Lima Desa Warga Tanggamus Terdampak Banjir, Dua Rumah Rusak Berat

Banjir yang menggenangi rumah warga di Kabupaten Tanggamus, Lampung, (BPBD Kabupaten Tanggamus)

Banjir yang menggenangi rumah warga di Kabupaten Tanggamus, Lampung, (BPBD Kabupaten Tanggamus)

Banjir yang melanda lima desa di Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung merusak dua rumah warga. Peristiwa yang terjadi pada Selasa (31/8), pukul 03.15 WIB ini tidak mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. BPBD setempat melaporkan hujan deras memicu kejadian tersebut.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanggamus melaporkan hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan debit air sungai meluap. Hujan terjadi sejak Senin (30/8) sore hari. Tak hanya itu, peristiwa dini hari itu juga menjebolkan tanggul Sungai Way Sedayu sehingga dampak terparah dialami di Desa Sukaraja. Pantauan BPBD menyebutkan limpasan luapan air sungai merendam kawasan sekitar.

Lima desa terdampak banjir ini antara lain Desa Sukaraja, Sedayu, Bangun Rejo, Pardawaras dan Way Kerap. Data yang diterima Pusdalops BNPB menyebutkan rumah warga rusak berat sebanyak dua unit dan beberapa hektar lahan pertanian terendam banjir. BPB masih melakukan pendataan kerugian banjir tersebut.

Selain banjir, hujan dengan durasi lama tersebut memicu terjadinya longsor yang terpantau di sepanjang jalan lintas barat, seperti di beberapa titik Pekon Sedayu dan Sukaraja. Data Polsek Semaka mencatat material longsor menutup dua titik di Jalan Pekon Way Kerap. Tiga titik longsoran juga terjadi di jalan arah Simpang Sedayu. Meskipun demikian, jalur lalu lintas tetap dapat dilalui kendaraan dengan pendekatan buka-tutup.

Merespons upaya penanganan darurat, BPBD Kabupaten Tanggamus telah berkoordinasi dengan instansi terkait, seperti pemerintah kecamatan dan desa serta masyarakat setempat guna melakukan pendataan.

Kabupaten Tanggamus merupakan wilayah dengan potensi bahaya banjir pada kategori sedang hingga tinggi. Sebanyak 14 kecamatan berada pada potensi tersebut, termasuk Kecamatan Semaka. Kecamatan ini juga berada pada potensi bahaya tanah longsor dengan kategori sedang hingga tinggi. Sebanyak 21 kecamatan di Kabupaten Tanggamus yang memiliki potensi bahaya tanah longsor dengan kategori sedang hingga tinggi.

Prakiraan awal musim hujan pada tahun ini, wilayah Lampung terpantau memasukinya pada bulan September hingga November 2021. Sedangkan puncak musim hujan, wilayah ini diprakirakan terjadi pada Januari tahun depan. Menghadapi musim hujan, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi bahaya hidrometeorologi di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini.

Selain Banjir, Juga Menyebabkan Longsor Di Sejumlah Titik

Ilustrasi banjir di pemukiman

Selain mengakibatkan banjir, hujan dengan intensitas tinggi dan berdurasi lama itu juga menimbulkan longsor yang terjadi di sejumlah titik seperti Sukaraja dan Pekon Sedayu di jalan lintas barat.

Selain itu, sebanyak dua titik di Jalan Pekon Way Kerap juga tertutup material longsor dan tiga titik longsor di jalan arah Simpang Sedayu.

“Meskipun demikian, jalur lalu lintas tetap dapat dilalui kendaraan dengan pendekatan buka-tutup,” jelas Muhari.

Lebih lanjut, Muhari menjelaskan bahwa Kabupaten Tenggamus merupakan daerah dengan potensi banjir sedang hingga tinggi. Sebanyak 14 kecamatan di Tenggamus masuk dalam kategori ini.

Salah satu kecamatan tersebut adalah Semaka. Selain rawan banjir, kecamatan ini juga memiliki potensi tanah longsong dengan tingkat sedang hingga tinggi.

Muhari mengatakan, Provinsi Lampung memasuki musim awal hujan pada September hingga November. Sementara, puncak musim penghujan diperkirakan terjadi pada Januari tahun mendatang.

Menghadapi situasi ini, BNPB mengingatkan agar pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan.

“BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi bahaya hidrometeorologi di tengah pandemi Covid-19,” ujar Muhari.

Penyebab Banjir dan Dampaknya Bagi Lingkungan & Makhluk Hidup

Penyebab Banjir dan Dampaknya Bagi Lingkungan & Makhluk Hidup

Banjir merupakan salah satu bencana alam yang terjadi karena banyak faktor, diantaranya ialah aliran air yang tersumbat hingga volume air yang berlebihan sampai meluap keluar, curah hujan yang tinggi, dan juga faktor karena ulah manusia.

Penyebab Banjir dan Dampaknya Bagi Lingkungan & Makhluk Hidup

Berikut merupakan berbagai macam faktor penyebab terjadinya banjir yang disebabkan akibat keadaan alam dan ulah manusia. Simak penjelasannya.

1. Penebangan Hutan

Lahan tahan yang ditumbuhi oleh banyak pepohonan dan tanaman lainnya memiliki sejuta fungsi salah satunya untuk penyerapan air yang baik. Namun sayangnya, masih banyak orang yang belum mengerti bahkan suka menganggapnya sebagi hal yang sepele dengan menebang pohon sembarangan dan sesuka hati. Tidak menanam pohon kembali jika sudah menebangnya.

