347 Tahun yang Lalu, Gempa Bumi dan Mega Tsunami Meluluhlantahkan Bumi Maluku

347 Tahun yang Lalu, Gempa Bumi dan Mega Tsunami Meluluhlantahkan Bumi Maluku

 

Sejarah mencatat Gempa dan Mega Tsunami yang pernah melanda wilayah Maluku pada tahun 1674 silam meluluhlantahkan bumi Maluku waktu itu. Pusat kejadian tersebut yang kita kenal sekarang ialah Ambon, merupakan salah satu bencana alam terbesar sepanjang sejarah umat manusia di Indonesia yang menyelimuti perjalanan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda di Nusantara.

Sekadar informasi, VOC singkatan dari Vereenigde Oostindische Compagnie yang berdiri sejak tanggal 20 Maret 1602. VOC merupakan kongsi dagang terbesar milik Belanda dan berpusat di Nusantara untuk menyatukan perdagangan rempah-rempah dari wilayah timur dalam memperkokoh sebuah kedudukan Belanda di Indonesia pada masa itu.

347 Tahun yang Lalu, Gempa Bumi dan Mega Tsunami Meluluhlantahkan Bumi Maluku

Ignatius Ryan Pranantyo & Phil R. Cummins menulis dalam jurnalnya yang dimuat pada SpringerLink berjudul “The 1674 Ambon Tsunami: Extreme Run-Up Caused by an Earthquake-Triggered Landslide” pada tahun 2019 tentang bencana besar yang terjadi di Ambon, Indonesia.

“Beberapa menit sebelum terjadiperistiwa yang sangat besar itu, lonceng-lonceng besar yang berada di Kastil Victoria berdentang dan mengeluarkan bunyi dengan sendirinya.” tulis Pranantyo dan Cummins. Tak seorang pun yang bisa menduga akan terjadi sesuatu yang sangat dahsyat itu akan terjadi. Saat kejadian itu, banyak di antara orang-orang berjatuhan ketika tanah bergerak mengombak naik turun seperti ombak di lautan lepas.

“Kali pertama gempa yang dirasakan dengan guncangan dahsyat dari dalam tanah di wilayah Ambon. Banyak sebagian bangunan dan rumah warga hancur berantakan dan menjadi rata dengan tanah” tulis Georg Everhard Rumphius dalam laporannya yang tersusun rapi di dalam Perpustakaan Rumphius yang terletak di Katedral St. Fransiskus Xaverius, Ambon.

Baca Juga: Apa itu Tanah Longsor dan Bagaimana Proses Terjadinya?

Gempa dan Tsunami di Ambon Tercatat Rapi di Laporan UNESCO

Gempa dan Tsunami di Ambon Tercatat Rapi di Laporan UNESCO

Laporan Rumphius tersebut terangkum juga di dalam website resmi IOC UNESCO yang berjudul Summary notes of Georg Everhard RUMPHIUS, yang ditranslasikan dari laporan aslinya yang berbahasa Belanda oleh E.M. Beekman and F.Foss pada tahun 1997.

“Seluruh wwilayah di Provinsi tersebut yaitu Seram, Hitu, Nusatelo, Leytimor, Buro, Amblau, Oma, Bonoa, Kelang, Manipa, Honimoa, Nusalaut, dan wilayah lain yang berada di sekitarnya, merasakan getaran dan guncangan yang amat begitu kencang dan mengerikan. Sehingga banyak orang-orang yang meyakinkan bahwa hari itu ialah Hari Kiamat yang sudah tiba bagi mereka” tulisnya.

Sebagian tempat di wilayah yang terdampak bencana alam tersebut menjadi sangat rusak parah. “Di wilayah Leitimor dan Semenanjung Hitu, banyak tempat yang terjadi tanah retak dan juga banyak terjadi bekas longsoran akibat peristiwa naas yang sangat kuat di Pegunungan Manuzau dan Wawani” tulis UNESCO dalam laporan dengan judul Air Turun Naik di Tiga Negeri Mengingat Tsunami Ambon 1950, yang diterbitkan pada tahun 2016.

Pasca guncangan yang dahsyat itu, mulailah muncul gelombang pasang yang kecil di daerah perairan Teluk Ambon. Gelombang tersebut datang dan menarik mundur kembali yang dijumpainya di daratan sebanyak lebih dari tiga kali. Air yang naik dengan ketinggian 5 sampai dengan 6 kaki, dan beberapa sumur air milik warga yang sangat dalam bisa terisi begitu dengan cepat. Sehingga orang-orang bisa menjangkau dan mengambil air dengan tangan tanpa perlu alat bantuan. Semnetara, pada berikutnya sumur itu kosong lagi tidak terisi oleh air.

“Pantai timur di Sungai Waytomme mulai terbelah dan air menyembur ke segala arah dengan ketinggian sekitar 18 hingga 20 kaki. Melemparkan pasir berlumpur biru yang diyakini oleh kebanyakan orang hanya bisa ditemukan pada kedalaman laut 2 hingga 3 depa” lanjutnya.

“Gempa yang begitu dahsyat tersebut diikuti oleh mega tsunami yang super besar dengan ketinggian mencapai 100 meter yang hanya bisa diamati di pantai utara di Pulau Ambon” tulis Cummins dan Panantyo.

“Semua orang berlarian ke tempat yang lebih tinggi agar bisa menyelamatkan diri, di mana mereka bertemu dengan sang Gubernur, kompi besar dan jajarannya. Mereka disana mulai memimpin majelis dan ibadah dengan berdoa di bawah langit yang cerah, berharap ada mukjizat untuk menyelamatkan mereka semua”. tambah Rumphius.

Suara dentuman seperti tembakan meriam yang jauh terus di dengar oleh orang-orang. Sebagian besar terdengar dari arah Utara dan Barat Laut, yang menunjukkan bahwa beberapa gunung mungkin akan meletus atau setidaknya runtuh satu per satu.

“Akibat dari bencana alam tersebut, banyak orang yang meninggal dunia. Kerusakan yang dialami terus diberitakan dari tempat ke tempat, diperkirakan ada sekitar 2.243 jiwa masyarakat asli Indonesia dan diantaranya mencakup sekitar 31 orang Eropa. Dengan total keseluruhan mencapai 2.322 jiwa korban” ujar Rumphius dalam menutup laporannya.