter.

Pengertian Angin Topan, Penyebab dan Dampak Angin Topan Serta Cara Menanggulanginya

Pengertian Angin Topan, Penyebab dan Dampak Angin Topan Serta Cara Menanggulanginya

Angin dapat selalu kita temui dimana saja kita berada. Tidak bisa dilihat namun bisa dirasakan oleh panca indera kita. Pada saat hujan, angin akan membuang badan kita menjadi terasa dingin. Ada banyak sekali manfaat angin bagi makhluk hidup seperti contohnya untuk udara yang kita hidrup setiap harinya.

Namun angin bisa menjadi bencana yang sangat mengerikan bagi kita bila angin tersebut bertiupnya terlalu kencang. Sehingga dapat merusak alam lingkungan hidup seperti pohon tumbang, debu pasir berterbangan sangat kencang di atas udara, merobohkan bangunan, dan bahkan bisa membahayakan keselamatan diri kita sendiri serta makhluk hidup lainnya.

Pengertian Angin Topan, Penyebab dan Dampak Angin Topan Serta Cara Menanggulanginya

Peristiwa yang terjadi ketika angin besar itu datang sangat beragam seperti turunnya hujan yang sangat deras, cuacanya mendung, kabut hitam menyelimuti awan-awan, udaranya sangat dingin bahkan tidak menentu dan lain-lain.

Mungkin dari kita semua sudah tidak asing lagi mendengar apa itu angin topan, namun apakah kalian semua tahu pengertian dari angin topan itu sendiri?

Mari kita bahas satu per satu mulai dari Pengertian Angin Topan, Penyebab dan Dampak Angin Topan Serta Cara Menanggulanginya

Angin topan biasa terjadi di wilayah mempunyai iklim yang tropis, angin topan itu sendiri adalah angin yang menghembus dengan daya kekuatan yang sangat kuat dan kencang. Dan terjadi di wilayah-wilayah yang dekat garis balik selatan dan garis balik utara (kecuali yang sangat dekat dengan garis khatulistiwa)

Wujudnya seperti pusaran angin yang sangat kencang dengan kecepatan rata-rata 130km/jam atau lebih. Bahkan data pernah mencatat, di level yang paling tinggi kecepatan rata-rata angin topan bisa mencapai 350 km/jamnya.

Penyebab dan Dampak Terjadinya Angin Topan

Pengertian Angin Topan, Penyebab dan Dampak Angin Topan Serta Cara Menanggulanginya

Dibawah ini adalah penyebab terjadinya angin topan, antara lain:

  1. Angin topan terjadi karena suhu udara yang meningkat yang menyebabkan lapisan atmosfer bumi juga ikut meningkat sehingga terjadinya tekanan udara yang sangat rendah. Seperti di siang hari tepat jam 12.00.
  2. Angin topan bisa terjadi karena penguapan air laut dalam jumlah yang sangat besar. Angin topan ini biasanya terjadi lebih banyak di lautan daripada di daratan.
  3. Angin topan terjadi dikarenakan pusaran angin yang menbentuk hingga berjam-jam lamanya sehingga menimbulkan badai angin topan. Arah pusaran angin tersebut juga tidak terarah maka dari itu di zaman sekarang sudah ada satelit untuk bisa mendeteksi apakah akan terjadi badai angin topan. Hal itu juga bisa menjadi peringatan dini kepada kita.

Dampak yang akan terjadi setelah terjadinya angin topan itu seperti:

  1. Untuk di bidang perhubungan pasti akan terganggu karena mempengaruhi kelancaran dalam bertransportasi, memporak-porandakan bandara, stasiun, pelabuhan dan lain-lain.
  2. Untuk di bidang telekomunikasi, dampak dari terjadinya angin topan tersebut pasti akan sangat mengganggu karena keberadaan sinyal menjadi hilang yang disebabkan beberapa satelit komunikasi tumbang. Dan juga untuk gelombang elektronik lainnya juga pasti akan terganggu.
  3. Untuk di bidang pembangunan, angin topan dapat merusak bahkan merobohkan bangunan-bangunan yang ada. Tiang listrik, tiang telekomunikasi, satelit pemancar lainnya juga pasti akan tumbang diterpa badai angin topan tersebut sehingga menyebabkan beberapa kerusakan di berbagai titik.

Cara Penanggulangan Angin Topan, antara lain:

  1. Untuk meminimalisir dampak buruk bila terjadinya angin topan sebaiknya membuat bangunan dengan pondasi yang kuat dan dalam sehingga kokoh.
  2. Untuk daerah yang rawan terjadinya angin topan, harus dibuatkan SOP agar tidak mudah goyah dan roboh. Akan tetapi jika perlu jangan mendirikn bangunan di wilayah yang rawan akan terjadinya badai angin topan.
  3. Mengadakan pelatihan untuk kesiapsiagaan bencana alam seperti gempa bumi, angin topan dan gunung meletus. Sehingga kita siap bila akan terjadi bencana alam tersebut.
  4. Pemerintah setempat dan di wilayah tersebut seharusnya memasang alat deteksi dini terjadinya angin topan. Untuk mengantisipasi dampak hebat yang akan terjadi setelahnya.

Baca juga↓↓↓

Perlu Diketahui! 5 Cara Efektif Dalam Mencegah Terjadinya Bencana Alam Tanah Longsor

Itulah beberapa informasi mengenai angin topan. Semoga kita semua selalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa dari segala bencana alam yang terjadi. Sampai jumpa di artikel berikutnya!

Perlu Diketahui! 5 Cara Efektif Dalam Mencegah Terjadinya Bencana Alam Tanah Longsor

Perlu Diketahui! 5 Cara Efektif Dalam Mencegah Terjadinya Bencana Alam Tanah Longsor

Salah satu bencana alam yang sering terjadi di negara kita tercinta ini, Indonesia, ialah bencana alam Tanah Longsor. Bencana alam yang satu ini sifatnya datang secara tiba-tiba.

Untuk menghindari resiko tanah longsor yang bisa memakan harta bernda maupun korban jiwa, cara mencegah tanah longsor perlu diketahui dan dipraktekkan secara bersama oleh masyarakat sekitar.

Bencana alam tanah longsor sendiri pada umumnya terjadi di daerah atau wilayah yang terdapat banyak lereng dengan kemiringan sekitar di atas 45 derajat. Meski demikian, tanah longsor juga bisa terjadi di dataran tanah yang memiliki bidang datar walaupun kemungkinannya sangat kecil sekali.

Perlu Diketahui! 5 Cara Efektif Dalam Mencegah Terjadinya Bencana Alam Tanah Longsor

Demi alasan keamanan untuk semua orang, khususnya untuk masyarakat yang terdapat di sekitaran daerah rawan longsor, masyarakat diminta untuk selalu waspada terhadap tanda-tanda terjadinya bencana alam yang satu ini.

Juga tidak bosan untuk selalu mentaati aturan-aturan dan cara mencegah dan menanggulangi terjadinya tanah longsor. Maka dari itu, berikut beberapa cara mencegah tanah longsor yang paling efektif. Simak penjelasannya!

Jangan Membangun Rumah Persis Di Bawah Tebing atau Lereng

Untuk cara mencegah terjadiny atanah longsor yang pertama ialah dengan tidak membangun rumah persis di bawah tebing atau lereng. Cara ini merupakan upaya untuk pencegahan terjadinya tanah longsor yang paling dasar dan bisa diterima dengan masuk akal.

Nah, untuk menanggulanginya jatuhnya para korban jiwa dan kerugian harta benda ialah tidak membangun rumah atau tempat tinggal di bawah tebing atau lereng yang sangat beresiko tertimbun longsor tersebut. Perlu diketahui juga, bahwa masyarakat harus mengetahui bagaimana bahaya dan resiko membangun rumah persis di bawah tebing atau lereng.

Jangan Menebang Pepohonan yang Tumbuh di Lereng

Cara mencegah terjadinya tanah longsor atau cara menanggulangi tanah longsor yang paling efektif yang kedua adalah dengan tidak menebang pepohonan yang tumbuh lereng pegunungan. Mengapa hal tersebut harus dilakukan? Karena akar-akar pohon itu sangat berguna dalam membuat struktur tanah menjadi lebih kuat dan kokoh sehingga tanah yang berada di lereng tersebut tidak mudah longsor apabila musim hujan tiba.

Cara Menanggulangi Tanah Longsor Dengan Beton atau Benteng

Kemudian untuk mencegah terjadinya tanah longsor berikutnya ialah dengan membangun semacam benteng atau beton. Keduanya dibuat untuk menutupi lereng ataupun tebing dan benteng atau beton ini bisa berupa bangunan dari semen yang mampu menutupi tebing atau lereng tanah tersebut.

Hal ini dapat membantu untuk meminimalisir terjadinya tanah longsor karena tanah akan tertahan oleh semen tersebut sehingga tidak mudah longsor. Ketika air hujan pun turun dengan sangat deras, terkadang bisa merembes masuk hingga ke dalam tanah sehingga membuat stuktur tanah menjadi ssangat rapuh.

Pada akhirnya nanti, struktur tanah yang rapuh tersebut akan longsor dan menimpa bangunan sekitar yang ada tepat dibawahnya bersamaan dengan seluruh hal yang tengah ada di dalam bangun tersebut.

Waspadai Apabila Hujan Deras Turun Secara Terus-Menerus

Waspadai Apabila Hujan Deras Turun Secara Terus-Menerus

Cara mencegah tanah longsor selanjutnya adalah dengan selalu waspada ketika hujan deras turun, apalagi ketika memasuki musim hujan saat hujan turun terus menerus. Bagaimana cara agar kita selalu waspada?

Apabila hujan deras telah berlangsung selama tiga jam atau lebih, maka kita harus waspada dan bertindak cepat, salah satunya adalah dengan mengungsi ke tempat lain atau menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman.

Baca Artikel Lain↓↓↓

Filipina dilanda Bencana Topan Conson, Sejumlah Bangunan Rusak Parah

Jika kita tidak dapat mencegah bencana tanah longsor, setidaknya kita dapat meminimalisir kemungkinan jatuhnya korban jiwa.

Hindari Mendirikan Bangunan Tempat Tinggal Di Atas Tebing

Rumah atau tempat tinggal yang berada tepat di atastebing atau lereng pegunungan akan selalu membuat orang-orang kagum dan menganga jika melihatnya. Tren bangunan di atas tebing ini memang terasa berbeda dari yang lain dan rasanya tidak ada matinya. Terkesan unik dan selalu mengesankan dalam melihatnya sehingga seringkali dijadikan untuk tujuan objek wisata.

Namun, apakah kalian tahu? Bahwa lahan untuk pendirian bangunan tempat tinggal tersebut yang terdapat di atas bukit tidak baik dan sangatlah berbahaya. Bangunan yang terdapat di atas bukit itu bisa memicu terjadinya longsor karena ada penekanan tanah yang dilakukan oleh bangunan itu sendiri.

Makanya, pendirian banguna tempat tinggal di atas lereng atau bukit lebih baik diminimalkan saja karena kurang baik untuk tanah dan akan menimbulkan resiko terjadinya tanah longsor. Cara mencegah tanah longsor ini jauh lebih mudah untuk dilakukan ketimbang jika harus menanggung dampak bencananya nanti.

Filipina dilanda Bencana Topan Conson, Sejumlah Bangunan Rusak Parah

Filipina dilanda Bencana Topan Conson, Sejumlah Bangunan Rusak Parah

Tepatnya pada hari Selasa tanggal 7 September 2021, badai yang sangat kuat menghantam sejumlah wilayah di Filipina Timur. Aangin yang berkekuatan sangat besar tersebut menghantam beberapa bangunan hingga usak parah dan menyebabkan pemadaman listrik di sebagian provinsi tersebut.

Filipina dilanda Bencana Topan Conson, Sejumlah Bangunan Rusak Parah

Angin topan itu bernama Topan Conson yang membawa angin berkecapatan hingga 120 kilometer per jam dengan hembusan anginnya mencapai 150 kilometer per jam. Diketahui angin topan tersebut mendarat pertama kali di daerah kota pesisir Hernani yang mmerupakan provinsi Samar Timur. Sebelumnya menghantam provinsi Samar dekat wilayahnya pada Selasa pagi menurut dinas layanan cuaca negara itu. Hingga Rabu pagi, arah mata angin topan itu berada di sekitar kota Dimasalang, provinsi Masbate.

Baca Artikel Lainnya ⇓⇓⇓

Waspada! Maluku Tengah Berpotensi Tsunami Non Tektonik

Filipina Merupakan Salah Satu Negara di Dunia yang Rawan Terjadi Bencana Alam

Filipina Merupakan Salah Satu Negara di Dunia yang Rawan Terjadinya Bencana Alam

“Terima kasih Tuhan Sang Maha Baik, kami di sini hanya mengalami kerusakan kecil,” kata Ben Evardone Gubernur Samar Timur. Ia juga menambahkan bahwa seluruh kantor-kantor pemerintahan ditutup untuk sementara waktu, mengingat bencana alam angin topan Conson masih dapat terjadi di sejumlah wilayah di Filipina.

Pengelola listrik negara Filipina, National Grid Corporation of the Phipippines (NGCP) menyebutkan bahwa sebagian jalur transmisi listrik terdampak angin topan tersebut. Dilaporkan untuk pemadaman listrik terjadi di beberapa wilayah seperti Samar, Samar Timur dan Leyte. Beberapa pejabat setempat juga melaporkan telah terjadinya banjir di sejumlah titik di Kota Tacloban.

Dinas Layanan Cuaca Filipina memeperingatkan bahwa kemungkinan datangnya angin topan tersebut yang merusak dan hujan lebat dalam waktu kurang dari 18 jam di beberapa wilayah di 7 provinsi, termasuk Quezon, Masbate, Albay dan Samar, yang berada di bawah peringatan topan tingkat tiga dari skala sistem lima tingkat. Di wilayah pusat ibu kota Filipina, yakni Manila berada di bawah peringatan topan tingkat satu. Artinya angin topan yang berkekuatan kencang tersebut diperkirakan akan terjadi dalam 36 jam ke depan. Angin Topan Conson diperkirakan akan melemah menjadi badai siklus tropis pada hari Rabu dan Kamis pagi waktu setempat.

Selain 20 topan dan badai melanda Filipina untuk setiap tahunnya, hujan lebat musiman pun sering terjadi di negara ini. Dikarenakan negara Filipina merupakan wilayah yang terletak pada “Cincin Api Pasifik“, gempa bumi, tsunami dan gunung meletus menjadikannya salah satu negara di dunia yang paling rawan terdampak bencana alam.

Waspada! Maluku Tengah Berpotensi Tsunami Non Tektonik

BMKG Sebut Potensi Tsunami Non Tektonik di Malteng Tinggi

Dwikorita Karnawati, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa di daerah Pulau Seram, Maluku Utara berpotensi terjadinya tsunami non tektonik. Artinya tsunami yang bukan disebabkan oleh gempa-red yang lumayan besar.