Padahal penebangan pohon atau hutan secara sembarangan dan liar dapat menyebabkan berbagai bencana alam seperti longsor dan banjir bandang. Jadi ada baiknya, kita sebagai manusia secara bersama-sama menjaga kelestarian hutan dan pepohonan di sekitar tempat tinggal kita berada.

2. Pemanfaatan Lahan yang Berlebihan

Ada banyak alasan mengapa banyak orang dengan sesuka hati memanfaatkan lahan kosong sebagai tempat untuk pembangunan. Misalnya untuk membangun sebuah pabrik, mendirikan beberapa bangunan tanpa adanya resapan air, dan lain sebaginya.

Parahnya, dengan pemanfaatan lahan kosong dengan keegoisan semata dan secara sepihak sehingga seolah-olah tidak terlalu perduli dan merasa seakan tidak terjadi apa-apa. Bahkan yang sangat disayangkan, banyak orang yang melakukan kegiatan terlarang dengan melakukan pembakaran hutan agar setelahnya lahan tersebut bisa dipergunakan semena-mena.

Pembakaran hutan akan membuat tanah menjadi tidak subur dan tidak mampu lagi untuk mempertahankan pertumbuhan vegetatif. Nah, kalau sudah begini artinya banyak air yang mudah meluap dari tanah karena tanah sudah tidak bisa tumbuh pepohonan lagi.

3. Efek Rumah Kaca

Lagi-lagi keegoisan manusia yang membawa dampak buruk bagi lingkungan hidup, seperti kebiasaan membakar sampah sembarangan, polusi udara yang diakibatkan oleh asap kendaraan, asap pembuangan pabrik, asap rokok dan masih banyak lagi lainnya yang bisa membuat lapisan ozon semakin menipis sehingga perubahan cuaca dan iklim terus berubah tiap harinya.

Akibat yang dirasakan ialah:
– Suhu bumi yang seharusnya berada pada sekitar 18 derajat Celsius, kini meningkat sangat drastis hingga 34 derajat Celsius.
– Kenaikan karbondioksida yang juga meningkat.
– Terjadinya pemanasan global di seluruh dunia.
– Perubahan iklim dan cuaca yang ekstrem dan tak menentu.
– Suhu dan ketinggian permukaan laut menjadi naik.

4. Membuang Sampah Sembarangan

Mengapa membuang sampah sembarangan bisa menyebabkan terjadinya bencana banjir? Karena tindakan manusia yang tak perduli dan masa bodo ini membuat aliran air sungai atau selokan menjadi tersumbat. Sehingga ketika curah hujan yang tinggi datang, kemungkinan besar akan berpotensi meluapkan air sungai sehingga dapat menyebabkan banjir ke daratan.

Kalau sudah seperti ini, siapa yang mau disalahkan?

5. Membangun Pemukiman Di Sepanjang Kali

Ini juga merupakan ulah dari manusia yang dapat menyebabkan terjadinya banjir. Dengan banyaknya pemukiman yang berdiri di sekitar bantaran sungai atau kali, bukan hanya membuat aliran air menjadi sempit melainkan juga berpotensi terjadinya tanah longsor. Di karenakan tanah di sekitar bantaran sungai atau kali tersebut tak kuat menahan beban bangunan yang didirikan oleh manusia.

6. Curah Hujan yang Tinggi

Curah hujan yang tinggi ini karena faktor alam yang tidak dapat kita hindari. Curah hujan yang sangat tinggi dan berlangsung sangat lama dapat menyebabkan sungai penuh dan meluap. Daya kapasitas tampung air yang biasanya cukup untuk untuk menampung air sudah melebihi kapasitasnya, dan inilah yang bisa menyebabkan terjadinya bencana banjir.

7. Kurangnya Wilayah Drainase

Insfrastruktur di kota-kota besar yang paling penting ialah kawasan drainase yang berguna untuk mencegah terjadinya banjir. Namun pada kenyataannya, banyak kawasan drainase yang berubah fungsi tanpa memperhatikan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).

Seharusnya daerah hutan atau rawa-rawa yang berfungsi untuk menyimpan luapan air dalam jumlah yang sangat besar, sekrang telah berubah fungsi menjadi bangunan-bangunan megah yang menjulang tinggi dan daerah pemukiman penduduk. Dalam hal ini, pemerintah dan pihak yang terkait seharusnya perlu menyeimbangkan kawasan kota dan drainase untuk mencegah terjadinya hal-hal buruk terjadi.

Dampak Terjadinya Banjir

Dampak Terjadinya Banjir

Baca juga: Apa itu Tanah Longsor dan Bagaimana Proses Terjadinya?

Dampak Primer

Bencana banjir banyak membawa kerugian untuk manusia seperti kehilangan harta benda sampai yang paling parah ialah kehilangan korban jiwa akibat bencana ini. Bukan hanya manusia saja yang terdampak, melainkan juga lingkungan sekitar juga pasti akan terkena dampaknya seperti kerusakan pepohonan, bangunan-bangunan tinggi, robohnya jembatan, rusaknya jalan raya, bangunan perumahan, sitem selokan dan juga kanal dan lain sebagainya.

Dampak Sekunder

Jika sudah terjadinya bencana banjir di suatu wilayah, akan menimbulkan dampak lain seperti masalah kesehatan yang disebabkan akibat dari air kotor, wabah penyakit mulai melanda manusia mulai dari yang usia lansia hingga anak-anak.