BMKG melakukan penelurusan dan verifikasi di zona-zona bahaya di wilayah Pulau Seram. Hasilnya mengejutkan, ternyata di sepanjang garis pantai pulau itu adalah laut yang memiliki bebatuan yang sangat besar dan tebing yang begitu curam. Sehingga daerah yang sangat rawan untuk terjadinya kelongsoran.

BMKG Sebut Potensi Tsunami Non Tektonik di Malteng Tinggi

“Gempa yang bisa menjadi trigger bisa menyebabkan terjadinya kelongsoran kemudian akan mengakibatkan gelombang tsunami. Dalam alur modelnya, dapat dijelaskan apakah gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak menimbulkan. Bisa iya dan bisa juga tidak, ada banyak kemungkinan yang akan terjadi. Pastinya gempa itu membuat longsor di dalam bawah laut yang kemudian mengakibatkan gelombang tsunami,” jelas Dwikorita saat di Pulau Seram, Minggu (5/9/2021).

Pada sat kedatangannya ke lokasi, Dwikorita menjelajahi Negeri Samasuru, Kota Masohi, Negeri Amahai, dan Negeri Tehoru. Di beberapa tempat itu, ia melakukan verifikasi terhadap peta bahaya dan menelusuri jalur evakuasi darurat. Bersama dengan para tim dan juga pihak terkait, Kepala Pusat Studi Bencana Alam Universitas Pattimura, dan Peneliti dari LIPI serta Badan Geologi langsung mendengarkan kesaksian dari salah satu warga tentang terjadinya gempa dan tsunami yang pernah terjadi beberapa waktu silam.

“Saya melihat langsung bekas tanah yang longsor di Negeri Tehoru. Di Samsuru, ada seorang warga sekitar yang sudah melakukan perhitungan kedalaman laut dari batas garis pantai. Dari garis pantai berjarak sekitar 3 meter dan kedalaman lautnya mencapai hingga 24 meter,” jelasnya.

Dwikorita menyampaikan, sampai saat ini belum ada negara di belahan dunia manapun yang bisa mendeteksi tsunami non tektonik lebih cepat, akurat dan tepat. Sistem peringatan bahaya dan peringatan dini yang dirancang oleh negara-negara di dunia adalah sistem peringatan dini terhadap tsunami yang diakibatkan oleh getaran yang berasal dari gempa itu sendiri.

Memantau muka air laut atau tide gauge adalah salah satu cara yang bisa dilakukan. Tapi terkadang cara itu kurang efektif karena sifat alat tersebut yang baru bisa menginformasikan setelah tsunami terjadi. Bisa disimpulkan alat tersebut sudah telat saat memberikan peringatan dini, namun tsunami sudah datang.

“Hanya dalam hitungan kurang dari 2 atau 3 menit, karena estimasi kedatangan tsunami sangat cepatyang dipicu oleh longsor yang berada tepat di bawah laut. Seperti halnya yang pernah terjadi di Palu, Sulawesi Tengah,” terangnya.

Imbauan BMKG Kepada Masyarakat Maluku Tengah

Imbauan BMKG Kepada Masyarakat Maluku Tengah

Maka dari itu, ia meminta kepada warga sekitar apalagi yang tempat tinggalnya tidak jauh dari pantai yang berada di Pulau Seram untuk secepatnya melakukan evakuasi mandiri, jadi apabila getaran kecil yang terasa di tanah sudah berasa, lebih baik menjauh dan menghindarinya. Tanpa harus menunggu peringatan atau informasi dari BMKG.

“Belajar dari sejarah, diimbau kepada seluruh masyarakat khususnya yang dekat dengan garis pantai tidak perlu menunggu peringatan bahaya dari BMKG bahwa akan adanya tsunami. Segara menjauh dengan berlari jika getaran di atas tanah sudah dirasakan sekecil apapun.” pinta Dwikorita

“Jauhi sepanjang garis pantai dan laut dan langsung segera lari ke tempat yang aman seperti perbukitan atau tempat-tempat yang lebih tinggi.” lanjutnya.

Kemudian ia melanjutkan imbauannya kepada masyarakat bahwa Kepulauan Maluku mempunyai sejarah yang cukup panjang dalam gempa bumi dan tsunami. Ia juga berharap kepada Pemerintah Daerah (Pemda) dan dinas terkait untuk melakukan segala bentuk mitigasi bencana alam.

Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dan juga mengurangi akibat dan resiko kerugian usai terjadinya gempa bumi dan tsunami.

“Siapapun harus terus dilatih agar paham apa yang harus dilakukan saat bencana itu datang, selain persiapan tempat evakuasi yang secepat mungkin agar bisa langsung dicapai. Ikuti jalur dan rambu evakuasi tempat yang aman dengan jelas,” jelasnya.

Baca Artikel Lainnya ⇓⇓⇓

Menteri Sosial Risma Menceritakan Ada Usul Tersambar Petir Termasuk Bencana Alam

Menteri Sosial Risma Menceritakan Ada Usul Tersambar Petir Termasuk Bencana Alam

Menteri Sosial Risma Menceritakan Ada Usul Tersambar Petir Termasuk Bencana Alam

Tri Rismaharini atau yang akrab disapa dengan Risma selaku Menteri Sosial mengajukan bahwa cuaca ekstrem masuk sebagai kategori bencana alam.

Hal tersebut ia sampaikan dalam rapat membahas DIM RUU penanggulangan Bencana bersama Komisi VIII DPR RI dan juga Komite II DPD RI di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan pada hari Selasa, 5 Oktober 2021 kemarin.

Menteri Sosial Risma Menceritakan Ada Usul Tersambar Petir Termasuk Bencana Alam

Uniknya, ada yang mengusulkan kepada dirinya bahwa jika ada orang yang tersambar petir atau gledek masuk dalam kategori terkena musibah bencana alam.

“Pada pasal 29 tercantum jenis bencana yang sebelumnya tidak ada cuaca ekstrem karena kami khawatir seperti puting beliung, itu belum masuk. Kemudian kemarin ada yang mengajukan ke kami kena samber geledek belum masuk. Karena itu kemudian kami mengajukan cuaca ekstrem dan bencana alam lainnya itu kami masukkan,” kata Risma.

Kemudian, kegagalan konstruksi skala besar dan kebakaran hutan dan lahan, Politikus PDIP itu mengusulkan masuk pada pasal 30 kategori bencana non alam. Kalimat wabah dalam bencana non alam ia coret karena menurutnya sudah termasuk kategori pandemi.

“Yang bencana non alam pada pasal 30 kami mencoret wabah, kalau di pengertian bahasa Indonesia bahwa wabah itu termasuk pandemi, jadi kami mencoret wabah, namun kami memasukkan kegagalan konstruksi skala besar, misalkan ada jebolnya bendungan,” tutur Risma.

Baca Juga⇓⇓⇓

Tak Ada Peringatan Dini Tsunami Saat Gempa Bumi 7,2 M Guncang Vanuatu

“Itu kami masukkan di dalam bencana, kemudian berikutnya kebakaran hutan dan lahan itu kami masukkan ke non alam kebakaran hutan dan lahan jadi satu,” lanjutnya.

Mengapa Petir Sering Terjadi Pada Musim Penghujan?

Mengapa Petir Sering Terjadi Pada Musim Penghujan?

Tak terasa sudah masuk musim penghujan akhir-akhir ini. Namun, kondisi cuaca yang terjadi seringkali dipengaruhi oleh berbagai faktor alam yang tidak sedikit sehingga menyebabkan fenomenaseperti hujan ekstrem yang disertai dengan badai, petir, dan juga angin kencang.

Salah satu bentuk gangguan cuaca yang terkadang bisa terjadi akibat dari dampak cuaca yang sangat ekstrem adalah badai petir.

Badai ini biasanya berlangsung singkat dan hampir selalu dikaitkan dengan petir, guntur, awan tebal, hujan yang lebat hingga hujan es, dan angin kencang. Lantas, mengapa badai petir sering terjadi pada musim penghujan?

Ketika ada lapisan udara hangat yang lembab dan naik dalam arus besar yang deras ke daerah atmosfer yang lebih dingin, maka badai petir ini akan terjadi. Presitipasi terjadi ketika ada kandungan yang mengembun dan membentuk awan kumulonimbus yang menjulang tinggi. Selanjutnya, udara dingin akan jatuh ke bumi dan menghantam tanah dengan aliran angin horizontal yang kuat. Kemudian pada saat yang sama muatan listrik terakumulasi dengan partikel awan yaitu tetesan air dan es. Tahukah Anda bahwa petir memanaskan udara yang melaluinya dengan sangat kuat dan cepat hingga memunculkan gelombang kejut yang terdengar seperti tepukan tangan dan gulungan guntur.

bahwa pelepasan petir sebenarnya terjadi ketika ada akumulasi muatan listrik yang besar. Ketika ada badai petir, maka biasanya akan ada tornado, hal tersebut akan terjadi jika badai tersebut terjadi cukup ekstrem dan disertai dengan adanya pusaran udara yang berputar-putar dengan konsentrasi yang kuat. Badai petir diketahui terjadi di hampir setiap wilayah di dunia, meskipun jarang terjadi di wilayah kutub dan jarang terjadi pada garis lintang yang lebih tinggi dari 50° LU dan 50° LS. Oleh karena itu, daerah beriklim sedang dan tropis di dunia adalah yang paling sering muncul badai petir.

Formasi dan struktur badai petir yaitu berupa gerakan atmosfer vertikal, gangguan yang paling sebentar tapi sangat hebat yang melibatkan area udara yang naik dan turun. Badai petir memang tidak stabil dengan gerakan vertikal. Setiap kali mulai hangat, maka hal tersebut akan muncul dikarenakan udara ringan ditimpa oleh udara yang lebih dingin dan berat. Hingga udara yang lebih dingin cenderung tenggelam dan memindahkan udara yang hangat keatas.

Tak Ada Peringatan Dini Tsunami Saat Gempa Bumi 7,2 M Guncang Vanuatu

Tak Ada Peringatan Dini Tsunami Saat Gempa Bumi 7,2 M Guncang Vanuatu

Tak Ada Peringatan Dini Tsunami Saat Gempa Bumi 7,2 M Guncang Vanuatu

Intensitas kekuatan gempa bumi yang mengguncang kawasan dekat Kepulauan Vanuatu yang terletak di Pasifik Selatan pada hari Sabtu, 2 Oktober 2021 dengan berkekuatan magnitudo 7,2 menurut catatan Pusat Seismologi Mediterania Eropa (EMSC).

Meski demikian, menurut keterangan dari Pusat Peringatan Tsunami Amerika Serikat (TWC) yang berpusat di Hawaii, tidak adanya peringatan dini mengenai gelombang tsunami dari gempa yang terjadi di negara Vanuatu tersebut.

Dalam catatan EMSC dikatakan bahwa, kedalaman gempa yang terjadi di area yang dekat wilayah Vanuatu mencapai hingga 541 Km. Karena begitu dalamnya, gempa diperkirakan gempa bumi tersebut tidak akan memicu terjadinya gelombang tsunami ataupun menimbulkan kerusakan bangunan yang ada.

Sejauh ini, yang dikutip dari berbagai media terpercaya setempat, mengatakan bahwa belum adanya laporan mengenai korban tewas, hilang ataupun luka dan juga kerusakan bangunan yang ada di wilayah Vanuatu.

Pada periode bulan Agustus lalu, peringatan tsunami dini untuk negara Vanuatu dicabut usai gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 6,9 yang melanda negara pulau itu.

Gempa dideteksi pada kedalaman 96 Km, yang berasal dari barat alut Port Viladengan episentrum sekitar 350 Km, yang dirilis oleh Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS)

Tepat pada tanggal 6 September lalu, gempa dengan kkeuatan 6,6 yang mengguncang daerah lepas pantai Vanuatu. Berada pada sekitar 95 Km episentrumnya dari Port Villa yang merupakan ibu kota negara Vanuatu.

Pada hari yang sama, gempa dengan kisaran magnitudo 6,0 juga mengguncang Chile. USGS mencatat bahwa kedalaman gempa mencapai hingga 28,3 Km, dengan episentrum sekitar 49 Km yang berasal dari kota Ovalle.

Sebelumnya, pada lima tahun yang lalu, sekitar periode bulan April, gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 7,2 mengguncang Vanuatu. Gempa susulan tersebut terjadi tidak lama seusai guncangan yang pertama kali dengan kekuatan 5,9 di area yang sama dari Port Olry yang terletak di pulau Espiritu Santo.

Gempa Bumi Magnitudo 6,5 Guncang Lepas Pantai Vanuatu

Gempa Bumi Magnitudo 6,5 Guncang Lepas Pantai Vanuatu

Gempa magnitudo disebabkan oleh adanya pergerakan lempeng antar benua dan antar samudera. Gempa berkekuatan magnitudo 6,5 tersebut mengguncang lepas pantai negara Vanuatu yang terjadi pada periode September lalu.

Gempa tersebut tidak menyebabkan terjadinya gelombang tsunami sehingga tidak akan memporak-porandakn bangunan dan korban jiwa.

Menurut Otoritas Chile dalam laporannya menyebutkan bahwa sejauh ini belum adanya laporan terkait kerusakan bangunan maupun korban jiwa yang diakibatkan oleh gempa bumi tersebut.

Pada bulan Februari 2010 silam, Chile juga pernah diguncang gempa dengan kekuatan 8,8 SR. Pada waktu itu, gempa mengakibatkan 500 orang tewas dan jaringan telekomunikasi di daerah yang terdampak gempa bumi tersebut benar-benar terputus dengan pemerintah pusat yang berlokasi di Santiago.

Baca Juga ⇒ Akankah Ibukota Akan Tenggelam di Tahun 2030?

Jika dilihat dari peta geografiknya, Chile dan Vanuatu merupakan dua dari sejumlah negara yang ada di dunia yang rentan terhadap aktivitas vulkanik maupun seismik sehingga bisa dikatakan daerah dengan rawan terjadinya bencana alam seperti gempa bumi.

Akankah Ibukota Akan Tenggelam di Tahun 2030?

Penurunan Muka Tanah di Pesisir Jakarta

Permukaan tanah Jakarta turun 6 cm setiap tahunnya. Menurut salah seorang warga yang bernama Sarwana (48), ia merupakan seorang penjual warung nasi. Setiap hari di jam 5 pagi ia selalu bergegas untuk menyiapkan dan membuka warung nasinya itu. Sambil measak juga, ia menyiapkan segala jenis gelas-gelas untuk air teh. Biasanya pelanggan setia warungnya itu ialah sebagian pekerja proyek tanggul di Kawasan Gedung Pompa, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara.

“Selain pekerja proyek, ada juga nelayan yang ingin pergi melaut mampir dahulu ke tempat warung nasinya untuk makan disana,” ujar Sarwana ketika bercerita ke media massa terpercaya.Akankah Ibukota Akan Tenggelam di Tahun 2030

Sarwana merupakan salah satu dari sekian banyak warga yang sudah sejak kecil tinggal di daerah Muara Baru. Ia betul-betul sangat merasakan bagaimana kondisi di kawasan pesisir ibu kota tersebut jika dibandingkan 30 tahun yang lalu dan hari ini. Katanya, waktu ia masih kecil, air laut di daerah tempat tinggalnya tidak setinggi seperti sekarang. Bahkan dasar laut masih terlihat dengan mata kepala sendiri.