Sementara itu, untuk lahan pertanian juga pasti akan terdampak dan membawa kerugian tersendiri seperti gagal panen karena lahan yang seharusnya dipakai untuk panen rusak dan terendam akibat banjir.

Dampak Tersier

Dampak yang kemudian akan terjadi ialah kesulitan ekonomi yang dikarenakan menurunnya pengunjung lokasi wisata serta pengeluaran yang besar karena adanya biaya pembangunan dan juga perbaikan yang rusak. Selain itu, kelangkaan barang-barang juga menyebabkan terjadinya kenaikan suatu harga dari barang tersebut.

Minahasa Tenggara Dilanda Banjir Bandang, Puluhan Rumah Terendam

Minahasa Tenggara Dilanda Banjir Bandang, Puluhan Rumah Terendam

Banjir bandang yang melanda daerah Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengakibatkan satu orang warga hilang.

“Jalan penghubung antara Ratahan dengan Pangu putus hingga tidak dapat dilewati oleh kendaraan akibat banjir dan beberapa bahan material kayu yang berasal dari Gunung Manimporok dan wilayah Kalatin. Dalam insiden tersebut, dikabarkan bahwasatu orang hilang yang bernama Welly Ngange,” kata James Sumendap Bupati Minahasa Tenggara saat memberikan penjelasan pada hari Selasa, 21 September 2021.

James juga mengatakan bahwa peristiwa banjir bandang tersebut yang melanda wilayahnya itu sudah dilaporkan ke Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara. Menurut penjelasannya, hingga saat ini akibat insiden tersebut, ada sekitar puluhan rumah warga terdampak banjir bandang hingga tenggelam dan 4 rumah lainnya hanyut terbawa arus air yang sangat deras.

Minahasa Tenggara Dilanda Banjir Bandang, Puluhan Rumah Terendam

“Ada sekitar 50 rumah yang terendam dan yang hanyut ada 4 rumah. Saat ini pihaknya sedang melakukan penelusuran terhadap satu orang warga yang diduga hilang berasal dari desa Pangu,” jelasnya.

James menjelaskan akan terus berusaha dan berupaya semaksimal mungkin untuk mencari korban yang hilang tersebut. Dirinya juga mengaku sudah berkoordinasi dengan Pemprov.

“Prioritas kami membuka akses dan mencari korban yang hilang. Kita akan kerahkan sekuat tenaga di seluruh Mitra untuk mencari korban. Koordinasi dengan Pemprov Sulawesi Utara sudah kami lakukan dan laporkan,” pungkas James.

James juga mengimbau kepad aseluruh masyarakat di wilayah yang rawan banjir untuk tetap waspada dan hati-hati bila terjadi banjir bandang susulan.

“Imbauan, rawan bencana, di bukit-bukit, di pinggir, dan di gunung-gunung karena curah hujan yang tinggi tentu tanah menjadi lebih berisiko. Lebih waspada dan antisipasi terlebih dahulu dan menghindar bila terjadi bencana susulan,” ujar James.

Banjir Bandang Minahasa: 33 Rumah Terendam, Tiga Hanyut

Banjir Bandang Minahasa: 33 Rumah Terendam, Tiga Hanyut

Menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minahasa Tenggara tercatat bahwa sebanyak 33 rumah terdampak banjir bandang yang menerjang Minahasa pada hari Senin, 20 September 2021 dan dilaporkan juga sebanyak 3 rumah warga ikut hanyut terbawa arus.

Baca juga: Akankah Ibukota Akan Tenggelam di Tahun 2030?

Pada hari Senin, 20 September 2021, sekitar pukul 14.30 waktu setempat, diketahui peristiwa banjir bandang dengan ketinggian muka air berkisar antara 200 hingga 300 sentimeter.

BPBD Kabupaten Mitra mengatakan, banjir bandang itu menyapu bersih material-material lumpur dan kayu yang berasal dari pegunungan Manimporok. Untuk rincian rumah warga yang hanyut pasca diterjang banjir bandang tersebut ialah, 1 unit kios, 1 unit rumah warga, dan 1 unit bengkel.

“Sedangkan banjir bandang berdampak pada rumah warga 17 unit dan balai 1 terjadi di wilayah Ratahan Timur,” ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari pada hari Selasa, 21 September 2021.

Abdul juga menjelaskan bahwa pasca kerjadian tersebut petugas BPBD telah melakukan upaya penanganan darurat dengan selalu menyiagakan tim reaksi cepat tanggap, salah satunya yakni mengevakuasi warga dan mengkaji gerak cepat di lapangan. BPBD juga sudah berkoordinasi dengan para instansi terkait dalam memastikan keselamatan warga khususnya yang terdampak di dua kecamatan tersebut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis peringatan dinitentang waspada potensi hujan lebat yang disertai dengan petir dan kilat serta angin kencang di beberapa wilayah di Pulau Sulawesi.

Akankah Ibukota Akan Tenggelam di Tahun 2030?

Penurunan Muka Tanah di Pesisir Jakarta

Permukaan tanah Jakarta turun 6 cm setiap tahunnya. Menurut salah seorang warga yang bernama Sarwana (48), ia merupakan seorang penjual warung nasi. Setiap hari di jam 5 pagi ia selalu bergegas untuk menyiapkan dan membuka warung nasinya itu. Sambil measak juga, ia menyiapkan segala jenis gelas-gelas untuk air teh. Biasanya pelanggan setia warungnya itu ialah sebagian pekerja proyek tanggul di Kawasan Gedung Pompa, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara.

“Selain pekerja proyek, ada juga nelayan yang ingin pergi melaut mampir dahulu ke tempat warung nasinya untuk makan disana,” ujar Sarwana ketika bercerita ke media massa terpercaya.Akankah Ibukota Akan Tenggelam di Tahun 2030

Sarwana merupakan salah satu dari sekian banyak warga yang sudah sejak kecil tinggal di daerah Muara Baru. Ia betul-betul sangat merasakan bagaimana kondisi di kawasan pesisir ibu kota tersebut jika dibandingkan 30 tahun yang lalu dan hari ini. Katanya, waktu ia masih kecil, air laut di daerah tempat tinggalnya tidak setinggi seperti sekarang. Bahkan dasar laut masih terlihat dengan mata kepala sendiri.

“Jika bidabndingkan dulu dan sekarang, sudah banyak terjadi perubahan. Kalau sekarang, terasa sekali airnya tinggi, dalam, tanah ini makin lama makin turun. Untuk ada tanggul yang bisa jadi penghalang,” ceritanya.

Tanggul-tanggul yang dipasang di Muara Baru baru saja di pasang sekitar lima tahun yang lalu. Tujuan dipasangnya tanggul-tanggul tersebut ialah untuk mencegah air laut yang semakin tinggi masuk ke daerah pemukiman warga. “Kalau dulu, kalau air naik langsung banjir semuanya, apalagi kalau tanggulnya jebol. Tapi sekarang sudah ada tanggul, paling cuma rembesan saja airnya,” lanjut Sarwana.

Sebenarnya tanggul-tanggul di daerah Muara Baru memiliki ketiggian sekitar 4 meter. Tanggul itu pernah jebol di tahun 2019. Untuk kegiatan setiap harinya, banyak warga setempat yang beraktivitas di daerah sekitaran tanggul. Biasa dipakai untuk memancing, menjaring ikan, mencuci baju, menjual makanan, hingga menjadi tempat bermain bagi anak-anak.

Baca artikel lainnya: Apa Benar Tsunami Aceh 2004 Akibat Ulah Nuklir?

Penurunan Muka Tanah di Pesisir Jakarta

Penurunan Muka Tanah di Pesisir Jakarta

Bahaya dan ancaman Jakarta yang akan tenggelam di tahun 2030 terus menjadi perbincangan banyak kalangan, terutama setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan bahwa potensi Jakarta akan tenggelam beberapa waktu lalu.

Sebenarnya, prediksi Jakarta akan tenggelam sudah berpuluh-puluh tahun diperbincangkan. Sejumlah penelitian juga menyebut bahwa permukaan tanah di Jakarta terus mengalami penurunan setiap tahunnya, terutama di daerah pesisir Jakarta. Bahkan Dinas Sumber Air DKI Jakarta telah mencatat bahwa sejak tahun 2007 sampai dengan 2016, penurunan tanah di Jakarta terjadi hingga satu meter.

Yusmada Faizal, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta juga mengatakan, kawasan Muara Baru tersebut telah berada di bawah permukaan laut dan terus mengalami penurunan muka tanah. Pada tahun 2050, Muara Baru bisa berada 4,6 meter di bawah permukaan laut apabila tidak dilakukan pencegahan sejak dini.

Selain Muara Baru, adapun tujuh wilayah pesisir Jakarta lainnya yang juga terancam tenggelam karena di bawah permukaan air. Wilayah itu antara lain Pluit diperkirakan mencapai 4,35 meter di bawah permukaan air laut, Kamal Muara 3 meter, Gunung Sahari 2,90 meter, Tanjungan 2,10 meter, Ancol 1,70 meter, Marunda 1,3 meter, dan terakhir di Cilincing yaitu 1 meter.

Menurut Yasmada, Pemda DKI Jakarta mengawali pengendalian banjir rob di bagian utara Jakarta dengan penataan tanah timbul yang ada di sepanjang pesisir pantai. Selain itu juga, melakukan penataan mangrove pantai publik dan juga pembangunan deselerasi air sebagai substitusi penyedotan tanah.

Apa Benar Tsunami Aceh 2004 Akibat Ulah Nuklir?

Apa Benar Tsunami Aceh 2004 Akibat Ulah Nuklir?

Peristiwa tsunami Aceh yang sangat dahsyat pada tahun 2004 silam telah meluluhlantahkan hampir seluruh wilayah di Aceh. Banyak dari sebagian pihak yang mengaitkan peristiwa itu akibat dari adanya rekayasa senjata thermonuklir yang berasal dari negara adikuasa dengan tujuan tertentu.

Apa Benar Tsunami Aceh 2004 Akibat Ulah Nuklir?

Menurut Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), mengungkapkan bahwa dirinya membantah jika tsunami Aceh ada kaitannya dengan senjata thermonuklir. Dia juga menegaskan bahwa tsunami raksasa tersebut menelan banyak korban jiwa itu dipicu oleh gempa tektonik.

Baca juga: Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa fakta tentang fenomena tsunami di Aceh.