“Jika bidabndingkan dulu dan sekarang, sudah banyak terjadi perubahan. Kalau sekarang, terasa sekali airnya tinggi, dalam, tanah ini makin lama makin turun. Untuk ada tanggul yang bisa jadi penghalang,” ceritanya.

Tanggul-tanggul yang dipasang di Muara Baru baru saja di pasang sekitar lima tahun yang lalu. Tujuan dipasangnya tanggul-tanggul tersebut ialah untuk mencegah air laut yang semakin tinggi masuk ke daerah pemukiman warga. “Kalau dulu, kalau air naik langsung banjir semuanya, apalagi kalau tanggulnya jebol. Tapi sekarang sudah ada tanggul, paling cuma rembesan saja airnya,” lanjut Sarwana.

Sebenarnya tanggul-tanggul di daerah Muara Baru memiliki ketiggian sekitar 4 meter. Tanggul itu pernah jebol di tahun 2019. Untuk kegiatan setiap harinya, banyak warga setempat yang beraktivitas di daerah sekitaran tanggul. Biasa dipakai untuk memancing, menjaring ikan, mencuci baju, menjual makanan, hingga menjadi tempat bermain bagi anak-anak.

Baca Juga↓↓↓

Inilah Alasan Kenapa Indonesia Rawan Terjadinya Gempa Bumi

Penurunan Muka Tanah di Pesisir Jakarta

Penurunan Muka Tanah di Pesisir Jakarta

Bahaya dan ancaman Jakarta yang akan tenggelam di tahun 2030 terus menjadi perbincangan banyak kalangan, terutama setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan bahwa potensi Jakarta akan tenggelam beberapa waktu lalu.

Sebenarnya, prediksi Jakarta akan tenggelam sudah berpuluh-puluh tahun diperbincangkan. Sejumlah penelitian juga menyebut bahwa permukaan tanah di Jakarta terus mengalami penurunan setiap tahunnya, terutama di daerah pesisir Jakarta. Bahkan Dinas Sumber Air DKI Jakarta telah mencatat bahwa sejak tahun 2007 sampai dengan 2016, penurunan tanah di Jakarta terjadi hingga satu meter.

Yusmada Faizal, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta juga mengatakan, kawasan Muara Baru tersebut telah berada di bawah permukaan laut dan terus mengalami penurunan muka tanah. Pada tahun 2050, Muara Baru bisa berada 4,6 meter di bawah permukaan laut apabila tidak dilakukan pencegahan sejak dini.

Selain Muara Baru, adapun tujuh wilayah pesisir Jakarta lainnya yang juga terancam tenggelam karena di bawah permukaan air. Wilayah itu antara lain Pluit diperkirakan mencapai 4,35 meter di bawah permukaan air laut, Kamal Muara 3 meter, Gunung Sahari 2,90 meter, Tanjungan 2,10 meter, Ancol 1,70 meter, Marunda 1,3 meter, dan terakhir di Cilincing yaitu 1 meter.

Menurut Yasmada, Pemda DKI Jakarta mengawali pengendalian banjir rob di bagian utara Jakarta dengan penataan tanah timbul yang ada di sepanjang pesisir pantai. Selain itu juga, melakukan penataan mangrove pantai publik dan juga pembangunan deselerasi air sebagai substitusi penyedotan tanah.

Apa itu Tanah Longsor dan Bagaimana Proses Terjadinya?

Apa itu Tanah Longsor dan Bagaimana Proses Terjadinya?

Tanah longsor merupakan salah satu dari sekian banyak bencana alam yang terjadi di bumi. Penyebab terjadinya tanah longsor bisa diakibatkan oleh beberapa faktor. Secara umum disebabkan oleh faktor pemicu dan faktor pendorong. Apalagi jika musim hujan tiba, ada saja kekhawatiran masyarakat akan bencana alam seperti banjir bandang, tanah longsor dan lain-lain.

Gerakan tanah atau longsor adalah kejadian atau peristiwa yang terjadi karena pergerakan tanah dan masa batuan dengan berbagai jenisnya, seperti jatuhnya bebatuan yang besar ataupun gumpalan tanah besar.

Apa itu Tanah Longsor dan Bagaimana Proses Terjadinya?

Saat memasuki musim penghujan biasanya jumlah peristiwa terjadinya tanah longsor meningkat terutama di daerah-daerah yang tanahnya bergelombang dan perbukitan yang sangat terjal dan curam. Berdasarkan data statistik, dalam periode tahun 2005 hingga 2011 tercatat jumlah kasus terjadinya peristiwa alam tanah longsor tersebar di wilayah seluruh Indonesia dengan 889 titik dan mengakibatkan berjatuhan korban jiwa hingga 2584 orang tewas.

Demikian menurut Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Penyebab terjadinya tanah longsor yang harus dipahami dan di antisipasi , agar bisa menjadikan diri sendiri atau orang-orang terdekat lebih waspada lagi untuk kedepannya.

Penyebab Terjadinya Tanah Longsor

1. Curah Hujan yang Tinggi

Hujan yang tinggi dan berlangsung secara terus-menerus dalam kurun waktu yang lama bisa menjadi penyebab terjadinya tanah longsor. Bebatuan dan tanah di sekitaran lereng gunung atau perbukitan akan semakin lemah akibat terkikisnya air hujan yang sangat lebat dan terjadi terus menerus. Setelah melewati musim kemarau yang sangat panjang, biasanya tanah-tanh menjadi sangat kering dan menimbulkan retakan serta rongga-rongga yang terjadi pada tanah.

Ketika memasuki musim hujan, pastinya air hujan yang turun akan masuk ek dalam rongga-rongga dan pori-pori tanah tersebut . Sehingga rongga-rongga dipenuhi dengan air dan terjadilah persegeran pada lapisan tanah. Jika ini terus-menerus terjadi makan tanah akan terkikis dan mengakibatkan erosi serta tanah longsor.

2. Erosi pada Tanah

Penyebab umum yang sering terjadi ada erosi pada tanah. Erosi ini terus mengikis lapisan-lapisan tanah, kaki-kaki lereng sampai terus bertambah curam. Erosi pada tanah pada umumnya disebabkan oleh curah hujan yang cukup tinggi, badai, sungai, air bah dan juga gelombang air laut pasang surut dan lain sebagainya.

3. Getaran

gtaran yang terjadi pada tanah bisa disebabkan banyak hal seperti gempa bumi, lalu lintas kendaraan berat, getaran dari mesin, penggunaan bahan peledak, dan bisa juga diakibatkan oleh petir saat hujan deras.

Getaran-getaran ini yang lama-lama jika dibiarkan akan menyebabkan tanah menjadi longsor. Terutama di dataran yang curam seperti lereng perbukitan.

4. Hutan Gundul

Hutan gundul juga bisa menyebabkan terjadinya tanah longsor akibat penebangan sembarangan dan liar yang tidak ditanam kembali pepohonan. Seperti yang kita tahu, fungsi utama pohon apalgi di daerah perbukitan adalah untuk penopang. Karena akar-akar pohon tersebut mampu menopang, menyimpan air dalam jumlah yang banyak dan memperkuat struktur tanah.

Namun apabila semua pepohonan di tebang hingga habis, maka tanah tidak dapat menyerap lebih banyak air dan menyebabkan mudah terkikis sehingga bisa menyebabkan terjadinya tanah longsor.

5. Lereng Bukit dan Tebing yang Terjal

Proses pembentukan tebing terjal atau lereng bukit adalah lewatnya hembusan angin dan air terjadi di sekitarnya, akan berdampak pada pengikisan tersebut. Apakah daerah kalian mengalami hal ini? Jika ya, maka sebaiknya berhati-hatilah, sebab kemungkinan rawan tanah longsor.

Baca juga: Inilah Alasan Kenapa Indonesia Rawan Terjadinya Gempa Bumi

Proses Terjadinya Tanah Longsor

Proses Terjadinya Tanah Longsor

Tanah longsor dapat terjadi apabila air yang meresap ke dalam tanah menyebabkan bobot atau massa tanah bertambah. Kemudian air akan menembus sampai ke bidang miring atau gelincir hingga menyebabkan bergerak keluar ke arah lereng gunung. Apabila gaya pendorong yang terjadi pada lereng lebih besar daripada gaya penahan maka kemungkinan adkan terjadinya longsor.

Gaya penahan itu dipengaruhi seperti kekuatan bebatuan di atas tanah, kepadatan tanah dan jumlah pepohonan yang tumbuh di wilayah tersebut. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh jumlah air yang melebih kapasistas, sudut kemiringan di suatu lereng, dan berat atau beban jenis tanah batuan yang terbentuk di tanah tersebut.

Biasanya peristiwa alam ini terjadi kecita musim penghujan tiba, saat musim kemarau telah usai banyak sekali tanah yang berongga bahkan mengalami keretakan di beberapa wilayah. Nah, ketika air hujan jatuh ke tanah otomatis akan mausk ke dalam pori-pori tanah tersebut, membuat kandungan air yang ada di dalam tanah menjadi jenuh. Air tersebut akan terakumulasi di dasar lereng pegunungan sehinggga memicu gerakan lateral yang dengan mudahnya bergerak menuruni lereng.

Namun, lain halnya jika disekitaran wilayah tersbut tumbuh pepohonan yang banyak dan lebat. Akan akan mengucni dan mempererat serta menyerah kelebihan air tersebut sehingga tanah tidak mudah bergerak. Maka dari itu, untuk daerah seperti di pegunungan, perbukitan, lereng-lereng yang curam harus ditanami penghijauan yang banyak untuk menghindari terjadinya tanah longsor.

Inilah Alasan Kenapa Indonesia Rawan Terjadinya Gempa Bumi

Inilah Alasan Kenapa Indonesia Rawan Terjadinya Gempa Bumi

Seperti yang kita ketahui menurut sejarah tercatat Indonesia merupakan salah satu negara di dunia dengan rawan bencana alam seperti gempa bumi. Gempa bumi yang terjadi menimbulkan dampak yang cukup besar seperti kerusakan bangunan, kehilangan korban jiwa dan lain-lain.

Inilah Alasan Kenapa Indonesia Rawan Terjadinya Gempa Bumi

Tapi pernahkah kalian terpikirkan, sebenarnya apa yang menyebabkan wilayah-wilayah di Indonesia sering mengalami gempa bumi? Berikut sudah kami rangkum dari berbagai sumber terpercaya pada artikel Inilah Alasan Kenapa Indonesia Rawan Terjadinya Gempa Bumi. Simak penjelasannya.

1. Letak Geografis

Secara geografis, Indonesia terletak di antara 2 samudera yaitu Samudera Pasific dan Samudera Hindia; dan juga 2 benua yaitu Benua Asia dan Benua Australia.

Walau letak Indonesia strategis untuk bisa menjalin kerjasama antar negara di bidang perdagangan dan lain-lain, di sisi lain ada dampak buruknya. Dampak buruknya yakni, sering terjadinya bencana lain seperti gempa bumi vulkanik dan gempa bumi tektonik.

Selain itu, Indonesia juga terletak di antara lempeng Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Indonesia juga termasuk dalam cincin api pasifik, yang merupakan gugusan gunung berapi di dunia.

2. Pergerakan Lempeng

Pergerakan lempeng juga merupakan salah satu penyebab terjadinya gempa bumi. Pergerakan antar lempeng ini yang menyebabkan tekanan dan pergesekan hingga menimbulkan getaran kecil sampai terjadinya getaran besar yang kita sebut dengan gempa bumi. Besar kecilnya gempa juga bergantung pada besar tekanan atau pergesekan antar lempeng ini.

Ada juga teori dari lempeng tektonik yang menjelaskan bumi yang kita pijak saat ini terdiri dari beberapa lapisan batuan yang sangat kuat dan tebal. Sebagian diantaranya merupakan lapisan kerak yang mengapung dan akan hanyut seperti salju. Lapisan ini yang kemudian bergerak perlahan-lahan sampai pecah dan terbelah serta saling bertabrakan satu dengan yang lainnya.

Hal inilah yang dinamakan dengan gempa tektonik. Karena letak Indonesia berada dalam tiga lempeng bumi, jadi jika salah satu lempeng ini saling bertabrakan, kemungkinan terjadinya gempa bumi sangatlah tinggi.

Hampir Seluruh Wilayah di Indonesia Dikelilingi oleh Cincin Api Pasifik

Hampir Seluruh Wilayah di Indonesia Dikelilingi oleh Cincin Api Pasifik

3. Cincin Api Pasifik

Indonesia berada di jalur gunung paling teraktif di dunia karena dikelilingi oleh cincin api Pasifik. Kondisi geografis inilah yang menyebabkan Indonesia sering terjadinya letusan gunung berapi, gempa bumi dan tsunami. Cincin api Pasifik atau ring of fire merupakan daerah yang sering terjadinya gempa bumi dan gunung meletus yang dikelilingi api pasifik.

Daerah yang dikelilingi oleh cincin api ini membentuk seperti tapal kuda dan luasnya mencapai 40 ribu km. Daerah ini disebut juga dengan sabuk gempa pasifik. Karena terletak diatas jalur magma, Indonesia mempunyai total 127 gunung berapi yang masih aktif hingga saat ini dengan populasi penduduk yang tinggal disekitarnya berjumlah 5 juta orang.

Baca juga: Banjir Bandang Kampar Sebabkan Akses Jalan Terputus, Ratusan Warga Terisolasi

4. Reaksi Berantai dari Gunung Berapi

Terdapat fenomena yang unik di Tanah Air kita yang tercinta ini, yaitu meletusnya gunung berapi secara bersamaan. Diantaranya Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gunung Raung di Jawa Timur dan Gunung Gamalama di Ternate. Reaksi berantai yang terjadi secara bersamaan ini kemungkinan disebabkan oleh aktivitas yang terjadi di dapur magma. Jika kita melihat dari peta cincin api pasifik ini, wilayah Indonesia hampir secara keseluruhan berada tepat di atas dapur magma.

Itulah beberapa alasan mengapa di wilayah Indonesia sering terjadinyA bencana alam seperti gempa bumi. Sampai jumpa di artikel selanjutnya.

Banjir Bandang Kampar Sebabkan Akses Jalan Terputus, Ratusan Warga Terisolasi

Gerak Cepat PT Perkebunan Nusantara V

Banjir bandang yang terjadi pada 30 Agustus 2021 di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau menyebabkan akses jalan antar desa terputus. Ratusan warga di sejumlah desa tersebut terisolasi setelah terjadinya banjir bandang.

Karena letak terisolasi inilah yang membuat kabar bencana alam tersebut baru sampai terdengar ke Pemerintah Daerah (Pemda) pada tanggal 1 September 2021. Peristiwa alam ini menyebabkan sekitar 450 jiwa di Desa Ludai terdampak, air yang bercampur dengan lumpur membuatnya menjadi keruh merusak sejumlah bangunan seperti tempat tinggal, tempat ibadah, sekolah, fasilitas kesehatan, dan fasilitas umum lainnya.