6  Fakta-fakta Mengenai Tsunami Aceh tahun 2004

6  Fakta-fakta Mengenai Tsunami Aceh tahun 2004

1. Adanya Fase Gelombang Badan

Daryono menyebutkan bahwa data rekaman getaran tanah seismogram yang menunjukkan adanya rekaman gelombang badan (body) berupa gelombang P (Pressure) yang tercatat di data tiba lebih awal jika dibandingkan dengan gelombang S (Shear) yang datang pada berikutnya, yang selanjutnya diikuti oleh gelombang permukaan (surface).

“Munculnya fase-fase gelombang badan ini menjadi bukti yang kuat bahwa gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh diakibatkan oleh adanya aktivitas tektonik, bukan karena ledakan nuklir,” ujar Daryono.

2. Patahan Batuan

Daryono juga mengatakan deformasi yang terjadi di Smaudera Hindia yang terletak di sebelah barat Aceh sebelum terjadinya tsunami. Hal itu tampak dari munculnya gelombang S (Shear) yang kuat pada seismogram. Hal itu menunjukkan adanya proses pergeseran (shearing) yangterjadi secara tiba-tiba pada kerak bumi akibat terjadinya patahan batuan di dalam proses gempa tektonik, bukan karena akibat dari ledakan nuklir.

3. Gempa Tektonik

Deformasi dasar laut di Samudera Hindia sebelah barat Aceh yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 adalah gempa tektonik. Hal itu dibuktikan dengan adanya vriasi bentuk awal gelombang P berupa gerakan kompresi (naik) dan dilatasi (turun) pada seismogram yang tercatat di stasiun-stasiun seismik BMKG.

Jika memang sumbernya berasal dari ledakan nuklir, maka semua catatan seismogram di berbagai stasiun seismik harusnya diawali dengan gerakan naik (kompresi) pada gelombang P (Pressure) tersebut.

4. Berproses Sejak Tahun 2002

Gempa tektonik yang memicu terjadinya tsunami Aceh tidak terjadi secara tiba-tiba., melainkan melalui proses terjadinya gempa pembuka (foreshocks) yang sudah muncul sejak Gempa Simeulue berkekuatan magnitudo 7,0 yang terjadi tepat pada tanggal 2 November 2002.

Sejak itu, terjadilah serangkaian gempa-gempa kecil yang terus-menerus terjadi. Ini merupakan gempa pendahuluan hingga pada puncaknya terjadi gempa berkekuatan magnitudo 9,2 pada tanggal 26 Desember 2004 tepatnya pada pukul 08.58.53 WIB.

Peristiwa gempa pendahuluan yang sudah terjadi sejak 2 tahun sebelumnya merupakan bukti kuat bahwa gempa di Aceh yang terjadi pada tahun 2004 bukan terjadi karena ledakan nuklir. Akan tetapi gempa tektonik dengan tipe gempa pendahuluan (foreshocks), kemudian terjadi gempa utama (mainshock), dan akhirnya terjadinya gempa susulan (aftershock).

5. Membentuk Jalur Rekahan

Daryono juga menyebutkan bahwa gempa Aceh di tahun 2004, membentuk jalur rekahan (rupture) di sepanjang zona subduksi (line source), yang terbentang dari sebelah barat Aceh di selatan hingga Kepulauan Andaman-Nicobar di utaradengan panjang sekitar 1.500 Km.

Kondisi itulah yang menjadikan bukti bahwa rekahan gempa tektonik terjadi di segmen megatrust Aceh-Andaman. Rekahan panjang tersebut yang terbentuk di sepanjang jalur subduksi lempeng itu merupakan bukti dari deformasi dasar laut yang terjadi dan bukan disebabkan oleh ledakan nuklir.

“Jika memang terjadi karena ledakan nuklir maka deformasi yang akan terbentuk secara terpusat di satu titik (point source) dan bukan bukan berupa jalur (line source),” jelasnya.

6. Gempa Susulan Terjadi Sangat Banyak

Daryono kembali menegaskan bukti bahwa guncangan dahsyat yang dihasilkan di Aceh tahun 2004 dipicu karena gempa tektonik merupakan munculnya serangkaian gempa susulanyang sangat banyak di sepanjang jalur Megathrust Andaman-Nicobar pasca gempa utama terjadi.

Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengingatkan dan mengimbau masyarakat serta Pemerintah Daerah (Pemda) Pacitan untuk siap dengan skenario terburuk akibat terjadinya gempa dan tsunami.

Awas! Beberapa Wilayah RI Ini Berpotensi Tsunami

Baca artikel terkait: [TRENDING] Gempa Bumi Pada 15 September, Getarkan Tanah Air Hingga 6 Kali

Hal tersebut perlu dilakukan dan dipersiapkan untuk menghindari dan juga mengurangi resiko yang diakibatkan oleh bencana alam gempa bumi dan tsunami yang berpotensi akan mengintai daerah pesisir selatan di pUlau Jawa karen adanya pergerakan dua buah lempeng raksasa yakni lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia.

“Wilayah di Pantai Pacitan berpotensi terjadinya tsunami dengan ketinggian 28 meter dengan estimasi waktu tiba kurang lebih 30 menit. Adapun potensi jarak genangan mencapai 5 hingga 7 kilometer bila diukur dari bibir pantai dan tinggi genangan air yang mencapai daratan bisa mencapai sekitar 15 sampai 20 meter,” jelas Dwikorita melaui keterangan resmi BMKG pada Senin, 13 September 2021.