Karena desa ini sulit diakses, sehingga satu-satunya jalur yangmenghubungkan daerah ke dunia luar adalah melalui sungai. Butuh waktu sekitar empat jam perjalanan menggunakan perahu dengan mesin ke desa dari pusat pemerintahan.

Banjir Bandang Kampar Sebabkan Akses Jalan Terputus, Ratusan Warga Terisolasi

Kepala Badan Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Adi Chandra mengatakan setidaknya ada 31 unit rumah arga yang rusak parah. Begitu juga dengan sekolah, tempat ibadah, dan lebih dari lima belas fasilitas umum juga rusak.

Namun Adi bersyukur tak ada korban jiwa dalam peristiwa alam tersebut. Dia menyebut bahwa cuaca dalam beberapa minggu terakhir ini cenderung tidak bersahabat sehingga kemungkinan akan berpotensi memunculkan bencana serupa.

Meski demikian, banyak dari masyarakat enggan untuk meninggalkan desa tempat tinggal mereka menuju ke tempat pengungsian yang lebih aman dan dapur umur yang telah didirikan oleh para petugas.

“Warga tetap bertahan di desa tersebut dengan segala keterbatasannya, bantuan yang saat ini paling dibutuhkan oleh masyarakat desa ialah sembako,” ujar Adi pada Jumat (3/9/2021).

Menurutnya, bantuan sembako tersebut akan meringankan beban warga desa yang terdampak banjir bandang itu. Pihaknya dengan sigap telah berada di lokasi untuk mengirimkan berbagai bantuan.

Mereka sangat berharap agar bantuan segera di distribusikan ke tempat mereka akibat banyaknya warga yang terisolasi. Peristiwa tersebut mengundang rasa empati para relawan di Pekanbaru. Para relawan tersebut lalu menembus medan yang sangat berat menggunakan mobil off road agar bisa mengirimkan sejumlah bantuan kepada warga yang terdampak.

Gerak Cepat PT Perkebunan Nusantara V

Gerak Cepat PT Perkebunan Nusantara V

Selain para relawan dari Pekanbaru, PT. Perkebunan Nusantara V (PTPN V) melalui Tim Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) juga menyerahkan ratusan sembako yang disalurkan melalui BPBD Kampar untuk didistribusikan kepada masyarakat yang terdampak banjir bandang tersebut.

Jatmiko Santoso selaku Chief Executive Officer PTPN V menyebutkan bahwa ada kitar 150 paket sembako yang dikirimkan ke masyarakat. Dengan komposisi masing-masing berupa beras, gula, minyak makan, dan bahan pokok lainnya.

“Bantuan yang diberikan diharapkan bisa meringankan sedikit untuk masyarakat yang terdampak untuk terus berjuang dalam memulihkan keadaan pasca banjir bandang di Desa Ludai,” pungkas Jatmiko.

Baca juga artikel lainnya: Waspadai 5 Tanda Akan Terjadinya Gempa Bumi yang Harus Anda Ketahui

Waspadai 5 Tanda Akan Terjadinya Gempa Bumi yang Harus Anda Ketahui

Waspadai 5 Tanda Akan Terjadinya Gempa Bumi yang Harus Anda Ketahui

Bencana alam gempa bumi adalah salah satu dari sekian banyak bencana yang sangat menakutkan bagi makhluk hidup di bumi ini. Apalagi kita tinggal di negara Indonesia yang termasuk negara paling rawan terhadap bencana alam seperti gempa bumi ini.

Waspadai 5 Tanda Akan Terjadinya Gempa Bumi yang Harus Anda Ketahui

Maka dari itu, usahakan sebisa mungkin untuk mempelajari dan mewaspadai ciri-ciri yang biasanya akan terjadi gempa bumi. Mitigasi bencana sangat diperlukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, mengurasi dampaknya serta resiko-resiko setelah terjadinya peristiwa alam tersebut.

Berikut tanda-tanda yang bisa dilihat jika peristiwa akam itu akan terjadi. Simak penjelasannya:

1. Muncul Awan yang Berbentuk Seperti Pohon

Banyak orang menganggap sepele hal ini, akan tetapi jika kamu sudah melihat dan mengetahuinya cepat-cepatlah untuk segera mencari keamanan. Awan yang betuknya seperti angin puting beliung, pohon ataupun batang pohon biasa posisinya berdiri dan tegak.

Awan ini memang kelihatan dari bentuknya aneh, disebabkan oleh banyak faktor diantaranya karena adanya gelombang elektromagnetis yang ada akibat adanya pergeran lempeng-lempeng bumi atau patahan-patahan yang memicu berdaya kuat hebat dari dalam bumi.

Kemudian gelombang elektromagnetis itu ‘menyerap’ daya listrik pada awan, sehingga terbentuklah awan yang kelihatannya seolah-olah berdiri tegak.

Namun, ada juga faktor lain yang menyebabkan munculnya bentuk awan ini bukan hanya karena gelombang elektromagnetis saja. Melainkan karena adanya pengaruh angin dan lain-lain.

Jadi jika kamu melihat awal yang berbetuk seperti itu, belum bisa dipastikan bahwa dimana tempat kamu berada akan terjadi gempa bumi.

2. Seperangkat Alat Elektronik di Dalam Rumah Mengalami Gangguan Tak Wajar

Sebelum terjadinya gempa bumi, biasanya alat-alat elektronik pasti mengalami gangguan aneh. Misalnya lampu yang nyala-redup, mesin faksimile yang terus berkedip, transmiti data jaringan mengalami gangguan berulang kali atau bisa juga televisi yang selalu mengeluarkan suara tak wajar bunyinya ‘brebet’.

Jika semua hal tersebut terjadi, ada kemungkinan besar akan terjadi gempa bumi. Peralatan elektronik tersebut mengalami gangguan dikarenakan memang adanya gelombang elektromagnetis dengan frekuensi tinggi dekat rumah kita.

3. Perlihatkan Perilaku Hewan yang Aneh, Gelisah dan bahkan Tiba-tiba Menghilang

Jika disekitar tempat tinggalmu, kamu melihat banyak sekali tingkah laku hewan yang sangat aneh. Kamu wajib curiga dan waspada. Utamakan keselamatan diri kamu sendiri, karena ini sangat penting agar tidak memakan jumlah korban jiwa yang sangat parah dan banyak.

Ada beberapa hewan yang dapat merasakan getaran gelombang elektromagnetik yang kuat. Bisanya hewan-hewan tersebut akan berlarian untuk bisa mneyelamatkan diri, sebelum goncangan yang akan lebih besar terjadi.

Munculnya Cahaya Aneh dan Guncangan Kecil Juga Pertanda Akan Terjadinya Gempa Bumi

Munculnya Cahaya Aneh dan Guncangan Kecil Juga Pertanda Akan Terjadinya Gempa Bumi

4. Munculnya Cahaya

Cahaya gempa yang dimaksud ini meskipun jarang ditemukan atau muncul tapi mungkin saja ini bisa jadi pertanda akan terjadinya goncangan yang sangat besar dan gempa bumi Biasanya cahaya ini nampak sekilas saja dan banyak orang mengira cahaya tersebut berasal dari UFO atau Alien.

Jika kamu sudah tahu bahwa munculnya cahaya aneh di wilayah tempat tinggalmu, langkah sebaiknya yang harus kamu lakukan ialah siap siaga dalm menghadapi goncangan yang kemungkinan besar akan terjadi.

5. Munculnya Gempa-gempa Kecil

Selain dari pada tanda-tanda yang sudah disebutkan diatas, tanda lainnya ialah goncangan-goncangan kecil yang terjadi di wilayah yang akan terjadinya gempa bumi.

Biasanya goncangan kecil ini menjadi pertanda bahwa akan terjadinya goncangan hebat yang menyebabkan gempa bumi. Dan goncangan kecil ini juga berlangsung sangat ringan dan cepat.

Maka, jika kamu sudah merasakan goncangan kecil ditempatmu. Lebih baik cari tempat yang aman dan menunggu beberapa menit hingga jam untuk menghindari terjadinya gempa bumi yang akan terjadi.

Baca artikel lainnya: Waspada! Maluku Tengah Berpotensi Tsunami Non Tektonik

Gempa Bumi 7,0 Magnitudo di Meksiko, Ratusan Warga Panik

Gempa Bumi 7,0 Magnitudo di Meksiko, Ratusan Warga Panik

Menurut media massa setempat, gempa bumi yang berkekuatan mencapai 7,0 Magnitudo mengguncang wilayah Acapulco, Meksiko pada malam hari Selasa (7/9/2021) pukul 20.48 waktu setempat.

Gedung-gedung, bangunan tinggi dan rumah warga yang berada di sekitar Mexico City bergetar hingga membuat semua warga yang yang merasakannya mengalami kepanikan.

Menurut keterangan dari Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa tersebut berada pada titik di kedalaman 12 Km. Melanda 11 mil dari Timur Laut resort Acapulco, Guerrero. Gempa tersebut menyebabkan banyaknya batu-batu besar berjatuhan dan terjadinya tanah longsor di sejumlah wilayah yang terdampak.

Gempa Bumi 7,0 Magnitudo di Meksiko, Ratusan Warga Panik.jpg

Gempa juga berpotensi terjadinya tsunami karena terjadi di titik pusat lepas pantai. Namun, hingga saat ini belum ada kepastian lagi dari otoritas Meksiko terkait hal itu.

Sejumlah bangunan mengalami kerusakan parah hingga warga Meksiko merasakan panik lalu berhamburan ke tengah jalan.

Getaran dikabarkan terasa sampai ke Mexico City, pemadaman listrik dan juga kebocoran gas alam juga terjadi akibat dari guncangan gempa tersebut.

Claudia Sheinbaum, Wali Kota Mexico City menjelaskan belum ada laporan tentang kerusakan serius yang dialami di daerah tersebut.

“Pemadaman listrik terjadi bukan hanya di daerah Mexico City, akan tetapi di negara tetangganya seperti Roma Sur juga mengalami pemadaman listrik sehingga banyak warga yang merasa ketakutan dan pergi keluar rumah. Beberapa warga keluar rumah hanya mengenakan pakaian pendek lebih pendek dari pakaian tidur,” ujar saksi media setempat.

Ada juga yang berlari kesana-kemari di tengah derasnya hujan, membawa anak dan hewan peliharaannya. Kekhawatiran menyelimuti perasaan warga saat kembali ke rumah masih dalam keadaan gelap gulita.

“Peristiwa tersebut sangat mengerikan, dan mengingatkan saya kembali pada saat gempa bumi yang pernah terjadi pada tahun 1985” ujar Yesmin Rizk yang berusia sekitar 75 tahun warga Roma Sur.

Negara Meksiko Sering Digoncang Bencana Gempa Bumi

Negara Meksiko Sering Dilanda Gempa Bumi 2

Menurut catatan sejaran, Meksiko merupakan negara yang sering dilanda gempa bumi. Sama halnya seperti Indonesia, hal ini disebabkan karena negara Meksiko terletak di atas tiga lempeng tektonik yang sangat besar yakni Lempeng Cocos, Lempeng Amerika Utara, dan Lempeng Pasifik.

Lempeng-lempeng tersebut berada di lapisan kerak bumi yang tersusun dan saling berkaitan. Ketika dua atau tiga lempeng bergerak dan saling bergesekan, tentunya akan menyebabkan daratan bergetar dan terjadilah guncangan yang kuat. Hal itu dinamakan dengan gempa bumi.

Selain dari pada terletak di antara beberapa lempeng tersebut, hal lain yang berkontribusi terjadinya gempa di Meksiko ialah keadaan tanah di negara tersebut. Jika dilihat dari sejarahnya, daratan Meksiko merupakan bekas dasar danau purba kala.

Karakteristik dan kondisi inilah yang disebut dengan ‘tanah lunak’ dan jenis tanah ini sangat berkontribusi besar dalam menguatkan getaran. Oleh karena itu, goncangan gempa bumi sering terjadi lebih besar. Hal itu yang menyebabkan Meksiko sering dilanda gempa bumi.

Baca artikel lainnya: Nusa Tenggara Timur (NTT) Merasakan Gempa Bumi Sebanyak Lebih Kurang 160 Kali di Bulan Agustus

4 Langkah yang Harus Dihadapi Saat Bencana Gunung Meletus

4 Langkah yang Harus Dihadapi Saat Bencana Gunung Meletus

Gunung meletus merupakan bencana alam yang tidak bisa kita duga kapan waktunya terjadi untuk meletus. Maka dari itu, kita harus mempunyai persiapan dalam menghadapinya.

Terus, bagaimana cara kita mempersiapkan diri agar terhindar dan selamat dari bahayanya gunung meletus? Apalagi untuk warga sekitar gunung berapi.

4 Langkah yang Harus Dihadapi Saat Bencana Gunung Meletus

Gunung meletus merupakan bencana alam yang tidak bisa kita duga kapan waktunya terjadi untuk meletus. Maka dari itu, kita harus mempunyai persiapan dalam menghadapinya.

Terus, bagaimana cara kita mempersiapkan diri agar terhindar dan selamat dari bahayanya gunung meletus? Apalagi untuk warga sekitar gunung berapi.

Dikutip dari sumber terpercaya, berikut trik yang dapat dilakukan saat terjadi bencana gunung meletus, simak penjelasannya:

1. Wajib Memantau Perkembangan Informasi Terbaru
Biasanya di sekitaran gunung berapi atau yang masih aktif, terdapat alat sirine yang berfungsi sebagai tanda bahaya jika sewaktu-waktu gunung tersebut mengeluarkan erupsi. Jika gunung tersebut mengeluarkan erupsi, secara otomatis tanda bahaya tersebut akan bunyi dan akan meneruskan informasi lewat media seperti televisi atau radio. Sehingga kita punya waktu untuk menentukan langkah selanjutnya agar terhindar dari bencana gunung meletus tersebut.

2. Menjauh dari Gunung Berapi dan Cari Tempat yang Aman
Usahakan cari tempat yang aman untuk menghindari semburan gunung berapi, masuk ke dalam ruangan yang aman dan tutup semua jendela serta pintu kecuali jika ada instruksi untuk meninggalkan ruangan tersebut. Jika memungkinkan, amankan barang-barang elektronik, kendaraan, serta hewan peliharaan jika ada.

3. Ikuti Instruksi yang Tepat
Jangan mengabaikan instruksi darurat saat bencana gunung meletus sedang terjadi. Ikuti arahan dan aturan jika intruksi mengarahkan Anda ke tempat yang lebih aman dan jauh dari gunung berapi. Rata-rata banyaknya korban akibat letusan gunung meletus karena tidak mengikuti instruksi yang darurat yang tepat.

4. Lindungi Pernapasan
Biasanya gunung yang mau meletus mengeluarkan erupsi seperti abu vulkanik dan gas kimia yang sangat beracun. Sebisa mungkin tutup hidung Anda dengan masker atau kain apapun sehingga tidak mengganggu jalannya pernapasan. Jangan panik, tetap ikuti intruksi darurat dan jaga diri.