Dalam acara simulasi tersebut, Dwikorita berbincang bersama Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini dan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji untuk melakukan verifikasi zona bahaya dan menelusuri jalu-jalur evakuasi bencana alam yang mudah dijangkau oleh para masyarakat di daerah kelahiran Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ITU.

Dengan skenario tersebut, diharapakan bagi masyarakat yang berada di daerah dengan zona bahaya perlu terus dilatih secara rutin untuk melakukan langkah-langkah evakuasi mandiri bila mendapat Peringatan Dini Bahaya Tsunami dengan batas waktu maksimum 5 menit setelah terjadinya gempa bumi.

Untuk masyarakat khusus yang tinggal di pesisir pantai, harus segera mematuhi perintah dan aturan tentang bahaya bencana alam dan segera pergi untuk mengungsi k etempat atau dataran yang lebih tinggi jika sudah merasakan guncangan atau getaran yang akan menyebabkan gempa bumi.

“Teruntuk masyarakat yang khususnya tinggal di daerah pesisir pantai, tidak perlu menunggu aba-aba, sirine atau perintah dari BMKG. Jika sudah merasakan getarannya baik kecil ataupun besar, segeralah menyelamatkan diri dengan berlari ke dataran yang lebih tinggi yang dirasa cukup jauh dari pesisir pantai dan harus aman. Karena batas waktu yang dimiliki hanya sekitar 30 menit setelah gempa terjadi,” katanya.

Kepala BMKG tersebut menjelaskan, skenario yang dimaksudkan adalah masih bersifat potensi artinya kemugkinan bisa kapan saja terjadi atau malah tidak terjadi sama sekali. Namun, seklai lagi ia tegaskan untuk pemerintah dan masyarakat sekitar harus sudah siap dengan skenario terburuk itu sehingga meminimalisir korban berjatuhan.

“Jadi kami mengimbau seperti ini bukan bermaksud untuk menakut-nakuti. Tidak sama sekali. Skenario ini dibuat bertujuan agar masyarakat dan pemerintah daerah akan terlatih jika sewaktu-waktu bencana alam itu datang. Sehingga tidak ada istilah gugup atau gagap saat bencana alam itu datang. Dengan begitu mayarakat dan pemerintah sudah sigap siaga bencana dan tahu langkah apa saja yang harus dilaksanakan dengan waktu yang sangat terbatas itu,” ujar Dwikorita.

Ia juga menegaskan bahwa, hingga pada saat ini belum ada teknologi atau satu pun negara di belahan dunia lainnya yang dapat memprediksikan dengan tepat kapan terjadinya gempa dan tsunami dengan akurat dan tepat. Maksudnya lengkap dengan perkiraan tanggal, jam, lokasi, dan magnitudo gempa. Semuanya masih berupa bentuk kajian yang diolah berdasarkan sejarah pada wilayah itu sendiri di masa lampau.

BMKG juga meminta dan merekomendasikan kepada pemerintah daerah untuk siap menghadapi segala bentuk bencana alam dan memperbanyak jalur-jalur untuk evakuasi dengan lengkap sesuai dengan rambu-rambu dari menuju zona merah sampai dengan zona hijau.

Beberapa Wilayah yang Terancam Terjadinya Tsunami Besar

Beberapa Wilayah yang Terancam Terjadinya Tsunami Besar

Wilayah yang berpotensi terjadinya tsunami besar setinggi 20 meter yang bisa terjadi di pesisir selatan Pulau Jawa hingga Selat Sunda, itu semua berpeluang juga dampaknya hingga ke pesisir utara seperti daerah DKI Jakarta, Banten dan sekitarnya.

Menurut Heri Andreas yang merupakan Kepala Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan data dari Global Navigation Satellite System (GNSS) yang melaporkan terdapat akumulasi energi di bagian wilayah Selat Sunda sampai ke Pelabuhan Ratu. Daerah lain yang disebutkan juga ada seperti Parangtritis dan Pantai Jawa Timur di bagian Selatan.

gempa yang akan terjadi diperkirakan berkekuatan magnitudo 8,7 hingga 9,0 dengan potensi terjadinya tsunami setinggi 20 meter. Sementara di DKI Jakarta Sendiri, gelombang tsunami air laut diprediksi mencapai 1 hingga 2 meter. Hal ini lebih kecil jika dibandingkan dengan perkiraan tsunami yang berada di Pantai Jawa Timur bagian Selatan.

Maka dari itu, Dwikorita meminta kepada masyarakat yang tinggal di daerah yang rawan akan bencana alam seperti di pesisir pantai untuk segera berlatih melakukan evakuasi mandiri appabila merasakan getaran yang disebabkan oleh gempa bumi tanpa harus menunggu instruksi atau peringatan dini lagi dari BMKG.

“Kita semua harus belajar dari pengalaman, tak perlu menunggu peringatan dini tsunami dari BMKG. Begitu merasakan goncangan baik kecil ataupun besar yang dirasakan oleh tanah atau gempa, segeralah berlari. Jauhi pantai dan berpindah ke tempat yang lebih tinggi atau bukit-bukit,” imbuh Dwikorita.

[TRENDING] Gempa Bumi Pada 15 September, Getarkan Tanah Air Hingga 6 Kali

Gempa Bumi Pada 15 September, Getarkan Tanah Air Hingga 6 Kali

Gempa bumi yang menggetarkan Tanah Air kembali terjadi pada Rabu, 15 September 2021 dan terjadi sampai pukul 20.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). Ada 6 kali getaran yang dirasakan oelh masyarakat Indonesia. Informasi ini seperti yang dikutip pada laman resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) atau www.bmkg.go.id.

Gempa Bumi Pada 15 September, Getarkan Tanah Air Hingga 6 Kali

Getaran yang pertama kali terjadi di wilayah Sinabang, Provinsi Aceh dengan kekuatan magnitudo 5,6 terjadi pada pukul 03.13 WIB. Kemudian, wilayah lain seperti Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara juga terjadi gempa 3 kali. Gempa pertama dengan kedalaman 4 Km dan berkekuatan magnitudo 2,9 terjadi pada pukul 03.58 WIB. Kemudian disusul kembali terjadi pada pukul 05.55 WIB dan 15.56 WIB.

Berikut rincian informasi terjadinya gempa bumi di Tanah Air menurut data resmi dari BMKG.

Kecamatan Sinabang

Gempa yang terjadi di wilayah Sinabang, Provinsi Aceh ini terjadi pada pukul 03.13 WIB. Gempa tersebut berkekuatan magnitudo 5,6 dan kedalamannya mencapai 10 Km dengan pusat gempa berada pada titik 125 Km barat laut Sinabang, Aceh.

Kecamatan Maba

Kecamatan Maba terletak di Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara dilanda gempa dengan 3 kali getaran yang terjadi. Getaran yang pertama berkekuatan magnitudo 2,9 dan kedalaman mencapai 4 Km terjadi pada pukul 03.58 WIB.

Diketahui Episenter gempa berada pada titik koordinat 1.12 Lintang Utara (LU)-128.15 Bujur Timur (BT) dan pusat gempa berada di darat 51 Km Barat Laut (BL) Maba. Menurut data BMKG, getaran dirasakan MMI (Modified Mercalli Intensity) II-III di Subaim.

Kemudian gempa yang kedua terjadi lagi dengan kedalaman 4 Km dan berkekuatan mencapai magnitudo 3,2. Dengan pusat gempa berada di darat 46 Km Barat Laut (BL) Maba. Episenter gempa berada pada titik koordinat 1.08 Lintang Utara (LU)-128.2 Bujur Timur (BT). BMKG menyebutkan bahwa getaran dirasakan MMI (Modified Mercalli Intensity) II-III di Subaim.

Kemudian gempa terakhir di Kecamatan Maba terjadi pada sore hari pukul 15.56 WIB dengan kekuatan magnitudo 3,7 dan kedalaman mencapai 7 Km. Diketahui pusat gempa berada di laut 57 Km Barat Laut (Maba) dan BMKG menyatakan, getaran yang dirasakan MMI (Modified Mercalli Intensity) III di Subaim. Episenter gempa berada pada titik koordinat 1.15 Lintang Utara (LU)-128.09 Bujur Timur (BT).

Kabupaten Boalemo

Gempa bumi juga dirasakan di wilayah Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo pada pagi hari pukul 07.49 WIB. Diketahui gempa tersebut berkekuatan magnitudo 5,4 dengan pusat gempa berada di laut 85 Km Barat Laut (BL) Boalemo. Kedalaman gempa mencapai 20 Km. BMKG menyatakan, getaran yang dirasakan MMI (Modified Mercalli Intensity) II di Manado, Bone Bolango, Gorontalo, dan Toli-toli. Lalu MMI II-III di Buol serta MMI III di Boalemo.

Kabupaten Halmahera Timur

Gempa terakhir di Tanah Air juga dirasakan di Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara yang terjadi pada pukul 04.03 WIB. Diketahui pusat gempa berada di darat 41 Km Barat Daya (BD) Halmahera Timur. BMKG menyebutkan, bahwa getaran yang dirasakan MMI (Modified Mercalli Intensity) II-III di Subaim. Episenter gempa berada pada titik koordinat 1.11 Lintang Utara (LU)-128.17 Bujur Timur (BT) dengan magnitudo 3,9 dan kedalaman 5 Km.

Baca juga: Filipina dilanda Bencana Topan Conson, Sejumlah Bangunan Rusak Parah

Antisipasi Terjadinya Gempa Bumi

Antisipasi Terjadinya Gempa Bumi

Sebelum Terjadi Gempa Bumi:

– Pastikan bahwa struktur tanah dan letak rumah Anda aman dari bahaya yang disebabkan oleh bencana alam seperti longsor, gempa bumi, gunung meletus dan lain-lain. Renovasi kembali struktur bangunan tempat tinggal Andaagar bisa terhindar dan meminimalisir resiko bila terjadinya gempa bumi.

– Kenalilah lingkungan tempat Anda bekerja apakah letak pintunya untuk keluar masuknya mudah untuk diakses, lift aatau tangga darurat. Pastikan ada ruang aman untuk berlindung bila terjadi bahaya atau hal-hal yang tidak diinginkan.

– Belajar sedini mungkin untuk berlatih melakukan Pertolongan Pertama Pada kecelakaan (P3K) dan alat pemadam kebakaran.

– Catat nomor-nomor penting yang bisa dihubungi dengan pihak yang berkaitan bila terjadinya bencana alam gempa bumi.

– Atur perabotan agar menempel kuat di dinding dan tempat yang aman namun mudah di jangkau baik yang berada di rumah maupun di kantor untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti jatuh, roboh, dan bergeser pada saat terjadinya gempa.

– Jika terdapat barang-barang yang berat, usahakan di letakkan di bagian paling bawah. Cek keseimbangan benda-benda yang bergantung di ruangan yang sewaktu-waktu dapat mudah jatuh bila terjadi gempa bumi.