Tindakan yang Harus Dilakukan Setelah Gunung Meletus

Setelah terjadi letusan gunung berapi, berikut beberapa tindakan yang harus dilakukan, diantaranya:

1. Jauhi wilayah yang terkena hujan abu, ini penting agar tidak mengganggu sistem pernapasan kita. Jika masih banyak abu vulkanik yang dihasilkan dari gunung meletus, baiknya menghindari tempat tersebut dan cari tempat yang aman yang tidak ada bekas hujan abu tersebut.

2. Bersihkan tempat dari timbunan abu, jika dirasa wilayah yang terkena hujan abu vulkanik sudah habis. Pastikan untuk membersihkan daerah-daerah yang diguyur oleh abu vulkanik tersebut. Pada saat membersihkan, usahakan tetap memakai masker untuk menghindari abu masuk ke dalam hidung kita pada saat membersihkannya.

3. Hindari berkendara didaerah terkena hujan abu, karena bisa merusak mesin motor, rem, transmisi hingga pengapian. Usahakan tidak menggunakan sepeda motor atau mobil dahulu, tunggu sampai benar-benar timbunan abu bekas letusan gunung berapi tersebut sudah benar-benar hilang.

4. Selalu ikuti informasi melalui sumber informasi yang ada (radio/tv) atau kontak instansi terkait. Agar kita selalu mendapatkan informasi terbarukan setelah terjadi nya bencana gunung meletus.

Baca juga: Waspada Tsunami! Jawa Barat Diguncang Gempa Bumi Puluhan Kali

Itulah beberapa informasi yang bisa dilakukan saat terjadi dan setelah terjadinya bencana gunung meletus. Tetaplah waspada, jaga keselamatan diri dan keluarga tercinta. Sampai jumpa di artikel selanjutnya.

Waspada Tsunami! Jawa Barat Diguncang Gempa Bumi Puluhan Kali

Waspada Tsunami! Jawa Barat Diguncang Gempa Bumi Puluhan Kali

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandung mengungkapkan bahwa pusat lokasi kejadian gempa bumi lebih banyak terjadi di laut, sehingga berpotensi terjadinya tsunami yang diakibatkan oleh peristiwa gempa bumi tersebut.

Dirinya juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik, sebab pemodelan tersebut dibuat bertujuan untuk mempersiapkan strategi dalam menghadapi bencana yang tepat demi mengurangi kerusakan dan korban jiwa akibat yang ditimbulkan.

Waspada Tsunami! Jawa Barat Diguncang Gempa Bumi Puluhan Kali

“Pada periode bulan Agustus lalu dan dilihat dari titik distribusi penyebaran gempa bumi, tercatat ada 36 kejadian gempa bumi yang terjadi dilaut dan tersebar di Pulau Jawa bagian selatan. Karena akibat dari lempeng-lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia,” jelasnya.

Kendati demikian, wilayah Jawa Barat yang sangat eksotik karena banyaknya dataran tinggi dan gunungnya. Akan tetapi dibalik itu semua, daerah tersebut sangat mempunyai potensi untuk bencana alam seperti gempa bumi yang bisa terjadi kapan saja.

Baca juga: Pengertian Angin Topan, Penyebab dan Dampak Angin Topan Serta Cara Menanggulanginya

Berberapa Wilayah di Jawa Barat Berpotensi Gempa Bumi

Jawa Barat Bisa Timbulkan Gempa Bumi Kapan Saja

Sebanyak kurang lebih 12 kali kejadian gempa bumi yang terjadi di darat sebagai aktivitas sesar lokal. Sementara, 8 kejadian lainnya disebabkan oleh sesar dan 1 diantaranya dirasakan akibat aktivitas sesar Cimandiri.

Ini peringatan kepada seluruh masyarakat Jawa Barat bahwa sesar tersebut masih aktif dan sangat perlu diwaspadai.

Sebanyak 6 kejadian gempa bumi terjadi pada tanggal 4 Agustus 2021 dan merupakan jumlah kejadian yang sangat tinggi. Untuk kedalaman gemppa bumi sangat bervariasi mulai rentang 1 sampai 129 km.

Sedangkan untuk magnitudo terbesar menurut catatan BMKG Stasiun Bandung tercatat 4,9 dan terkecil tercatat 1,6.

Selama bulan Agustus lalu, satu rangkaian gempa Doublet Earthquarke yang sering dirasakan. Gempa Doublet adalah serangkaian gempa yang daya kekuatannya hampir sama dalam lokasi dan waktu yang berdekatan.

7 Agustus 2021, terjadi rangkaian gempa Doublet. Tercatat, gempa pertama terjadi pukul 20.17 WIB dengan M 4,1 pusatnya di koordinat 7,86 Lintang Selatan (LS) dan 107,27 Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 26 Km.

Kemudian, gempa kedua terjadi pukul 20.11 WIB dengan M 4,0 pusatnya di koordinat 7,85 Lintang Selatan dan 107,29 Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 25 Km. Gempa ini sebesar III MMI untuk daerah Tasikmalaya, Cikelet, Sayangheulang, Pangalengan, dan Singajaya serta sebesar II MMI untuk daerah Bungbulan.

Adapun 5 kejadian gempa lainnya yang dirasakan selama bulan Agustus 2021, diantaranya:

1. 4 Agustus 2021 pukul 05.41 WIB dengan M 2,4 pusatnya di koordinat 6,92 LS dan 107,02 BT dengan kedalaman 4 Km. Terjadi di Cireunghas, Kebonpedes sebesar II MMI.

2. 8 Agustus 2021 pukul 17.30 WIB dengan M 4,1 pusatnya di koordinat 7,77 LS dan 107,34 BT dengan kedalaman 33 Km. Terjadi di beberapa titik di Cibalong, Singajaya, Pamengpeuk, Cisompet, Sodonghilir, Pangandaran dan Ciamis sebesar II MMI.

3. 9 Agustus 2021 pukul 21.36 WIB dengan M 4,9 pusatnya di koordinat 8,49 LS dan 108,98 BT dengan kedalaman 53 Km. Terjadi di beberapa titik di berbagai wilayah di Pangandaran, Karangnunggal, Banjar, Cilacap, Ciamis, dan Banyumas sebesar III MMI.

4. 17 Agustus 2021 pukul 11.49 WIB dengan M 4,5 pusatnya di koordinat 8,15 LS dan 107,64 BT dengan kedalaman 12 Km. Terjadi di beberapa titik di Cipatujah, Pameungpeuk, Cisompet, Karangnunggal, dan Bangbajang sebesar III MMI.

5. 23 Agustus 2021 pukul 04.13 WIB dengan M 4,9 pusatnya di koordinat 8,32 LS dan 107,58 BT dengan kedalaman 1 Km. Terjadi di beberapa titik di Cisopet, Cikalong, Ciparanti, Cijagra, Ciamis, dan Bungbulang sebesar III MMI.

“Kami selalu mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan jangan panik serta tidak terpengaruh isu-isu atau berita hoaks. Kami sarankan untuk selalu memantau melalui perkembangan update melalui website resmi BMKG serta hindari bangunan yang sudah retak dan tua” paparnya.

Catat! Presiden Sudah Alokasikan Dana Rp 2,4 Triliun Untuk Atasi Bencana Alam Tahun 2022

Catat! Presiden Sudah Alokasikan Dana Rp 2,4 Triliun Untuk Atasi Bencana Alam Tahun 2022

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan bermacam-macam puulau dan sangat luas. Selain itu juga, berpotensi terjadinya bencana alam dari Sabang hingga Merauke ditambah permasalahan perubahan iklim yang sangat drastis.

Sehingga dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) untuk tahun anggaran 2022, pemerintah telah mempersiapkan dana sebesar Rp. 2,4 triliun untuk mengatasi segala hal buruk yang terjadi akibat bencana alam, membangun lingkungan hidup, perubahan iklim yang kian hari kian drastis, dan juga menanggulangi dan meningkatkan ketahanan bencana alam.

Catat! Presiden Sudah Alokasikan Dana Rp 2,4 Triliun Untuk Atasi Bencana Alam Tahun 2022

Dalam lampiran Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 85 Tahun 2021 menjelaskan bahwa, bencana hidrometeorologi menjadi bencana alam dengan frekuensi yang paling sering terjadi di wilayah Indonesia.

Dengan risiko ini yang akan terus-menerus meningkat seiring dengan tingginya arus urbanisasi dan juga perubahan iklim. Tantangan dan hambatan untuk ke depannya akan semakin berat jika dalam peningkatan risiko bencana ini masih di atas dengan proses bisnis yang seperti sekarang ini (business as usual).

Maka dari itu, ketahanan bencana alam, pembangunan lingkungan hidup, dan juga perubahan iklim ini dalam RKP tahun 2022 memfokuskan pada peningkatan taraf kualitas hidup masyarakat Indonesia yang lebih tangguh dan adaftif dalam mendukung upaya transformasi dan pemulihan akibat dampat dari Covid-19 dalam menuju pembangunan dan peradaban manusia Indonesia yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Transformasi pascapandemi ini dalam pembangunan lingkungan hidup, ketahan bencana, dan juga perubahan iklim akan dititikberatkan dan difokuskan pada upaya perbaikan kualitas hidup masyakarat dan lingkungan hidup melalui penanganan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Selain itu juga, peningkatan pemantauan kualitas lingkungan yang secara otomatis, perbaikan sistem ketahana bencana yang tanggap terhadap berncana yang bersifat seketika terjadi (sudden onset) ataupun perlahan (slow onset). Juga dalam pelaksanaan pembangunan yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang rendah emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Adapun untuk penggunaan dana Rp. 2,4 triliun pada tahun 2022 akan diperuntukkan untuk pembangunan fasilitas pengolahan limbah B3 dengan anggaran sebesar Rp. 241 miliar dan penguatan sistem peringatan dini terhadap bencana sebesar Rp. 2,1 triliun.

Baca Artikel Terkait: Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Jokowi Sebut RI Berpotensi Paling Banyak Dilanda Bencana

Jokowi Sebut RI Berpotensi Paling Banyak Dilanda Bencana

Indonesia berpotensi besar untuk mengalami bencana alam hidrometeorologi yang sangat tinggi. Peristiwa tersebut bahkan dirasakan setiap tahunnya dengan jumlah yang mengalami peningkatan baik secara frekuensi maupun intensitasnya.

Hal tersebut disebutkan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo saat memberikan pengarahan dalam Rakorbangnas Badan Meteorologi, Klimatogi, dan Geofisika (BMKG) yang dilaksanakan secara daring pada haris, 29 Juli 2021.

“Frekuensi dan intensitasnya juga mengalami peningkatan setiap tahunnya, bahkan melompat secara drastis. Negara kita ini mengalami multibencana dalam kurun waktu yang bersamaan,” jelas Jokowi.

Jokowi mengambil ocntoh bahwasanya pada periode tahun 2008 hingga 2016, rata-rata Indonesia sendiri mengalami kebencanaalaman mencapai 5 ribu hingga 6 ribu kali dalam satu tahun. Angka tersebut terus menerus meningkat seiring dengan perkembangan waktu.

“Selain itu, pada tahun 2017 meningkat menjadi sekitar 7.170 kali dan pada tahun 2019 mengalami kenaikan yang sangat signifikan hingga mencapai 11.500 kali,” tuturnya.

Selain itu, Jokowi juga menjelaskan bahwa fenomena alam ini termasuk cuaca yang ekstrem dan siklon tropis juga mengalami peningkatan dalam frekuensi maupun intensitasnya, demikian juga halnya seperti fenomena El Nino atau La Nina.

“Periode ulang pada El Nino atau La Nina yang terjadi pada periode tahun 1981 hingga 2020 cenderung mengalami peningkatan hingga 2 sampai 3 tahunan jika dibandingkan periode sebelumnya yakni pada tahun 1950 hingga 1980 yang berkisar 5 sampai 7 tahunan,” lanjutnya.

Hati-hati, Beberapa Daerah Empat Lawang, Sumatera Selatan Rawan Tanah Longsor

Kabupaten Empat Lawang

Kabupaten Empat Lawang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di provinsi Sumatera Selatan dan ibukotanya terletak di Tebing Tinggi. Kabupaten ini diresmikan pada tanggal 20 April 2007 yang sebelumnya disetujui oleh DPR melalui Rancangan Undang Undang (RUU) pada tanggal 8 Desember 2006.

Kabupaten Empat Lawang

Suku yang mendiami kabupaten tersebut mayoritas Suku Lintang atau sering disebut Jemo Lintang – 55% bermukim di Lintang Kanan, Muara Pinang, Pendopo, Pendopo Barat, Sikap Dalam dan Ulu Musi).

Suku dan Suku Pasemah
– 19 % bermukim di Pasemah Air Keruh
Suku SALING
– 12% bermukim di Saling
Suku KIKIM Tebing
– 5 % bermukim di Tebing Tinggi

Dan sisanya didiami oleh suku minoritas 9% seperti Suku Jawa, Suku Sunda dan lain-lain.

7 Kecamatan di Empat Lawang Berpotensi Tanah Longsor

7 Kecamatan di Empat Lawang Berpotensi Longsor

Kabupaten Empat Lawang merupakan dataran tinggi dan memiliki banyak kawasan perbukitan menyebabkan daerah ini rawan terhadap potensi bencana longsor. Bahkan beberapa minggu ini, beberapa daerah khususnya di Kabupaten Empat Lawang sedang dilanda hujan.

Sahrial Podril, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan membenarkan perihal itu. Bahkan menurutnya, wilayah Kabupaten Empat Lawang memiliki dataran yang tinggi sehingga sangat rawan akan bahaya tanah longsor.

Menurut data BPBD Kabupaten Empat Lawang, banjir bandang terjadi di Desa Babatan, Kecamatan Lintang Kanan. Satu jembatan putus dihantam arus derasnya Sungai Air Lintang.

Di Desa Cangguh, Kecamatan Talang Padang terjadi tanah longsor dan pohon tumbang yang sempat menutupi jalan lintas penghubung desa. Sehingga menyebabkan kemacetan di beberapa titik ruas jalan dan pengguna jalan harus berputar balik mencari jalan alternatif. Petugas sudah memasang rambu bahaya bencana serta membersihkan sisa longsoran tanah dan mengevakuasi serpihan kayu tumbang.

Baca juga : Nusa Tenggara Timur (NTT) Merasakan Gempa Bumi Sebanyak Lebih Kurang 160 Kali di Bulan Agustus

Beberapa daerah di Kabupaten Empat Lawang yang sangat rentan akan bencana longsor diantaranya Kecamatan Tebing Tinggi, Kecamatan Ulu Musi, Kecamatan Paiker, Kecamatan Sikap Dalam, Kecamatan Pendopo, Kecamatan Pendopo Barat, dan Kecamatan Talang Padang.

“Hampir setiap hari dalam sepekan, baik hujan deras maupun hujan ringan, dengan begitu, artinya tingkat kewaspadaan terhadap banjir, tanah longsor dan erosi tanah juga harus di tingkatkan,” pungkasnya.

Sebab sebagian besar wilayah di Kabupaten Empat Lawang merupakan perbukitan dan dataran tinggi, kalau longsor tentunya akses jalan kami tutup, tapi sejauh ini kondisi masih aman. “Tapi tetap harus waspada, kami sudah berikan peringatan dari BMKG ke Kecamatan untuk dibantu teruskan ke warga,” ungkapnya.

Nusa Tenggara Timur (NTT) Merasakan Gempa Bumi Sebanyak Lebih Kurang 160 Kali di Bulan Agustus

Ilustrasi gempa bumi, gempa tektonik, namun tidak berpotensi tsunami.

Nusa Tenggara Timur (NTT) Merasakan Gempa Bumi Sebanyak Lebih Kurang 160 Kali di Bulan Agustus. Menurut Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Margiono, NTT telah diguncang lebih kurang 160 kali gempa bumi. Namun hanya sekitar 7 kali yang dapat dirasakan oleh penduduk setempat.

Margiono membandingkan, jumlah kejadian gempa bumi selama Bulan Agustus mengalami peningkatan jika dibandingkan bulan lalu. Rata-rata gempa berketuatan kecil dengan maginitudo 4,0 ke bawah dari 143 kejadian, selain itu yang berkedalaman dangkal lebih kecil 60 kilometer sebanyak 111 kejadian.

Ilustrasi gempa bumi, gempa tektonik, namun tidak berpotensi tsunami.

Kabupaten Sumba Barat Daya, Pulau Sumba yang mendominasi gempa terbanyak hingga mencapai 18 persen. Menurut catatan BMKG, sejak Januari 2021, gempa bumi tertinggi terjadi pada dua hari, Masing-masing 12 kejadian, yakni pada tanggal 11 dan 28 Maret 2021.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat, agar tidak mudah percaya dengan berita-berita palsu atau hoaks yang sering beredar serta memantau informasi gempa bumi dan tsunami dari situs resmi milik BMKG.

Perbedaan Antara Gempa Bumi Tektonik dan Gempa Bumi Vulkanik

Gempa bumi terkini dunia dinotasikan dengan titik-titik hitam terkonsentrasi pada jalur-jalur tektonik

Dikutip dari Badan Metorologi Klimatologi dan Geofisika atau yang sering disebut dengan BMKG, gempa bumi adalah getaran atau getar-getar yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Gempa Bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak Bumi (lempeng Bumi).

Berdasarkan pemicu pergerakannya, terbagi menjadi dua macam yaitu gempa bumi tektonik dan gempa bumi vulkanik.

Gempa bumi tektonik adalah gempa bumi yang disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa bumi ini menimbulkan kerusakan atau bencana alam di Bumi karena getarannya mampu menjalar hampir ke seluruh bagian Bumi.

Jika terjadi tabrakan atau patahan lempeng akibat pergerakan tersebut, maka akan menimbulkan getaran yang biasa kita sebut dengan gempa bumi. Ketika dua lempeng bergerak saling mendekat dan lempeng tidak mampu menahan kekuatan akibat pergerakan tersebut, kondisi ini juga dapat menimbulkan gempa.

Gempa bumi vulkanik adalah gempa bumi yang terjadi akibat adanya aktivitas magma dari gunung berapi sebelum meletus dan biasanya gempa ini hanya dirasakan disekitar gunung api yang masih aktif.

Berdasarkan dari kedua tipe gempa bumi tersebut diatas, gempa tidak serta merta terjadi di sembarang tempat di belahan bumi. Biasanya gempa tektonik terjadi di sekitar batas lempeng bumi sedangkan gempa vulkanik biasanya terjadi hanya di sekitaran gunung berapi yang masih aktif.

Baca juga : Lima Desa Warga Tanggamus Terdampak Banjir, Dua Rumah Rusak Berat

347 Tahun yang Lalu, Gempa Bumi dan Mega Tsunami Meluluhlantahkan Bumi Maluku

347 Tahun yang Lalu, Gempa Bumi dan Mega Tsunami Meluluhlantahkan Bumi Maluku

 

Sejarah mencatat Gempa dan Mega Tsunami yang pernah melanda wilayah Maluku pada tahun 1674 silam meluluhlantahkan bumi Maluku waktu itu. Pusat kejadian tersebut yang kita kenal sekarang ialah Ambon, merupakan salah satu bencana alam terbesar sepanjang sejarah umat manusia di Indonesia yang menyelimuti perjalanan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda di Nusantara.

Sekadar informasi, VOC singkatan dari Vereenigde Oostindische Compagnie yang berdiri sejak tanggal 20 Maret 1602. VOC merupakan kongsi dagang terbesar milik Belanda dan berpusat di Nusantara untuk menyatukan perdagangan rempah-rempah dari wilayah timur dalam memperkokoh sebuah kedudukan Belanda di Indonesia pada masa itu.

347 Tahun yang Lalu, Gempa Bumi dan Mega Tsunami Meluluhlantahkan Bumi Maluku

Ignatius Ryan Pranantyo & Phil R. Cummins menulis dalam jurnalnya yang dimuat pada SpringerLink berjudul “The 1674 Ambon Tsunami: Extreme Run-Up Caused by an Earthquake-Triggered Landslide” pada tahun 2019 tentang bencana besar yang terjadi di Ambon, Indonesia.

“Beberapa menit sebelum terjadiperistiwa yang sangat besar itu, lonceng-lonceng besar yang berada di Kastil Victoria berdentang dan mengeluarkan bunyi dengan sendirinya.” tulis Pranantyo dan Cummins. Tak seorang pun yang bisa menduga akan terjadi sesuatu yang sangat dahsyat itu akan terjadi. Saat kejadian itu, banyak di antara orang-orang berjatuhan ketika tanah bergerak mengombak naik turun seperti ombak di lautan lepas.

“Kali pertama gempa yang dirasakan dengan guncangan dahsyat dari dalam tanah di wilayah Ambon. Banyak sebagian bangunan dan rumah warga hancur berantakan dan menjadi rata dengan tanah” tulis Georg Everhard Rumphius dalam laporannya yang tersusun rapi di dalam Perpustakaan Rumphius yang terletak di Katedral St. Fransiskus Xaverius, Ambon.

Baca Juga: Apa itu Tanah Longsor dan Bagaimana Proses Terjadinya?

Gempa dan Tsunami di Ambon Tercatat Rapi di Laporan UNESCO

Gempa dan Tsunami di Ambon Tercatat Rapi di Laporan UNESCO

Laporan Rumphius tersebut terangkum juga di dalam website resmi IOC UNESCO yang berjudul Summary notes of Georg Everhard RUMPHIUS, yang ditranslasikan dari laporan aslinya yang berbahasa Belanda oleh E.M. Beekman and F.Foss pada tahun 1997.

“Seluruh wwilayah di Provinsi tersebut yaitu Seram, Hitu, Nusatelo, Leytimor, Buro, Amblau, Oma, Bonoa, Kelang, Manipa, Honimoa, Nusalaut, dan wilayah lain yang berada di sekitarnya, merasakan getaran dan guncangan yang amat begitu kencang dan mengerikan. Sehingga banyak orang-orang yang meyakinkan bahwa hari itu ialah Hari Kiamat yang sudah tiba bagi mereka” tulisnya.

Sebagian tempat di wilayah yang terdampak bencana alam tersebut menjadi sangat rusak parah. “Di wilayah Leitimor dan Semenanjung Hitu, banyak tempat yang terjadi tanah retak dan juga banyak terjadi bekas longsoran akibat peristiwa naas yang sangat kuat di Pegunungan Manuzau dan Wawani” tulis UNESCO dalam laporan dengan judul Air Turun Naik di Tiga Negeri Mengingat Tsunami Ambon 1950, yang diterbitkan pada tahun 2016.

Pasca guncangan yang dahsyat itu, mulailah muncul gelombang pasang yang kecil di daerah perairan Teluk Ambon. Gelombang tersebut datang dan menarik mundur kembali yang dijumpainya di daratan sebanyak lebih dari tiga kali. Air yang naik dengan ketinggian 5 sampai dengan 6 kaki, dan beberapa sumur air milik warga yang sangat dalam bisa terisi begitu dengan cepat. Sehingga orang-orang bisa menjangkau dan mengambil air dengan tangan tanpa perlu alat bantuan. Semnetara, pada berikutnya sumur itu kosong lagi tidak terisi oleh air.

“Pantai timur di Sungai Waytomme mulai terbelah dan air menyembur ke segala arah dengan ketinggian sekitar 18 hingga 20 kaki. Melemparkan pasir berlumpur biru yang diyakini oleh kebanyakan orang hanya bisa ditemukan pada kedalaman laut 2 hingga 3 depa” lanjutnya.

“Gempa yang begitu dahsyat tersebut diikuti oleh mega tsunami yang super besar dengan ketinggian mencapai 100 meter yang hanya bisa diamati di pantai utara di Pulau Ambon” tulis Cummins dan Panantyo.

“Semua orang berlarian ke tempat yang lebih tinggi agar bisa menyelamatkan diri, di mana mereka bertemu dengan sang Gubernur, kompi besar dan jajarannya. Mereka disana mulai memimpin majelis dan ibadah dengan berdoa di bawah langit yang cerah, berharap ada mukjizat untuk menyelamatkan mereka semua”. tambah Rumphius.

Suara dentuman seperti tembakan meriam yang jauh terus di dengar oleh orang-orang. Sebagian besar terdengar dari arah Utara dan Barat Laut, yang menunjukkan bahwa beberapa gunung mungkin akan meletus atau setidaknya runtuh satu per satu.

“Akibat dari bencana alam tersebut, banyak orang yang meninggal dunia. Kerusakan yang dialami terus diberitakan dari tempat ke tempat, diperkirakan ada sekitar 2.243 jiwa masyarakat asli Indonesia dan diantaranya mencakup sekitar 31 orang Eropa. Dengan total keseluruhan mencapai 2.322 jiwa korban” ujar Rumphius dalam menutup laporannya.

Gunung Berapi Merupakan Peristiwa Alam yang Tidak Dapat Kita Hindari

Gunung Berapi Merupakan Peristiwa Alam yang Tidak Dapat Kita Hindari

Survei Geologi Amerika Serikat atau United States Geological Survey (USGS) merupakan sebuah badan atau agensi ilmiah yang dimiliki oleh pemerintahan Amerika Serikat (AS). Para ilmuwan yang bernaung di dalam badan ini mempelajari lansekap Amerika Serikat, sumber daya alamnya dan juga segala jenis bencana alam yang dapat mengancamnya. Agensi ini mempunyai 4 disiplin ilmu ilmiah yang utama, diantaranya biologi, geografi, air, dan geologi. Organisasi ini adalah suatu badan riset pencari fakta yang tidak memiliki kekuasaan dalam mengaturnya.

Gunung Berapi Merupakan Peristiwa Alam yang Tidak Dapat Kita Hindari

Menurut catatan USGS, mencatat bahwa struktur Bumi yang berada pada wilayah inti bagian luar hingga mantel Bumi yang terdiri dari banyak batuan yang mencair akibat suhu yang sangat panas.

Batuan-batuan cair tersebut akan menjadi magma, terus bergerak naik yang pada akhirnya mengisi ruang magma di bawah kerak Bumi. Jika magma sudah penuh dan tidak dapat terbendung lagi, maka secara otomatis akan keluar sebagai lava melalui gunung berapi.

Nah, untuk energi yang diakibatkan oleh letusan gunung berapi beraneka macam tergantung banyaknya magma yang dikandung. Semakin kencang daya letusannya, berarti magma yang dikandung semakin banyak. Biasanya, energi yang diakibatkan dari letusan bisa sangat masif dan bahkan mempengaruhi kehidupan yang ada di sekitarnya.

Baca juga: Minahasa Tenggara Dilanda Banjir Bandang, Puluhan Rumah Terendam

5 Letusan Gunung Berapi Terhebat, Indonesia Paling Banyak!

5 Letusan Gunung Berapi Terhebat, Indonesia Paling Banyak!

Inilah beberapa letusan yang diakibatkan dari gunung berapi yang paling dahsyat di dunia dan di antaranya Indonesia masuk kategori yang paling banyak. Bahkan daya kekuatannya melebihi bom atom yang pernah terjadi di dunia. Simak penjelasannya berikut ini!

1. Letusan Gunung Pinatubo di Filipina

Gunung Pinatubo merupakan gunung berapi yang aktif dan sangat terkanal di Filipina. USGS mencatat bahwa gunung berapi tersebut pernah meletus dengan sangat dahsyat pada tanggal 15 Juni 1991 lalu di sebuah desa di Filipina.

Setahun sebelum terjadinya letusan hebat tersebut, Filipina dilanda gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 SR yang terjadi di 100 Kilometer Timur Laut Gunung Pinatubo. Penduduk setempat mengkhawatirkan yang akan terjadi di tahun tersebut, karena sudah hampir 500 tahun Gunung Pinatubo tidak meletus.

Tepat pada bulan April 1991, terdapat ribuan gempa yang pernah terjadi persis di bawah kawasan Pinatubo, di mana gempa ini yang mempengaruhi naiknya magma ke atas permukaan dengan ketinggian 32 Kilometer. Puncaknya terjadi di bulan Juni, di mana Gunung Pinatubo meletus dan mengeluarkan ratusan ribu ton gas sulfur dioksida.

Pada bulan yang sama, jutaan meter kubik magma meledak dalam sebuah letusan yang sangat dahsyatsejak letusan Pinatubo 500 tahun yang lalu. Awan abu yang dilontarkan mencapai 35 Kilometer hingga ke udara, angin yang meniup abu tersebut sampai ke perairan Samudera Hindia.

Sebanyak 20 juta ton gas sulfur juga terlontar ke udara bebas, membuat desa di sekitarnya hancur dan tak dapat ditinggali dengan jangka waktu yang cukup lama. Untungnya, bencana alam ini sudah diprediksikan oleh para ahli geologi dari negara Amerika Serikat pada sebelumnya, sehingga bisa meminimalisir banyaknya korban jiwa berjatuhan.

2. Letusan Gunung Vesuvius di Italia

Letusan Gunung Vesuvius ini menghancurkan hampir seluruh bagian kota Pompeii yang berada di Italia dan merupakan salah satu letusan gunung berapi yang paling hebat yang pernah terjadi di sepanjang sejarah manusia. Gunung Vesuvius tercatat sudah meletus lebih dari 50 kali dan letusan yang paling dahsyat terjadi pada tahun 79 Masehi.

Seluruh kota bersejarah Pompeii telah tertutup oleh lahar panas dari gunung tersebut. Bahkan kegelapan menyelimuti kota itu dalam jangka waktu yang lama. Dengan semburan abu panas yang sangat beracun itu yang bergerak dengan kecepatan 140 km per jam, akan membuat siapa saja pasti terkubur hidup-hidup tanpa bisa selamat.

Akibat dari letusan yang sangat dahsyat itu, seluruh Kota Pompeii terkubur oleh abu vulkanik dan kurang lebih 17 ribu orang tewas dalam peristiwa mengenaskan itu. Setelah ratusan tahun lamanya, Kota Pompeii dan kota-kota kecil lainnya yang berada di sekitarnya telah menjadi kota yang tinggal kenangan.