– Simpan bahan-bahan yang mudah terbakar di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan anak-anak, untuk menghindari agar tidak mudah pecah dan terjadinya kebakaran.

– Biasakan diri untuk selalu mematikan air, listrik, gas dan benda-benda lain yang menggunakan energi listrik bila sudah tidak digunakan.

– Kotak P3K, senter/lampu baterai, makanan dan air harus diletakkan yang seharusnya.

Setelah Terjadi Gempa Bumi:

– Jika posisi Anda setelah terjadinya gempa bumi berada di dalam bangunan yang tingi seperti gedung, keluarlah dari bangunan tersebut dengan tertib dan teratur. Jangan menggunakan lift atau eskalator, gunakanlah tangga darurat. Bila ada yang terluka, lakukanlah P3K dan telepon pihak terkait untuk meminta bantuan jika luka yang dialaminya serius.

– Selalu periksa kembali keadaan sekitar, bila terjadi kebakaran, kebocoran gas, terjadinya hubungan arus pendek listrik, aliran pipa air dan lain sebagainya.

– Jangan memasuki bangunan yang sudah roboh akibat gempa karena kemungkinan bisa terjadi reruntuhan yang terdapat di dalam bangunan tersebut dan jangan sesekali berjalan datau mendekati daerah sekitaran gempa, karena ada kemungkinan gempa susulan akan terjadi. lebih baik berhati-hatilah dan cari tempat untuk berlindung yang aman.

– Selalu perbaharui informasi mengenai gempa bumi dari sumber terpercaya dan mudah terpancing dengan berita-berita palsu.

– Mengisi formulir angket yang diberikan oleh pihak terkait untuk mengetahui seberapa berat kerusakan suatu bangunan yang dialami.

– Ini yang paling penting yakni jangan membuat panik sehingga tidak semua orang ketularan panik dan sellau berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa demi keselamatan dan keamanan kita semua.

Filipina dilanda Bencana Topan Conson, Sejumlah Bangunan Rusak Parah

Filipina dilanda Bencana Topan Conson, Sejumlah Bangunan Rusak Parah

Tepatnya pada hari Selasa tanggal 7 September 2021, badai yang sangat kuat menghantam sejumlah wilayah di Filipina Timur. Aangin yang berkekuatan sangat besar tersebut menghantam beberapa bangunan hingga usak parah dan menyebabkan pemadaman listrik di sebagian provinsi tersebut.

Filipina dilanda Bencana Topan Conson, Sejumlah Bangunan Rusak Parah

Angin topan itu bernama Topan Conson yang membawa angin berkecapatan hingga 120 kilometer per jam dengan hembusan anginnya mencapai 150 kilometer per jam. Diketahui angin topan tersebut mendarat pertama kali di daerah kota pesisir Hernani yang mmerupakan provinsi Samar Timur. Sebelumnya menghantam provinsi Samar dekat wilayahnya pada Selasa pagi menurut dinas layanan cuaca negara itu. Hingga Rabu pagi, arah mata angin topan itu berada di sekitar kota Dimasalang, provinsi Masbate.

Baca artikel lainnya: Apa itu Tanah Longsor dan Bagaimana Proses Terjadinya?

Filipina Merupakan Salah Satu Negara di Dunia yang Rawan Terjadi Bencana Alam

Filipina Merupakan Salah Satu Negara di Dunia yang Rawan Terjadinya Bencana Alam

“Terima kasih Tuhan Sang Maha Baik, kami di sini hanya mengalami kerusakan kecil,” kata Ben Evardone Gubernur Samar Timur. Ia juga menambahkan bahwa seluruh kantor-kantor pemerintahan ditutup untuk sementara waktu, mengingat bencana alam angin topan Conson masih dapat terjadi di sejumlah wilayah di Filipina.

Pengelola listrik negara Filipina, National Grid Corporation of the Phipippines (NGCP) menyebutkan bahwa sebagian jalur transmisi listrik terdampak angin topan tersebut. Dilaporkan untuk pemadaman listrik terjadi di beberapa wilayah seperti Samar, Samar Timur dan Leyte. Beberapa pejabat setempat juga melaporkan telah terjadinya banjir di sejumlah titik di Kota Tacloban.

Dinas Layanan Cuaca Filipina memeperingatkan bahwa kemungkinan datangnya angin topan tersebut yang merusak dan hujan lebat dalam waktu kurang dari 18 jam di beberapa wilayah di 7 provinsi, termasuk Quezon, Masbate, Albay dan Samar, yang berada di bawah peringatan topan tingkat tiga dari skala sistem lima tingkat. Di wilayah pusat ibu kota Filipina, yakni Manila berada di bawah peringatan topan tingkat satu. Artinya angin topan yang berkekuatan kencang tersebut diperkirakan akan terjadi dalam 36 jam ke depan. Angin Topan Conson diperkirakan akan melemah menjadi badai siklus tropis pada hari Rabu dan Kamis pagi waktu setempat.

Selain 20 topan dan badai melanda Filipina untuk setiap tahunnya, hujan lebat musiman pun sering terjadi di negara ini. Dikarenakan negara Filipina merupakan wilayah yang terletak pada “Cincin Api Pasifik“, gempa bumi, tsunami dan gunung meletus menjadikannya salah satu negara di dunia yang paling rawan terdampak bencana alam.