3. Letusan Gunung Tambora di Indonesia

Letusan Gunung Tambora tercatat dalam sejarah dunia yang menjadi salah satu letusan gunung berapi terbesar dan paling dahsyat di dunia. Tepatnya pada bulan April 1815 letusan gunung tersebut melontarkan abu, batuan, lava dan gas-gas paling beracun sebanyak 150 km kubik. Selain itu juga ada belerang dengan jumlah 70 megaton yang terhempaskan bebas ke angkasa.

Peristiwa dahyat ini memberi dampak global bagi dunia, yakni subu di seluruh permukaan Bumi sebesar 3 derajat Celcius. Korban jiwa yang diakibatkan dari letusan gunung berapi ini mencapai hingga 100 ribu jiwa.

10 ribu orang meninggal langsung akibat letusan ini, dan sekitar 90 ribu orang meninggal akibat kelaparan karen atidak adanya bahan pangan utama yang diakibatkan oleh letusan gunung itu. Pepohonan dan tanaman tidak dapat tumbuh lamanya dengan baik pasca terjadinya letusan. Hal ini juga berdampak dan mempengaruhi jumlah pangan di seluruh dunia.

Buruknya lagi, setahun setelah terjadinya letusan gunung Tambora tersebut, hampir sepanjang satu tahun lamanya sinar Matahari tidak bisa menjangkau permukaan Bumi. Akibatnya, setahun itu merupakan tahun yang dilalui tanpa adanya musim panas. Cuaca dingin terjadi dimana-mana yang membuat para petani dan peternak gagal panen sehingga menimbulkan bencana kelaparan di seluruh wilayah tersebut.

4. Letusan Gunung Krakatau di Indonesia

Masih di Indonesia, Letusan Gunung Krakatau ini terjadi tepat pada bulan Agustus 1883. Dalam sejarah peradaban manusia, letusan Gunung Krakatau ini dianggap sebagai letusan yang paling hebat dan terdahsyat yang pernah terjadi di muka bumi.

Diperkirakan ada sekitar 50 ribu korban jiwa yang meninggal akibat bencana gunung meletus itu. Letusan yang diakibatkan gunung Krakatau itu juga menurunkan suhu global, sehingga rata-rata suhu di belahan dunia manapun menjadi lebih dingin walaupun sedang terjadi musim panas.

Bahkan, letusan gunung Kratau ini juga terdengar jelas sampai ke Benua Australiadan dengan radius sejauh 4.500 Km. Bencana alam ini melontarkan banyak material vulkanik ke udara bebaskurang lebih sejauh 40 Km dengan kecepatan rata-rata 100 Km per jam nya.

Letusan yang sangat dahsyat ini mendapatkan peringkat ke-6 dalam Volcano Explosion Index, yang artinya setara dengan ledakan 200 megaton TNT. Juga ledakan semacam ini memiliki kekuatan puluhan ribu kali lebih dahsyat dan hebat jika dibandingkan dengan bom atom yang pernah terjadi di Kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang.

5. Letusan Gunung Toba di Indonesia

Ternyata, letusan gunung Krakatau dan gunung lainnya bukanlah letusan yang paling hebat. Nyatanya, ada lagi letusan yang paling hebat dan kuat yakni Letusan Gunung Toba. Untungnya, letusan gunung Toba ini yang sangat super dahsyat terjadi di masa purba, yakni pada 73 ribu hingga 75 ribu tahun yang lalu.

Saking hebatnya, letusan gunung tersebut dapat membentuk sebuah perairan yang sangat besar yang dikelilingi oleh daratan. Kini, wilayah tersebut kita kenal sebagai Danau Toba yakni sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.

Bahkan, banyak ilmuwan juga mengatakan bahwa akibat dari letusan gunung Toba tersebut, peristiwa kepunahan manusia purba yang berada di benua Afrika hampir terjadi.

Dalam catatan National Geographic, ada seorang ahli geologi yang berasal dari University of Nevada pernah mengatakan bahwa letusan gunung Toba merupakan letusan yang paling dahsyat yang pernah terjadi dalam 2 juta tahun terakhir. Letusan Gunung Toba memiliki kekuatan ribuan kali lebih kuat dibandingkan dengan letusan Gunung Krakatau.

Jika dianalogikan dengan bom atom yang pernah dijatuhkan di Kota Hiroshima, Jepang, maka dibutuhkan paling sedikit 6 juta bom atom Hiroshima untuk bisa menyamakan kekuatan ledakan yang dihasilkan oleh Gunung Toba. Banyak sekali spesies yang punah pada saat itu. Dengan kurun waktu yang lama, sinar Matahari tidak bisa menembus Bumi akibat dari tebalnya abu vulkanik yang menutupi hampir seluruh bagian permukaan Bumi yang terdampak oleh letusan Gunung Toba tersebut.

Hal tersebut membuat Bumi diselimuti dengan kegelapan dengan waktu yang cukup lama, meskipun pada siang hari. Banyak sekali spesies tanaman mati saat itu dan bahkan kemampuan manusia purba juga sudah mencapai batas maksimalnya. Makanya, para ahli sepakat bahwa jumlah dari populasi manusia purba telah punah sampai dengan 90 persen dari total keseluruhannya.

Itulah beberapa informasi penting mengenai letusan gunung berapi yang pernah tercatat oleh sejarah peradaban manusia hingga saat ini. Ternyata, kekuatan yang dihasilkan oleh letusan-letusan gunung berapi tersebut sangat masif dan bahkan bisa membuat kehidupan makhluk hidup punah seketika pada saat itu juga.

Penyebab Banjir dan Dampaknya Bagi Lingkungan & Makhluk Hidup

Penyebab Banjir dan Dampaknya Bagi Lingkungan & Makhluk Hidup

Banjir merupakan salah satu bencana alam yang terjadi karena banyak faktor, diantaranya ialah aliran air yang tersumbat hingga volume air yang berlebihan sampai meluap keluar, curah hujan yang tinggi, dan juga faktor karena ulah manusia.

Penyebab Banjir dan Dampaknya Bagi Lingkungan & Makhluk Hidup

Berikut merupakan berbagai macam faktor penyebab terjadinya banjir yang disebabkan akibat keadaan alam dan ulah manusia. Simak penjelasannya.

1. Penebangan Hutan

Lahan tahan yang ditumbuhi oleh banyak pepohonan dan tanaman lainnya memiliki sejuta fungsi salah satunya untuk penyerapan air yang baik. Namun sayangnya, masih banyak orang yang belum mengerti bahkan suka menganggapnya sebagi hal yang sepele dengan menebang pohon sembarangan dan sesuka hati. Tidak menanam pohon kembali jika sudah menebangnya.

Padahal penebangan pohon atau hutan secara sembarangan dan liar dapat menyebabkan berbagai bencana alam seperti longsor dan banjir bandang. Jadi ada baiknya, kita sebagai manusia secara bersama-sama menjaga kelestarian hutan dan pepohonan di sekitar tempat tinggal kita berada.

2. Pemanfaatan Lahan yang Berlebihan

Ada banyak alasan mengapa banyak orang dengan sesuka hati memanfaatkan lahan kosong sebagai tempat untuk pembangunan. Misalnya untuk membangun sebuah pabrik, mendirikan beberapa bangunan tanpa adanya resapan air, dan lain sebaginya.

Parahnya, dengan pemanfaatan lahan kosong dengan keegoisan semata dan secara sepihak sehingga seolah-olah tidak terlalu perduli dan merasa seakan tidak terjadi apa-apa. Bahkan yang sangat disayangkan, banyak orang yang melakukan kegiatan terlarang dengan melakukan pembakaran hutan agar setelahnya lahan tersebut bisa dipergunakan semena-mena.

Pembakaran hutan akan membuat tanah menjadi tidak subur dan tidak mampu lagi untuk mempertahankan pertumbuhan vegetatif. Nah, kalau sudah begini artinya banyak air yang mudah meluap dari tanah karena tanah sudah tidak bisa tumbuh pepohonan lagi.

3. Efek Rumah Kaca

Lagi-lagi keegoisan manusia yang membawa dampak buruk bagi lingkungan hidup, seperti kebiasaan membakar sampah sembarangan, polusi udara yang diakibatkan oleh asap kendaraan, asap pembuangan pabrik, asap rokok dan masih banyak lagi lainnya yang bisa membuat lapisan ozon semakin menipis sehingga perubahan cuaca dan iklim terus berubah tiap harinya.

Akibat yang dirasakan ialah:
– Suhu bumi yang seharusnya berada pada sekitar 18 derajat Celsius, kini meningkat sangat drastis hingga 34 derajat Celsius.
– Kenaikan karbondioksida yang juga meningkat.
– Terjadinya pemanasan global di seluruh dunia.
– Perubahan iklim dan cuaca yang ekstrem dan tak menentu.
– Suhu dan ketinggian permukaan laut menjadi naik.

4. Membuang Sampah Sembarangan

Mengapa membuang sampah sembarangan bisa menyebabkan terjadinya bencana banjir? Karena tindakan manusia yang tak perduli dan masa bodo ini membuat aliran air sungai atau selokan menjadi tersumbat. Sehingga ketika curah hujan yang tinggi datang, kemungkinan besar akan berpotensi meluapkan air sungai sehingga dapat menyebabkan banjir ke daratan.

Kalau sudah seperti ini, siapa yang mau disalahkan?

5. Membangun Pemukiman Di Sepanjang Kali

Ini juga merupakan ulah dari manusia yang dapat menyebabkan terjadinya banjir. Dengan banyaknya pemukiman yang berdiri di sekitar bantaran sungai atau kali, bukan hanya membuat aliran air menjadi sempit melainkan juga berpotensi terjadinya tanah longsor. Di karenakan tanah di sekitar bantaran sungai atau kali tersebut tak kuat menahan beban bangunan yang didirikan oleh manusia.

6. Curah Hujan yang Tinggi

Curah hujan yang tinggi ini karena faktor alam yang tidak dapat kita hindari. Curah hujan yang sangat tinggi dan berlangsung sangat lama dapat menyebabkan sungai penuh dan meluap. Daya kapasitas tampung air yang biasanya cukup untuk untuk menampung air sudah melebihi kapasitasnya, dan inilah yang bisa menyebabkan terjadinya bencana banjir.

7. Kurangnya Wilayah Drainase

Insfrastruktur di kota-kota besar yang paling penting ialah kawasan drainase yang berguna untuk mencegah terjadinya banjir. Namun pada kenyataannya, banyak kawasan drainase yang berubah fungsi tanpa memperhatikan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).

Seharusnya daerah hutan atau rawa-rawa yang berfungsi untuk menyimpan luapan air dalam jumlah yang sangat besar, sekrang telah berubah fungsi menjadi bangunan-bangunan megah yang menjulang tinggi dan daerah pemukiman penduduk. Dalam hal ini, pemerintah dan pihak yang terkait seharusnya perlu menyeimbangkan kawasan kota dan drainase untuk mencegah terjadinya hal-hal buruk terjadi.

Dampak Terjadinya Banjir

Dampak Terjadinya Banjir

Baca juga: Apa itu Tanah Longsor dan Bagaimana Proses Terjadinya?

Dampak Primer

Bencana banjir banyak membawa kerugian untuk manusia seperti kehilangan harta benda sampai yang paling parah ialah kehilangan korban jiwa akibat bencana ini. Bukan hanya manusia saja yang terdampak, melainkan juga lingkungan sekitar juga pasti akan terkena dampaknya seperti kerusakan pepohonan, bangunan-bangunan tinggi, robohnya jembatan, rusaknya jalan raya, bangunan perumahan, sitem selokan dan juga kanal dan lain sebagainya.

Dampak Sekunder

Jika sudah terjadinya bencana banjir di suatu wilayah, akan menimbulkan dampak lain seperti masalah kesehatan yang disebabkan akibat dari air kotor, wabah penyakit mulai melanda manusia mulai dari yang usia lansia hingga anak-anak.

Sementara itu, untuk lahan pertanian juga pasti akan terdampak dan membawa kerugian tersendiri seperti gagal panen karena lahan yang seharusnya dipakai untuk panen rusak dan terendam akibat banjir.

Dampak Tersier

Dampak yang kemudian akan terjadi ialah kesulitan ekonomi yang dikarenakan menurunnya pengunjung lokasi wisata serta pengeluaran yang besar karena adanya biaya pembangunan dan juga perbaikan yang rusak. Selain itu, kelangkaan barang-barang juga menyebabkan terjadinya kenaikan suatu harga dari barang tersebut.

Minahasa Tenggara Dilanda Banjir Bandang, Puluhan Rumah Terendam

Minahasa Tenggara Dilanda Banjir Bandang, Puluhan Rumah Terendam

Banjir bandang yang melanda daerah Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengakibatkan satu orang warga hilang.

“Jalan penghubung antara Ratahan dengan Pangu putus hingga tidak dapat dilewati oleh kendaraan akibat banjir dan beberapa bahan material kayu yang berasal dari Gunung Manimporok dan wilayah Kalatin. Dalam insiden tersebut, dikabarkan bahwasatu orang hilang yang bernama Welly Ngange,” kata James Sumendap Bupati Minahasa Tenggara saat memberikan penjelasan pada hari Selasa, 21 September 2021.

James juga mengatakan bahwa peristiwa banjir bandang tersebut yang melanda wilayahnya itu sudah dilaporkan ke Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara. Menurut penjelasannya, hingga saat ini akibat insiden tersebut, ada sekitar puluhan rumah warga terdampak banjir bandang hingga tenggelam dan 4 rumah lainnya hanyut terbawa arus air yang sangat deras.

Minahasa Tenggara Dilanda Banjir Bandang, Puluhan Rumah Terendam

“Ada sekitar 50 rumah yang terendam dan yang hanyut ada 4 rumah. Saat ini pihaknya sedang melakukan penelusuran terhadap satu orang warga yang diduga hilang berasal dari desa Pangu,” jelasnya.

James menjelaskan akan terus berusaha dan berupaya semaksimal mungkin untuk mencari korban yang hilang tersebut. Dirinya juga mengaku sudah berkoordinasi dengan Pemprov.

“Prioritas kami membuka akses dan mencari korban yang hilang. Kita akan kerahkan sekuat tenaga di seluruh Mitra untuk mencari korban. Koordinasi dengan Pemprov Sulawesi Utara sudah kami lakukan dan laporkan,” pungkas James.

James juga mengimbau kepad aseluruh masyarakat di wilayah yang rawan banjir untuk tetap waspada dan hati-hati bila terjadi banjir bandang susulan.

“Imbauan, rawan bencana, di bukit-bukit, di pinggir, dan di gunung-gunung karena curah hujan yang tinggi tentu tanah menjadi lebih berisiko. Lebih waspada dan antisipasi terlebih dahulu dan menghindar bila terjadi bencana susulan,” ujar James.

Banjir Bandang Minahasa: 33 Rumah Terendam, Tiga Hanyut

Banjir Bandang Minahasa: 33 Rumah Terendam, Tiga Hanyut

Menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minahasa Tenggara tercatat bahwa sebanyak 33 rumah terdampak banjir bandang yang menerjang Minahasa pada hari Senin, 20 September 2021 dan dilaporkan juga sebanyak 3 rumah warga ikut hanyut terbawa arus.

Baca juga: Akankah Ibukota Akan Tenggelam di Tahun 2030?

Pada hari Senin, 20 September 2021, sekitar pukul 14.30 waktu setempat, diketahui peristiwa banjir bandang dengan ketinggian muka air berkisar antara 200 hingga 300 sentimeter.

BPBD Kabupaten Mitra mengatakan, banjir bandang itu menyapu bersih material-material lumpur dan kayu yang berasal dari pegunungan Manimporok. Untuk rincian rumah warga yang hanyut pasca diterjang banjir bandang tersebut ialah, 1 unit kios, 1 unit rumah warga, dan 1 unit bengkel.

“Sedangkan banjir bandang berdampak pada rumah warga 17 unit dan balai 1 terjadi di wilayah Ratahan Timur,” ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari pada hari Selasa, 21 September 2021.

Abdul juga menjelaskan bahwa pasca kerjadian tersebut petugas BPBD telah melakukan upaya penanganan darurat dengan selalu menyiagakan tim reaksi cepat tanggap, salah satunya yakni mengevakuasi warga dan mengkaji gerak cepat di lapangan. BPBD juga sudah berkoordinasi dengan para instansi terkait dalam memastikan keselamatan warga khususnya yang terdampak di dua kecamatan tersebut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis peringatan dinitentang waspada potensi hujan lebat yang disertai dengan petir dan kilat serta angin kencang di beberapa wilayah di Pulau Sulawesi.

Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengingatkan dan mengimbau masyarakat serta Pemerintah Daerah (Pemda) Pacitan untuk siap dengan skenario terburuk akibat terjadinya gempa dan tsunami.

Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Baca artikel terkait: [TRENDING] Gempa Bumi Pada 15 September, Getarkan Tanah Air Hingga 6 Kali

Hal tersebut perlu dilakukan dan dipersiapkan untuk menghindari dan juga mengurangi resiko yang diakibatkan oleh bencana alam gempa bumi dan tsunami yang berpotensi akan mengintai daerah pesisir selatan di pUlau Jawa karen adanya pergerakan dua buah lempeng raksasa yakni lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia.

“Wilayah di Pantai Pacitan berpotensi terjadinya tsunami dengan ketinggian 28 meter dengan estimasi waktu tiba kurang lebih 30 menit. Adapun potensi jarak genangan mencapai 5 hingga 7 kilometer bila diukur dari bibir pantai dan tinggi genangan air yang mencapai daratan bisa mencapai sekitar 15 sampai 20 meter,” jelas Dwikorita melaui keterangan resmi BMKG pada Senin, 13 September 2021.

Dalam acara simulasi tersebut, Dwikorita berbincang bersama Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini dan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji untuk melakukan verifikasi zona bahaya dan menelusuri jalu-jalur evakuasi bencana alam yang mudah dijangkau oleh para masyarakat di daerah kelahiran Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ITU.

Dengan skenario tersebut, diharapakan bagi masyarakat yang berada di daerah dengan zona bahaya perlu terus dilatih secara rutin untuk melakukan langkah-langkah evakuasi mandiri bila mendapat Peringatan Dini Bahaya Tsunami dengan batas waktu maksimum 5 menit setelah terjadinya gempa bumi.

Untuk masyarakat khusus yang tinggal di pesisir pantai, harus segera mematuhi perintah dan aturan tentang bahaya bencana alam dan segera pergi untuk mengungsi k etempat atau dataran yang lebih tinggi jika sudah merasakan guncangan atau getaran yang akan menyebabkan gempa bumi.

“Teruntuk masyarakat yang khususnya tinggal di daerah pesisir pantai, tidak perlu menunggu aba-aba, sirine atau perintah dari BMKG. Jika sudah merasakan getarannya baik kecil ataupun besar, segeralah menyelamatkan diri dengan berlari ke dataran yang lebih tinggi yang dirasa cukup jauh dari pesisir pantai dan harus aman. Karena batas waktu yang dimiliki hanya sekitar 30 menit setelah gempa terjadi,” katanya.

Kepala BMKG tersebut menjelaskan, skenario yang dimaksudkan adalah masih bersifat potensi artinya kemugkinan bisa kapan saja terjadi atau malah tidak terjadi sama sekali. Namun, seklai lagi ia tegaskan untuk pemerintah dan masyarakat sekitar harus sudah siap dengan skenario terburuk itu sehingga meminimalisir korban berjatuhan.

“Jadi kami mengimbau seperti ini bukan bermaksud untuk menakut-nakuti. Tidak sama sekali. Skenario ini dibuat bertujuan agar masyarakat dan pemerintah daerah akan terlatih jika sewaktu-waktu bencana alam itu datang. Sehingga tidak ada istilah gugup atau gagap saat bencana alam itu datang. Dengan begitu mayarakat dan pemerintah sudah sigap siaga bencana dan tahu langkah apa saja yang harus dilaksanakan dengan waktu yang sangat terbatas itu,” ujar Dwikorita.

Ia juga menegaskan bahwa, hingga pada saat ini belum ada teknologi atau satu pun negara di belahan dunia lainnya yang dapat memprediksikan dengan tepat kapan terjadinya gempa dan tsunami dengan akurat dan tepat. Maksudnya lengkap dengan perkiraan tanggal, jam, lokasi, dan magnitudo gempa. Semuanya masih berupa bentuk kajian yang diolah berdasarkan sejarah pada wilayah itu sendiri di masa lampau.

BMKG juga meminta dan merekomendasikan kepada pemerintah daerah untuk siap menghadapi segala bentuk bencana alam dan memperbanyak jalur-jalur untuk evakuasi dengan lengkap sesuai dengan rambu-rambu dari menuju zona merah sampai dengan zona hijau.

Beberapa Wilayah yang Terancam Terjadinya Tsunami Besar

Beberapa Wilayah yang Terancam Terjadinya Tsunami Besar

Wilayah yang berpotensi terjadinya tsunami besar setinggi 20 meter yang bisa terjadi di pesisir selatan Pulau Jawa hingga Selat Sunda, itu semua berpeluang juga dampaknya hingga ke pesisir utara seperti daerah DKI Jakarta, Banten dan sekitarnya.

Menurut Heri Andreas yang merupakan Kepala Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan data dari Global Navigation Satellite System (GNSS) yang melaporkan terdapat akumulasi energi di bagian wilayah Selat Sunda sampai ke Pelabuhan Ratu. Daerah lain yang disebutkan juga ada seperti Parangtritis dan Pantai Jawa Timur di bagian Selatan.

gempa yang akan terjadi diperkirakan berkekuatan magnitudo 8,7 hingga 9,0 dengan potensi terjadinya tsunami setinggi 20 meter. Sementara di DKI Jakarta Sendiri, gelombang tsunami air laut diprediksi mencapai 1 hingga 2 meter. Hal ini lebih kecil jika dibandingkan dengan perkiraan tsunami yang berada di Pantai Jawa Timur bagian Selatan.

Maka dari itu, Dwikorita meminta kepada masyarakat yang tinggal di daerah yang rawan akan bencana alam seperti di pesisir pantai untuk segera berlatih melakukan evakuasi mandiri appabila merasakan getaran yang disebabkan oleh gempa bumi tanpa harus menunggu instruksi atau peringatan dini lagi dari BMKG.

“Kita semua harus belajar dari pengalaman, tak perlu menunggu peringatan dini tsunami dari BMKG. Begitu merasakan goncangan baik kecil ataupun besar yang dirasakan oleh tanah atau gempa, segeralah berlari. Jauhi pantai dan berpindah ke tempat yang lebih tinggi atau bukit-bukit,” imbuh Dwikorita.

[TRENDING] Gempa Bumi Pada 15 September, Getarkan Tanah Air Hingga 6 Kali

Gempa Bumi Pada 15 September, Getarkan Tanah Air Hingga 6 Kali

Gempa bumi yang menggetarkan Tanah Air kembali terjadi pada Rabu, 15 September 2021 dan terjadi sampai pukul 20.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). Ada 6 kali getaran yang dirasakan oelh masyarakat Indonesia. Informasi ini seperti yang dikutip pada laman resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) atau www.bmkg.go.id.

Gempa Bumi Pada 15 September, Getarkan Tanah Air Hingga 6 Kali

Getaran yang pertama kali terjadi di wilayah Sinabang, Provinsi Aceh dengan kekuatan magnitudo 5,6 terjadi pada pukul 03.13 WIB. Kemudian, wilayah lain seperti Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara juga terjadi gempa 3 kali. Gempa pertama dengan kedalaman 4 Km dan berkekuatan magnitudo 2,9 terjadi pada pukul 03.58 WIB. Kemudian disusul kembali terjadi pada pukul 05.55 WIB dan 15.56 WIB.

Berikut rincian informasi terjadinya gempa bumi di Tanah Air menurut data resmi dari BMKG.

Kecamatan Sinabang

Gempa yang terjadi di wilayah Sinabang, Provinsi Aceh ini terjadi pada pukul 03.13 WIB. Gempa tersebut berkekuatan magnitudo 5,6 dan kedalamannya mencapai 10 Km dengan pusat gempa berada pada titik 125 Km barat laut Sinabang, Aceh.

Kecamatan Maba

Kecamatan Maba terletak di Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara dilanda gempa dengan 3 kali getaran yang terjadi. Getaran yang pertama berkekuatan magnitudo 2,9 dan kedalaman mencapai 4 Km terjadi pada pukul 03.58 WIB.

Diketahui Episenter gempa berada pada titik koordinat 1.12 Lintang Utara (LU)-128.15 Bujur Timur (BT) dan pusat gempa berada di darat 51 Km Barat Laut (BL) Maba. Menurut data BMKG, getaran dirasakan MMI (Modified Mercalli Intensity) II-III di Subaim.

Kemudian gempa yang kedua terjadi lagi dengan kedalaman 4 Km dan berkekuatan mencapai magnitudo 3,2. Dengan pusat gempa berada di darat 46 Km Barat Laut (BL) Maba. Episenter gempa berada pada titik koordinat 1.08 Lintang Utara (LU)-128.2 Bujur Timur (BT). BMKG menyebutkan bahwa getaran dirasakan MMI (Modified Mercalli Intensity) II-III di Subaim.

Kemudian gempa terakhir di Kecamatan Maba terjadi pada sore hari pukul 15.56 WIB dengan kekuatan magnitudo 3,7 dan kedalaman mencapai 7 Km. Diketahui pusat gempa berada di laut 57 Km Barat Laut (Maba) dan BMKG menyatakan, getaran yang dirasakan MMI (Modified Mercalli Intensity) III di Subaim. Episenter gempa berada pada titik koordinat 1.15 Lintang Utara (LU)-128.09 Bujur Timur (BT).

Kabupaten Boalemo

Gempa bumi juga dirasakan di wilayah Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo pada pagi hari pukul 07.49 WIB. Diketahui gempa tersebut berkekuatan magnitudo 5,4 dengan pusat gempa berada di laut 85 Km Barat Laut (BL) Boalemo. Kedalaman gempa mencapai 20 Km. BMKG menyatakan, getaran yang dirasakan MMI (Modified Mercalli Intensity) II di Manado, Bone Bolango, Gorontalo, dan Toli-toli. Lalu MMI II-III di Buol serta MMI III di Boalemo.

Kabupaten Halmahera Timur

Gempa terakhir di Tanah Air juga dirasakan di Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara yang terjadi pada pukul 04.03 WIB. Diketahui pusat gempa berada di darat 41 Km Barat Daya (BD) Halmahera Timur. BMKG menyebutkan, bahwa getaran yang dirasakan MMI (Modified Mercalli Intensity) II-III di Subaim. Episenter gempa berada pada titik koordinat 1.11 Lintang Utara (LU)-128.17 Bujur Timur (BT) dengan magnitudo 3,9 dan kedalaman 5 Km.

Baca juga: Filipina dilanda Bencana Topan Conson, Sejumlah Bangunan Rusak Parah

Antisipasi Terjadinya Gempa Bumi

Antisipasi Terjadinya Gempa Bumi

Sebelum Terjadi Gempa Bumi:

– Pastikan bahwa struktur tanah dan letak rumah Anda aman dari bahaya yang disebabkan oleh bencana alam seperti longsor, gempa bumi, gunung meletus dan lain-lain. Renovasi kembali struktur bangunan tempat tinggal Andaagar bisa terhindar dan meminimalisir resiko bila terjadinya gempa bumi.

– Kenalilah lingkungan tempat Anda bekerja apakah letak pintunya untuk keluar masuknya mudah untuk diakses, lift aatau tangga darurat. Pastikan ada ruang aman untuk berlindung bila terjadi bahaya atau hal-hal yang tidak diinginkan.

– Belajar sedini mungkin untuk berlatih melakukan Pertolongan Pertama Pada kecelakaan (P3K) dan alat pemadam kebakaran.

– Catat nomor-nomor penting yang bisa dihubungi dengan pihak yang berkaitan bila terjadinya bencana alam gempa bumi.

– Atur perabotan agar menempel kuat di dinding dan tempat yang aman namun mudah di jangkau baik yang berada di rumah maupun di kantor untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti jatuh, roboh, dan bergeser pada saat terjadinya gempa.

– Jika terdapat barang-barang yang berat, usahakan di letakkan di bagian paling bawah. Cek keseimbangan benda-benda yang bergantung di ruangan yang sewaktu-waktu dapat mudah jatuh bila terjadi gempa bumi.

– Simpan bahan-bahan yang mudah terbakar di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan anak-anak, untuk menghindari agar tidak mudah pecah dan terjadinya kebakaran.

– Biasakan diri untuk selalu mematikan air, listrik, gas dan benda-benda lain yang menggunakan energi listrik bila sudah tidak digunakan.

– Kotak P3K, senter/lampu baterai, makanan dan air harus diletakkan yang seharusnya.

Setelah Terjadi Gempa Bumi:

– Jika posisi Anda setelah terjadinya gempa bumi berada di dalam bangunan yang tingi seperti gedung, keluarlah dari bangunan tersebut dengan tertib dan teratur. Jangan menggunakan lift atau eskalator, gunakanlah tangga darurat. Bila ada yang terluka, lakukanlah P3K dan telepon pihak terkait untuk meminta bantuan jika luka yang dialaminya serius.

– Selalu periksa kembali keadaan sekitar, bila terjadi kebakaran, kebocoran gas, terjadinya hubungan arus pendek listrik, aliran pipa air dan lain sebagainya.

– Jangan memasuki bangunan yang sudah roboh akibat gempa karena kemungkinan bisa terjadi reruntuhan yang terdapat di dalam bangunan tersebut dan jangan sesekali berjalan datau mendekati daerah sekitaran gempa, karena ada kemungkinan gempa susulan akan terjadi. lebih baik berhati-hatilah dan cari tempat untuk berlindung yang aman.

– Selalu perbaharui informasi mengenai gempa bumi dari sumber terpercaya dan mudah terpancing dengan berita-berita palsu.

– Mengisi formulir angket yang diberikan oleh pihak terkait untuk mengetahui seberapa berat kerusakan suatu bangunan yang dialami.

– Ini yang paling penting yakni jangan membuat panik sehingga tidak semua orang ketularan panik dan sellau berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa demi keselamatan dan keamanan kita semua.